Anak Kaya Beliau menjadi Pembantu
Oleh : Nok Yuli Yuhalini
Oleh : Nok Yuli Yuhalini
Terdapat, sepasang Suami Istri, membangun biduk rumah tangga, getirnya kehidupan mereka lalui bersama. Gaji Rp10.000,- perhari bekerja sebagai tukang cuci baju milik tetangga yang membutuhkan jasanya atau iba melihat keadaan mereka.
Sedangkan sang suami pekerja buruh kuli pecabut rumput milik juragan kaya raya bergelimang harta yang tak pernah mau berbagi hanya Rp500,- recehan. Maklum berdarah cina.
Mereka memiliki anak semata wayang bernama Rindu. Dia anak yang baik, penurut, rajin ibadah dan taat pada orangtua semasa kecilnya. Apa yang ia minta orangtuanya berusaha keras untuk membiayai kebutuhannya. Tak elak ketika sang Bapak memarahinya.
"Sudahlah pak Rindu masih anak-anak" bela Sang Ibu ketika Rindu melakukan kesalahan
"Ibu selalu membelanya mau jadi apa dia nanti kalau sudah dewasa atau ibu pingin dia menjadi kuli seperti kita" Amarahnya membuncah deretan piring Alumunium telah menjadi alunan musik indahnya.
Keduanya, berpelukan antara Rindu dan sang Ibu "Sudah Nduk jangan membantah apa kata Bapak. Bapak sayang sama kita." nasehat sang ibu.
***
Hening, kumandang Subuh membangunkan mereka ... lalu ketika menggedor daun Pintu mengajak seisi rumah untuk berjamaah.
"Bapaaaaaaak" Teriak Ibu ketika melihat isi kamar anaknya.
"Rin .....!"
Sepucuk surat ia tinggalkan di atas meja tua di sudut ranjang bambunya.
***
Seperti biasa, seminggu berlalu, pergantian tahun menjemput usianya yang semakin renta, Doa seorang ibu tak pernah putus memendam rindu sesuai anaknya bernama R.i.n.d.u
"Cepat pulang Nduk, tidak berasakah hatimu mengingat kami orangtuamu" membatin rasa haru kepada anaknya yang entah di mana.
"Ibu kini hanya sendiri, berteman gubuk tua peninggalan bapak. Bapak sampai sakit kena hujan dan menerjang badai beserta halilintar demi mencarimu sampai ia mengehempuskan nafasnya, semua demi kamu." ia pun terlelap dalam tidur. Di atas tikar yang tak layak, bangun rumah yang sudah bocor sana-sini jika musim penghujan rumah sudah tidak pantas di anggap rumah, lebih pantas bagaikan kandang bebek penuh akan lumpur.
Tetapi enggan membuatnya beranjak, walau pak Kades dan pak Lurah menyuruh beliau untuk beranjak ke rumah yang telah di bangun khusus oleh pemerintah guna di tempatkan seperti Ibu, Dijah.
Rasa sayang beliau, kepada Rindu. Ia enggan pindah, sebab dalam benaknya Rindu akan kembali. Memenuhi janjinya. dalam surat itu.
Tetapi enggan membuatnya beranjak, walau pak Kades dan pak Lurah menyuruh beliau untuk beranjak ke rumah yang telah di bangun khusus oleh pemerintah guna di tempatkan seperti Ibu, Dijah.
Rasa sayang beliau, kepada Rindu. Ia enggan pindah, sebab dalam benaknya Rindu akan kembali. Memenuhi janjinya. dalam surat itu.
Bapak, Ibu
Maafkan aku yang telah diam-diam
Meningalkan jejak melalui jendela kayu
Kutinggal kalian di tengah nyeyak malam
Aku pergi untuk kembali
Bukan untuk sehari dua hari
Tapi entah sampai kapan aku tak dapat memastikan diri
Tentunya, ketika aku berada di sini keadaan telah berganti
Sayang bapak kepadaku terlalu keras
Hingga aku tak bisa bergerak bebas
Mengikuti kreatifitas
Yang tersembunyi tetap membekas
Ibu bidadarimu
Beranjak dewasa
Tanpa Engkau sadari kini aku berada di luar rumah
Tanpa permisi dan pamit; aku anak durhaka
***
"Mas, bolehkah adek meminta sesuatu?" Utaranya kepada suami tercinta
"Boleh sayang, silahkan katakan. !"
