Penjual Pinang
Oleh : Nok Yuli
Oleh : Nok Yuli
Cerita ngalor ngidul. Alin, Lini dan Aril. Ketiganya udah menjamur bekerja di Taiwan. Kepribadian mereka itu cuek tapi peduli akan sosial. Yang paling cuek adalah si Alin. Sedangkan keduanya lebih mendekati ke humasnya.
Pada suatu hari mereka bertiga liburan bersama.
"Eh Lini loe tau ga penjual pinang?" tanya Alin
serbu Aril dari belakang dengan membawa sejinjing buah markisa kesukaan Alin. "Ya jelas tau lah Lini kan jau lebih lama tinggal di Taiwan, ia ga Lini?"
serbu Aril dari belakang dengan membawa sejinjing buah markisa kesukaan Alin. "Ya jelas tau lah Lini kan jau lebih lama tinggal di Taiwan, ia ga Lini?"
Lini hanya menjawab "Hi ... hi ... hi ..."
Ceritain ke Gua dong Lini cirinya bagaimana? Aril penasaran.
Ciri-cirinya itu. Nona cantik nan Sexy berpakaian tansparan tembus p a n d a n g. Pokoknya menggoda iman dweh.
"Coba buktikan dan lihat ...! di sana ada sederet toko penjual pinang kalau loe memang cowok sejati loe jalan dan beli pinang dan ceritain ke kita apa reaksi loe hadapi nona sexy itu" Perintah dua gadis dara.
merasa di remehkan kejantanannya dengan semangat pejuang Aril melangkah dengan perasaan dag ... dig ... dug ... sebab selama ini ia belum pernah melihat penjual pinang yang orang bilang haduuuuuh hai bingit.
satu dua toko ia lewati melihat toko berikutnya terlihat luar dan dalam toko bersih pasti penjualnya jauh lebih bersih dari sekedar tokonya.
baru saja ia memasuki dan mengucap "Harga berapa?"
Ia telah di sambut oleh nona. Muncul dari arah belakangnya ia mengamati dengan tidak berkedep.
kabuuuuuuur meninggalkan jejak.
sedangkan Alin dan Lini tertawa terpingkal-pingkal dari tempat ia menunggu Aril.
"Hi brow bagaimana? Aril masih ngos ngos an.
"Gila, itu mah bukan sexy tapi Kingkong hutan brow" kesal Aril.
"Otak ngeres loe" timpal Alin dengan kulit buah markisa.
New Taipei City, 30 November 2015 (16:00)

No comments:
Post a Comment