Thursday, November 26, 2015

JEJAK NAFSU SIHAQ

Judul    : JEJAK NAFSU SIHAQ (Cerpen)
Oleh     : Nok Yuli

            Dan sesungguhnya azab akhirat adalah lebih keras.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 34).

Terlihat bunga cinta semakin memperluas, seluas samudera dengan nahkodanya berlayar. Kaum sihaq kini berada di sekitar kita. Entah itu siapa dan bagaimana bentuk jasmani dan rohani batinnya jika sihaq sudah menyentuh seolah enggan terlepas dari jiwa yang dilanda kemarau oleh iman, jejak nafsuh sihaq.

            Secara kebetulan bertemu dengan pemuda. Dari segi penampilannya cukup lumayan keren, rapi dan memikat hati. Bunga kuncup akan segera mekar beberapa hari dan siap di hisap oleh kumbang. Namun kumbang itu bukanlah kumbang yang halal seperti lebah yang membuahi sari menjadikan madu. Namun kumbang ini hanya menghisapnya dengan kepalsuan. Setelah menyadari dia adalah sosok yang sama, seperti aku.

            Aril pemuda yang kukenal dan kupuja-puja berusia lebih tua dua tahun dariku, 25 tahun. Dua kali bertemu membuatku menjadi nyaman di sisihnya. Selain berpenampilan dia juga sangat perhatian. Banyak di antara teman-temanku merasa iri bahwa aku terlalu cepat menemukan pengganti mantan suamiku. Rila.

            Sedangkan Rila, dia jauh di atas rata-rata. Dia menceraikanku karena telah menabur benih dengan gadis tetangga yang masih duduk di bangku SMA, sebagai pelajar tingkat atas, tentunya libido aura seks sedang menggebu-gebu kala aku seusianya. Entah siapa yang memulai akhirnya gadis itu hamil. Hal yang membuatku marah mereka bersenggama di kamar ini, rumah kita berdua. Kala aku dan Rila sama-sama pergi ke Kantor untuk bekerja dan tanpa sepengetahuanku dia kembali pulang setelah aku tidak di temukan di rumah, lalu Rila menjemput gadisnya dan melakukan kegiatan mesum di kamar itu, berulang kali, terlihat dari kamera tersembunyi di sudut langit-langit yang aku pasang untuk merekam kegiatan intim kemesraan pasangan suami istri. Tanpa seorangpun yang tahu terkecuali aku. Aku telah menyuruh petugas yang bisa memasang alat rekaman.

            Dalam kejenuhan di kantor. aku membuka laptop melihat rekaman video, hampir tiga (3) bulan aku tidak membukanya. Dan di dalam dua bulan terahir aku tidak mendapatkan sentuhan dari suamiku saat aku masih berstatus istri.

            Bagai tersengat sentuhan daya listrik, ketika putaran demi putaran video, dua manusia bergelut dengan nafsu. Tetapi bukan aku melainkan perempuan lain. Kini ia telah di persunting. Dan aku kini janda menejer Bank. B.R.I. Tanpa anak.

***

Awalnya kita hanya berbalas sms, menayakan “Sudah makan belum?”
“Lagi ngapain?” dan hal lainnya lalu merambat hingga pertemuan. Pesan terahir telah aku terima dalam kotak sms tertulis “Bertemu di tempat pertama bertemu”
Akupun membalas dengan penuh kebahagian dengan membalas pesannya, emo senyum.

“Aku sudah di sini, kamu di mana?” Tanyaku dalam pesan.
“Aku di belakangmu” balasnya.
           
            Setelah memalingkan tubuhku, dan pertemuanpun berlangsung menyusuri pantai utara, udara yang sejuk di tepi pantai membuatku tak menolak untuk di ajak berpegangan tangan, di peluk dan terakhir mendaratkan ciuman yang berbuah nafsu, tergulai dalam kenikmatan saling berpautan. Bisikan kemesraan yang selama ini aku rindukan. Kita menyemai dalam jiwa semu. Hati membakar nafsu ketika jam menunjukan pukul sepertiga malam. Aku lelap dalam selimut pelukan.

