Judul : JEJAK NAFSU SIHAQ (Cerpen)
Oleh :
Nok Yuli
Dan sesungguhnya azab akhirat adalah
lebih keras.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 34).
Terlihat
bunga cinta semakin memperluas, seluas samudera dengan nahkodanya berlayar. Kaum
sihaq kini berada di sekitar kita. Entah itu siapa dan bagaimana bentuk jasmani
dan rohani batinnya jika sihaq sudah menyentuh seolah enggan terlepas dari jiwa
yang dilanda kemarau oleh iman, jejak nafsuh sihaq.
Secara kebetulan bertemu dengan
pemuda. Dari segi penampilannya cukup lumayan keren, rapi dan memikat hati.
Bunga kuncup akan segera mekar beberapa hari dan siap di hisap oleh kumbang.
Namun kumbang itu bukanlah kumbang yang halal seperti lebah yang membuahi sari
menjadikan madu. Namun kumbang ini hanya menghisapnya dengan kepalsuan. Setelah
menyadari dia adalah sosok yang sama, seperti aku.
Aril pemuda yang kukenal dan
kupuja-puja berusia lebih tua dua tahun dariku, 25 tahun. Dua kali bertemu
membuatku menjadi nyaman di sisihnya. Selain berpenampilan dia juga sangat
perhatian. Banyak di antara teman-temanku merasa iri bahwa aku terlalu cepat
menemukan pengganti mantan suamiku. Rila.
Sedangkan Rila, dia jauh di atas
rata-rata. Dia menceraikanku karena telah menabur benih dengan gadis tetangga
yang masih duduk di bangku SMA, sebagai pelajar tingkat atas, tentunya libido
aura seks sedang menggebu-gebu kala aku seusianya. Entah siapa yang memulai
akhirnya gadis itu hamil. Hal yang membuatku marah mereka bersenggama di kamar
ini, rumah kita berdua. Kala aku dan Rila sama-sama pergi ke Kantor untuk
bekerja dan tanpa sepengetahuanku dia kembali pulang setelah aku tidak di
temukan di rumah, lalu Rila menjemput gadisnya dan melakukan kegiatan mesum di
kamar itu, berulang kali, terlihat dari kamera tersembunyi di sudut
langit-langit yang aku pasang untuk merekam kegiatan intim kemesraan pasangan
suami istri. Tanpa seorangpun yang tahu terkecuali aku. Aku telah menyuruh
petugas yang bisa memasang alat rekaman.
Dalam kejenuhan di kantor. aku
membuka laptop melihat rekaman video, hampir tiga (3) bulan aku tidak
membukanya. Dan di dalam dua bulan terahir aku tidak mendapatkan sentuhan dari
suamiku saat aku masih berstatus istri.
Bagai tersengat sentuhan daya
listrik, ketika putaran demi putaran video, dua manusia bergelut dengan nafsu.
Tetapi bukan aku melainkan perempuan lain. Kini ia telah di persunting. Dan aku
kini janda menejer Bank. B.R.I. Tanpa anak.
***
Awalnya
kita hanya berbalas sms, menayakan “Sudah makan belum?”
“Lagi
ngapain?” dan hal lainnya lalu merambat hingga pertemuan. Pesan terahir telah
aku terima dalam kotak sms tertulis “Bertemu di tempat pertama bertemu”
Akupun
membalas dengan penuh kebahagian dengan membalas pesannya, emo senyum.
“Aku
sudah di sini, kamu di mana?” Tanyaku dalam pesan.
“Aku
di belakangmu” balasnya.
Setelah memalingkan tubuhku, dan
pertemuanpun berlangsung menyusuri pantai utara, udara yang sejuk di tepi
pantai membuatku tak menolak untuk di ajak berpegangan tangan, di peluk dan
terakhir mendaratkan ciuman yang berbuah nafsu, tergulai dalam kenikmatan
saling berpautan. Bisikan kemesraan yang selama ini aku rindukan. Kita menyemai
dalam jiwa semu. Hati membakar nafsu ketika jam menunjukan pukul sepertiga
malam. Aku lelap dalam selimut pelukan.