"Selama ini segala apa yang adek pinta mas selalu berusaha memenuhi" ujarnya
"Lalu, apa yang menyiksa batinmu sayang?" sambil mengelus lembut rambut indah milik istrinya selama Limabelas (15) Tahun terahir menemaninya.
"Adek ingin pergi berlibur tapi tidak mengikut sertakan seisi rumah, hanya adek sendirian bolehkah mas?" Dengan deru nafas bagai ambulan membawa pasien yang harus segera dirawat di ruang gawat darurat. Mendegup kencang sekali.
"Bolehkah Mas tau sayang hendak kemana?" tanya suami menyeledik.
Sang Istri, menahan rasa dalam benak jiwanya yang diiringi kesalahan teramat besar, sekian waktu sudah ia tingalkan tanpa kabar, surat atau pun telpon kepada sang bunda di kampung halaman. Di mana Desa itu yang telah mengajarinya arti moral simbolis kehidupan.
Bapak ...
Ibu ...
Aku akan kembali ...
"Sayang bangun ... sayang bangun ....!" menggugah sang istri dalam mimpi buruknya.
"Mas ..." cup ... cup ... cup sudah sudah jangan menangis, cubit manja dari sang suami.
"Sayang boleh kok pergi berlibur, tapi ingat jaga diri baik-baik, biarkan Putra dan Putri kita bibi Inem yang mengurus. Jangan lupa untuk terus mengirim messenger, BBM, Line, dan Kontak ke Mas iya" pesannya tanpa meninggalkan jejak penasaran.
"Iya mas terima kasih."
"Bobo sayang besok harus perjalanan kan?" tanyanya.
Laju roda Empat (4) menyusuri pelosok-pelosok yang dulu ia lewati saat bermain bersama teman-teman sebaya walau dirinya sudah mengubah kehidupan lusuh dan Miskin membuat dirinya malu mengakui siapa sejatinya, kehidupannya kini hanyalah sebuah Dongeng yang tidak hanya di layar kaca, sinetron. Tetapi kehidupan dongeng itu terjadi kepada Rindu. ya Rindu gadis ayu semata wayang bernama Rindu. anak dari Bapak Darman dan Ibu Dijah. Dia anak yang baik, penurut, rajin ibadah dan taat pada orangtua semasa kecilnya. tetapi kehidupan Kota Metropolitan menyulap dirinya dan enggan mengakui dirinya sendiri di hadapan keluarga sang suami, yang kaya raya. pada masa itu entah apa yang ada di benak rindu, Sekarang nama Rindu telah mengubur dalam-dalam menjadikan nama baru yaitu Cinta. Sesuai Maknanya Cinta yang di kelilingi banyak pemuda-pemudi yang menjerumuskan dirinya ke kubangan kupu-kupu malam.
Hingga pada suatu hari, Duda kaya menariknya dengan memperistri hingga hari ini, pernikahan sah. Kantor Urusan Agama, di bawah wali hukum. Keduanya hidup bahagia dan melahirkan anak-anak yang cerdas, Pihak suami tidak pernah menanyakan kisah masalalunya dan siapakah Rindu alias Cinta sebenarnya. Yang ada hanya Rindu mampu menjadi Istri yang baik. Dan pandai mengurus anak-anak.
Pada akhirnya kegelisahan menerawang jelas, sejengkal memasuki Gang-gang kecil dengan sedan melaju lahan, ia menengok ke kanan dan ke kiri memperhatikan bangunan rumah yang sungguh terlihat berbeda pada masa kecilnya dulu, tepat di gang buntu, mobilnya berhenti. Terlihat tidak ada perubahan sama sekali tataan rapi pot-pot kecil dengan bunga mawar yang begitu indah terawat rapi.
"Alhamdulillah ibu masih merawat untukku" tak sengaja airmatanya menjatuhi baju modis berwarna hijau muda yang begitu anggun. Banyak tetangga berlalu lalang memperhatikan dirinya. Sedangkan Rindu tak menghiraukan mereka, ia masih asik dengan sentuhan lembut sesekali memutarkan tubuhnya meraih kuncupan mawar yang jauh dari jangkauan tangannya.
