Pertemuan
Oleh : Nok Yuli Yuhalini
Oleh : Nok Yuli Yuhalini
Sejatinya, Dunia memang selebar daun kelor. Jarak antara Linkou Distrik menuju Wangxi Elementary Shcool. Memang terlihat dekat ketika jemari ini mencarinya dari Google Map.
Menyusuri jalan setapak di bawah rintik hujan, menanyakan kepada warga lokal sambil menunjukan alamat yang tertera di layar inbok facebookku. Ah ... 'sungguh bagaikan mandi air garam dengan tubuh yang penuh luka' bagaimana tidak.? saya ini orang baik-baik hanya sekedar bertanya, banyak di antara pejalan lokal memilih melambaikan tangan dari bahasa tubuhnya sudah terbaca "Manusia itu sangat takut dengan orang yang baru dikenal" membatinku.
Masih teringat jelas, bagaimana Komunitas ISIS telah membuat Warga Lokal ketakutan mereka bilang 'Muslim adalah Teroris" berita itu menyebar di medsos, acara TV, radio, bahkan media cetak berbentuk koran sekalipun. Tertindas.
TETAPI saya tegaskan "SAYA BUKAN TERORIS" Hijab adalah cara islam berpakaian, maka jangan pernah takut untuk berhijab. Apapun masalalu. Berhijab jalan terbaik menenangkan hati. Pakai Jilbab di tubuhmu dengan Hijab pelengkapmu, maka ahlak kepribadian hati akan mengikutinya dengan hijab kita.
Jadi STOP berbicara "Perbaiki dulu akhlaknya baru Hijabnya" Itu bukan sebuah jawaban, Karena Orang islam terhindar dari satu kata "Alasan"
Yuk perbaiki diri ...!!!
***
Di balik kaca mobil, saat aku menemukan Bus No.241 jarak tertulis ke tempat tujuan memakan satu jam perjalanan. Ku tanyakan kembali kepada Pak supir yang berbaik hati sambil menyodorkan Hape jadulku bergambar alamat tujuan.
"Cing wen, cing kuo Wangxi Guo xiao ma?" ( saya bertanya, apakah melewati sekolah Dasar Wangxi kah?)
Pak Supir pun menjawab dengan ramah beda sekali dengan warga di jalanan yang beberapa menit lalu aku bertanya. "Tui a, Ching sang cher" (Benar, silahkan masuk dan mencari tempat duduk), aku pun telah mendamaikan hatiku, kulihat si Hitam yang telah seharian menemani perjalananku, ada rasa jengkel, berdebat. Namun perselihan itu terganti dengan mengabaikankan, bahwa si Hitam jauh lebih memiliki kelebihan yang super hebat yang patut aku syukuri.
Merogoh tas kreditku, kulihat si Putih dan membuka bagian inbok.
"Saya di dalam Bus" mengirim pesan kepada tanteku. Setelah sampai di lokasi aku akan mengirimkan inbok lagi.
Lalu kulihat si Hitam sedang menggeser-geser mainan setianya, secara refleks aku merebahkan kepalaku di pundaknya dan berkata "Terima kasih sudah menemaniku" kucoba tertelap ingin bermimpi. Tetapi tidak bisa.
Belum genap satu jam, skisar tigapulu (30) menit. Aku berada lebih beberapa kilo dari Wangxi Guo Xiao. Aku turun menunggu lampu merah padam berganti lampu hijau dan seperti yang sudah saya lihat di Google ada Gambar toko Seven Eleven akupun menunggunya di sini.
Dari kejauhan walau hampir tiga (3) tahun belum pernah bertemu. Masih aku hafal bagian-bagian keluarga besarku. yang Semakin tahun semakin bertambah usianya.
"Hi ... Hi ...!! sapanya.
"Akupun melambaikan tangan suatu pertemuan.
"Akupun melambaikan tangan suatu pertemuan.
Sambil menungu Trafik Lampu menjadi Warna Hijau.
***
Obrolan singkat, tak terasa waktu menyudahi obrolan kita. sedangkan si Hitam, kelelahan bobo manis di sampingku.
Akhirnya sebuah pamitan di akhir kisah pertemuan ini. Semoga akan bertemu di lain waktu. Assalamualaikum pamitku.
Ku injak air gerimis menggenang di hamparan tanah. Dengan pandangan ke depan. "Allah yang akan menemukan kita di lain kesempatan, keadaan dan sebuah sikon (Situasi dan Kondisi)
New Taipei City, 11 Januari 2016 (23:06)


No comments:
Post a Comment