***
Hari
penuh tawa saat hadirnya menyapa pagi, siang dan malam. Dan cinta itu ada di
hatiku kini. Aku utarakan cintaku padanya ketika hubungan sudah terlalu jauh,
kenikmatan sudah aku rasakan setiap malam-malamku yang menderu nafsu aku ingin
di halalkan olehnya. Bukan hanya bisikan kata-kata cinta setiap malam-malam.
“Ayah
kapan kita menikah?” tanyaku suatu ketika.
“Sayang
boleh ayah jujur?”
“Silahkan
sayang?” aku mempersilahkannya dengan gaya manjaku dalam dekapannya
“Sayang
tahu tidak siapa ayah?”
“Tahu!”
“Benaran?
Tahu apanya?”
“Ayah
itu bernama Aril” sambil aku peluk tangan kekarnya
Diapun melepaskanku dalam pelukannya
dan menghadap ke arahku. Lihat mataku erat-erat tidakkah sayang temukan
perbedaan didiri ini, perlahan dia mulai membukan kemejaan baju, dan menunjukan
sesuatu yang terlihat sama. Hati ini terus berdegup kencang dengan ketidak
percayaan. Benarkah dia? Dia terus menanggalkan pakaian dalam jasadnya dan
menunjukan bentuk tubuhnya tanpa membiarkan aku tuk perpaling dari tatapannya.
Setelah dia bugil lalu berkata “Aku sama sepertimu, wanita.”
“Aku
mencumbu karena aku merasa kasihan akan ceritamu terhadapa lelaki yang amat kau
cintai namun telah melukaimu dan aku hanya ingin membuat batinmu bahagia. Walau
awalnya aku rasa kamu bisa di jadikan ladang ATM. Namun aku tahu kamu wanita
baik-baik maka biarkan aku pergi dalam hidupmu jangan pernah kau tanyakan
pernikahan di antara kita, biarkan jejak nafsu sihaq itu ada untukku dan
tercipta untukku bukan kamu, berjanjilah padaku. Jadilah wanita sebaik-baiknya
seperti apa yang telah Allah kodratkan untukmu dan biarkan aku menjadi wanita
sihaq (lesbi), ini pilihanku dan cerita misteri hanya aku dan adanya Allah yang
tahu. Tentang segala dosaku.” Pesan-pesannya terdengar dari USB yang aku
gabungan di monitor laptop. Dan aku masih mendengar sisah isak tangisku.
Ya Allah maafkan aku yang telah
merendahkan kadar keimananku selemah-lemahnya yang telah membutakan mataku
terhadapan pandangan satu ke pandangan yang lainnya dan tidak bisa membedakan
mana itu lelaki dan perempuan. Aku tidak ingin hidup dalam kisah ‘kaum luth’
“Sesungguhnya benarlah ucapan (Allah
Subhaanahu wa Ta’ala) atas kaum Luth tatkala kaum wanita (dari mereka) merasa
cukup dengan para wanita dan kaum lelaki merasa cukup dengan para lelaki.”
(Para perawi hadits ini terpercaya, hadits ini dikeluarkan oleh Al-Baihaqi
dalam Syu’b Al-Iimaan dan oleh As-Suyuthi dalam Ad-Daar Al-Mantsuur (3/100)
Ya Allah ampuni taubatku, sucikan
imanku biarkan aku hidup menjanda dengan ridho-Mu, sakit hati bukan di balas
dengan sakit hati. Selingkuh bukan di balas dengan selingkuh. Jika harus ku
sedekahkan harta hasil kerja kerasku selama ini maka akupun rela mensedekahkan
hartaku asal Engkau memaafkan dosa-dosaku dan membiarkan aku menemukan kekasih
atas izin-Mu dan biarkan kisah ini membekas bagai di tusuk sembilu.
The
End.
No comments:
Post a Comment