"Rin ... d ... u ... !" suara tak asing milik bundanya mencoba memanggil dirinya
Menoleh ke arah suara, ingin sekali merangkul dan membelajai serta sujud di kakinya, namun kaki enggan bergerak.
"Itukah kamu Nduk? Rindu maafkan Ibu, pandangan ibu sudah tidak lagi setajam dulu tapi ibu yakin dengan caramu memainkan kelopak mawar itu adalah kamu."
"Ibu ... ibu ..." Rindu segera berlari menujunya ia memeluk erat dengan rasa kangen yang selama ini terpedam, membuncah pertemuan anak dan Ibu setelah belasan tahun.
Hanya mereka berdua, kini tersisah. Para tetangga sudah meninggalkan mereka menjelang gelapnya malam, rumah ini hanya bersinar lampu minyak tanah. Terjelas kisah hidup era 80-an. Namun ibu masih menikmatinya.
"Ibu kenapa tidak pasang listrik?" tanyanya
"Listrik telah di cabut oleh pemiliknya karena ibu sudah tidak mampu membayar tagihannya, setelah bapak meninggal"
"apa?"
"Iya, Bapak meningal hampir Lima (5) tahun. Ia tak pernah putus asa mencarimu, kemana saja kamu Nduk?" isak tangis tercekat di radang tenggorokannya, ia tak mampu lagi mengeluarkan kata-kata.
"Maafkan Rindu ibu, aku kembali ingin menengok Ibu. lalu ...!"
"Bawa Ibu ikut bersamamu Nduk, ibu mohon jangan tinggalkan ibu, ibu butuh kamu. menemani sisah senja ibu. Boleh iya nduk." memelas.
Memegang erat jemari sang bunda, Ibu mengertilah ... perlahan melepaskan genggaman erat milik tangan yang menyuapinya dulu. Aku tidak bisa membawa tinggal bersama kami.
"Kami? apa maksudmu Nduk?"
"Ya kami, aku telah berkeluarga, selama ini aku tidak pernah menceritakan siapa asal-usulku. Termasuk ibu. Mengertilah."
Ibu hanya terdiam, bagaimanapun sang bunda tidak mampu marah, ia berusaha sabar menunggu jawaban sang anak, akan ia membawa ikut serta atau meninggalkan kembali hingga tanah menjemputnya di kediaman terahir.
***
"Mas, adek pulang, coba lihat adek bawa siapa?"
"Siapa sayang? kita ngambil pembantu baru lagi? ya sudah nanti suruh ikut sekamar sama Bi Inem"
Rindu hanya menatap sang bunda, dalam tatapan kosong antara tega dan iba. Ibunya menjadi Pembantu dalam kekayaan anak semata wayangnya. Dongeng telah melumpuhkan total naluri sesungguhnya.
"Tidak apa Ndoro Putri, tolong antarkan saya ke kamar yang tuju, permisi Tuan"
"Iya ati-ati ya Bu, siapa tadi namanya? Dijah Tuan nama saya."
***
Cinta hanya melamun setelah ibunya tinggal bersama mereka, sedangkan sang ibu begitu amat terlihat bahagia dengan cucunya, walau sebenarnya ingin ia katakan kepada sang suami siapa pembantu dirumah ini sesungguhnya.
Suaminya memperlakukan begitu sangat ramah, tapi ia ingat akan almarhum perkataan mertuanya dulu. "Ia tak sudi memiliki besan orang Miskin, makanya pas acara Nikahan dulu. Ia menyewa seseorang sebagai jalan menuju kelancaraan hidupnya sekarang."
Biarkan kisah ini berjalan dan berahir seperti apa, walau Ia bekerja sebagai Pembantu di rumahku tetap kami memiliki rasa hormat kepada walau sejatinya tidak ada seorangpun yang tahu. Tentang Rindu, Cinta dan Bu Dijah.
The End ...
New Taipei City, 20 Januari 2016 (08:15)
Biodata penulis
"Mas, bolehkah adek meminta sesuatu?" Utaranya kepada suami tercinta
"Boleh sayang, silahkan katakan. !"
"Selama ini segala apa yang adek pinta mas selalu berusaha memenuhi" ujarnya
"Lalu, apa yang menyiksa batinmu sayang?" sambil mengelus lembut rambut indah milik istrinya selama Limabelas (15) Tahun terahir menemaninya.