            ***
Hari penuh tawa saat hadirnya menyapa pagi, siang dan malam. Dan cinta itu ada di hatiku kini. Aku utarakan cintaku padanya ketika hubungan sudah terlalu jauh, kenikmatan sudah aku rasakan setiap malam-malamku yang menderu nafsu aku ingin di halalkan olehnya. Bukan hanya bisikan kata-kata cinta setiap malam-malam.

“Ayah kapan kita menikah?” tanyaku suatu ketika.
“Sayang boleh ayah jujur?”
“Silahkan sayang?” aku mempersilahkannya dengan gaya manjaku dalam dekapannya
“Sayang tahu tidak siapa ayah?”
“Tahu!”
“Benaran? Tahu apanya?”
“Ayah itu bernama Aril” sambil aku peluk tangan kekarnya

            Diapun melepaskanku dalam pelukannya dan menghadap ke arahku. Lihat mataku erat-erat tidakkah sayang temukan perbedaan didiri ini, perlahan dia mulai membukan kemejaan baju, dan menunjukan sesuatu yang terlihat sama. Hati ini terus berdegup kencang dengan ketidak percayaan. Benarkah dia? Dia terus menanggalkan pakaian dalam jasadnya dan menunjukan bentuk tubuhnya tanpa membiarkan aku tuk perpaling dari tatapannya. Setelah dia bugil lalu berkata “Aku sama sepertimu, wanita.”

“Aku mencumbu karena aku merasa kasihan akan ceritamu terhadapa lelaki yang amat kau cintai namun telah melukaimu dan aku hanya ingin membuat batinmu bahagia. Walau awalnya aku rasa kamu bisa di jadikan ladang ATM. Namun aku tahu kamu wanita baik-baik maka biarkan aku pergi dalam hidupmu jangan pernah kau tanyakan pernikahan di antara kita, biarkan jejak nafsu sihaq itu ada untukku dan tercipta untukku bukan kamu, berjanjilah padaku. Jadilah wanita sebaik-baiknya seperti apa yang telah Allah kodratkan untukmu dan biarkan aku menjadi wanita sihaq (lesbi), ini pilihanku dan cerita misteri hanya aku dan adanya Allah yang tahu. Tentang segala dosaku.” Pesan-pesannya terdengar dari USB yang aku gabungan di monitor laptop. Dan aku masih mendengar sisah isak tangisku.

            Ya Allah maafkan aku yang telah merendahkan kadar keimananku selemah-lemahnya yang telah membutakan mataku terhadapan pandangan satu ke pandangan yang lainnya dan tidak bisa membedakan mana itu lelaki dan perempuan. Aku tidak ingin hidup dalam kisah ‘kaum luth’

“Sesungguhnya benarlah ucapan (Allah Subhaanahu wa Ta’ala) atas kaum Luth tatkala kaum wanita (dari mereka) merasa cukup dengan para wanita dan kaum lelaki merasa cukup dengan para lelaki.” (Para perawi hadits ini terpercaya, hadits ini dikeluarkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’b Al-Iimaan dan oleh As-Suyuthi dalam Ad-Daar Al-Mantsuur (3/100)

            Ya Allah ampuni taubatku, sucikan imanku biarkan aku hidup menjanda dengan ridho-Mu, sakit hati bukan di balas dengan sakit hati. Selingkuh bukan di balas dengan selingkuh. Jika harus ku sedekahkan harta hasil kerja kerasku selama ini maka akupun rela mensedekahkan hartaku asal Engkau memaafkan dosa-dosaku dan membiarkan aku menemukan kekasih atas izin-Mu dan biarkan kisah ini membekas bagai di tusuk sembilu.


The End.

No comments:

Post a Comment