"Adek ingin pergi berlibur tapi tidak mengikut sertakan seisi rumah, hanya adek sendirian bolehkah mas?" Dengan deru nafas bagai ambulan membawa pasien yang harus segera dirawat di ruang gawat darurat. Mendegup kencang sekali.
"Bolehkah Mas tau sayang hendak kemana?" tanya suami menyeledik.
Sang Istri, menahan rasa dalam benak jiwanya yang diiringi kesalahan teramat besar, sekian waktu sudah ia tingalkan tanpa kabar, surat atau pun telpon kepada sang bunda di kampung halaman. Di mana Desa itu yang telah mengajarinya arti moral simbolis kehidupan.
Bapak ...
Ibu ...
Aku akan kembali ...
"Sayang bangun ... sayang bangun ....!" menggugah sang istri dalam mimpi buruknya.
"Mas ..." cup ... cup ... cup sudah sudah jangan menangis, cubit manja dari sang suami.
"Sayang boleh kok pergi berlibur, tapi ingat jaga diri baik-baik, biarkan Putra dan Putri kita bibi Inem yang mengurus. Jangan lupa untuk terus mengirim messenger, BBM, Line, dan Kontak ke Mas iya" pesannya tanpa meninggalkan jejak penasaran.
"Iya mas terima kasih."
"Bobo sayang besok harus perjalanan kan?" tanyanya.
Laju roda Empat (4) menyusuri pelosok-pelosok yang dulu ia lewati saat bermain bersama teman-teman sebaya walau dirinya sudah mengubah kehidupan lusuh dan Miskin membuat dirinya malu mengakui siapa sejatinya, kehidupannya kini hanyalah sebuah Dongeng yang tidak hanya di layar kaca, sinetron. Tetapi kehidupan dongeng itu terjadi kepada Rindu. ya Rindu gadis ayu semata wayang bernama Rindu. anak dari Bapak Darman dan Ibu Dijah. Dia anak yang baik, penurut, rajin ibadah dan taat pada orangtua semasa kecilnya. tetapi kehidupan Kota Metropolitan menyulap dirinya dan enggan mengakui dirinya sendiri di hadapan keluarga sang suami, yang kaya raya. pada masa itu entah apa yang ada di benak rindu, Sekarang nama Rindu telah mengubur dalam-dalam menjadikan nama baru yaitu Cinta. Sesuai Maknanya Cinta yang di kelilingi banyak pemuda-pemudi yang menjerumuskan dirinya ke kubangan kupu-kupu malam.
Hingga pada suatu hari, Duda kaya menariknya dengan memperistri hingga hari ini, pernikahan sah. Kantor Urusan Agama, di bawah wali hukum. Keduanya hidup bahagia dan melahirkan anak-anak yang cerdas, Pihak suami tidak pernah menanyakan kisah masalalunya dan siapakah Rindu alias Cinta sebenarnya. Yang ada hanya Rindu mampu menjadi Istri yang baik. Dan pandai mengurus anak-anak.
Pada akhirnya kegelisahan menerawang jelas, sejengkal memasuki Gang-gang kecil dengan sedan melaju lahan, ia menengok ke kanan dan ke kiri memperhatikan bangunan rumah yang sungguh terlihat berbeda pada masa kecilnya dulu, tepat di gang buntu, mobilnya berhenti. Terlihat tidak ada perubahan sama sekali tataan rapi pot-pot kecil dengan bunga mawar yang begitu indah terawat rapi.
"Alhamdulillah ibu masih merawat untukku" tak sengaja airmatanya menjatuhi baju modis berwarna hijau muda yang begitu anggun. Banyak tetangga berlalu lalang memperhatikan dirinya. Sedangkan Rindu tak menghiraukan mereka, ia masih asik dengan sentuhan lembut sesekali memutarkan tubuhnya meraih kuncupan mawar yang jauh dari jangkauan tangannya.
"Rin ... d ... u ... !" suara tak asing milik bundanya mencoba memanggil dirinya
Menoleh ke arah suara, ingin sekali merangkul dan membelajai serta sujud di kakinya, namun kaki enggan bergerak.
"Itukah kamu Nduk? Rindu maafkan Ibu, pandangan ibu sudah tidak lagi setajam dulu tapi ibu yakin dengan caramu memainkan kelopak mawar itu adalah kamu."
"Ibu ... ibu ..." Rindu segera berlari menujunya ia memeluk erat dengan rasa kangen yang selama ini terpedam, membuncah pertemuan anak dan Ibu setelah belasan tahun.
Hanya mereka berdua, kini tersisah. Para tetangga sudah meninggalkan mereka menjelang gelapnya malam, rumah ini hanya bersinar lampu minyak tanah. Terjelas kisah hidup era 80-an. Namun ibu masih menikmatinya.
"Ibu kenapa tidak pasang listrik?" tanyanya
"Listrik telah di cabut oleh pemiliknya karena ibu sudah tidak mampu membayar tagihannya, setelah bapak meninggal"
"apa?"
"Iya, Bapak meningal hampir Lima (5) tahun. Ia tak pernah putus asa mencarimu, kemana saja kamu Nduk?" isak tangis tercekat di radang tenggorokannya, ia tak mampu lagi mengeluarkan kata-kata.
"Maafkan Rindu ibu, aku kembali ingin menengok Ibu. lalu ...!"
"Bawa Ibu ikut bersamamu Nduk, ibu mohon jangan tinggalkan ibu, ibu butuh kamu. menemani sisah senja ibu. Boleh iya nduk." memelas.
Memegang erat jemari sang bunda, Ibu mengertilah ... perlahan melepaskan genggaman erat milik tangan yang menyuapinya dulu. Aku tidak bisa membawa tinggal bersama kami.
"Kami? apa maksudmu Nduk?"
"Ya kami, aku telah berkeluarga, selama ini aku tidak pernah menceritakan siapa asal-usulku. Termasuk ibu. Mengertilah."
Ibu hanya terdiam, bagaimanapun sang bunda tidak mampu marah, ia berusaha sabar menunggu jawaban sang anak, akan ia membawa ikut serta atau meninggalkan kembali hingga tanah menjemputnya di kediaman terahir.
***
"Mas, adek pulang, coba lihat adek bawa siapa?"
"Siapa sayang? kita ngambil pembantu baru lagi? ya sudah nanti suruh ikut sekamar sama Bi Inem"
Rindu hanya menatap sang bunda, dalam tatapan kosong antara tega dan iba. Ibunya menjadi Pembantu dalam kekayaan anak semata wayangnya. Dongeng telah melumpuhkan total naluri sesungguhnya.
"Tidak apa Ndoro Putri, tolong antarkan saya ke kamar yang tuju, permisi Tuan"
"Iya ati-ati ya Bu, siapa tadi namanya? Dijah Tuan nama saya."
***
Cinta hanya melamun setelah ibunya tinggal bersama mereka, sedangkan sang ibu begitu amat terlihat bahagia dengan cucunya, walau sebenarnya ingin ia katakan kepada sang suami siapa pembantu dirumah ini sesungguhnya.
Suaminya memperlakukan begitu sangat ramah, tapi ia ingat akan almarhum perkataan mertuanya dulu. "Ia tak sudi memiliki besan orang Miskin, makanya pas acara Nikahan dulu. Ia menyewa seseorang sebagai jalan menuju kelancaraan hidupnya sekarang."
Biarkan kisah ini berjalan dan berahir seperti apa, walau Ia bekerja sebagai Pembantu di rumahku tetap kami memiliki rasa hormat kepada walau sejatinya tidak ada seorangpun yang tahu. Tentang Rindu, Cinta dan Bu Dijah.
The End ...
New Taipei City, 20 Januari 2016 (08:15)
Biodata penulis
Nok Yuli, dara jutek dari Kota Indramayu. Penulis buku Harga Diri itu Mahal, Autobiografi dan Surga Cita di Linkou, Novel. Dan kumpulan karya antologi baik cerpen dan puisi yang sudah di terbitkan. Salam BMI (salam berkarya menulis inspirasi), sebagai motto hidupnya di dunia literasi. Membaca dan menulis sebuah kewajiban iya. Salam BMI (Salam Berkarya Menulis Inspirasi), Desa Babadan Tenajar, kertasemaya-Indramayu Jawa Barat-Indonesia.
Facebook : Nok Yuli Yuhalini
Fanpage : Nok Yuli Yuhalinii dan BMI Taiwan Menulis
No comments:
Post a Comment