Tuesday, January 19, 2016

Anak Kaya Beliau menjadi Pembantu

Anak Kaya Beliau menjadi Pembantu
Oleh : Nok Yuli Yuhalini
Terdapat, sepasang Suami Istri, membangun biduk rumah tangga, getirnya kehidupan mereka lalui bersama. Gaji Rp10.000,- perhari bekerja sebagai tukang cuci baju milik tetangga yang membutuhkan jasanya atau iba melihat keadaan mereka.
Sedangkan sang suami pekerja buruh kuli pecabut rumput milik juragan kaya raya bergelimang harta yang tak pernah mau berbagi hanya Rp500,- recehan. Maklum berdarah cina.
Mereka memiliki anak semata wayang bernama Rindu. Dia anak yang baik, penurut, rajin ibadah dan taat pada orangtua semasa kecilnya. Apa yang ia minta orangtuanya berusaha keras untuk membiayai kebutuhannya. Tak elak ketika sang Bapak memarahinya.
"Sudahlah pak Rindu masih anak-anak" bela Sang Ibu ketika Rindu melakukan kesalahan
"Ibu selalu membelanya mau jadi apa dia nanti kalau sudah dewasa atau ibu pingin dia menjadi kuli seperti kita" Amarahnya membuncah deretan piring Alumunium telah menjadi alunan musik indahnya.
Keduanya, berpelukan antara Rindu dan sang Ibu "Sudah Nduk jangan membantah apa kata Bapak. Bapak sayang sama kita." nasehat sang ibu.
***
Hening, kumandang Subuh membangunkan mereka ... lalu ketika menggedor daun Pintu mengajak seisi rumah untuk berjamaah.
"Bapaaaaaaak" Teriak Ibu ketika melihat isi kamar anaknya.
"Rin .....!"

Sepucuk surat ia tinggalkan di atas meja tua di sudut ranjang bambunya.


*** 

Seperti biasa, seminggu berlalu, pergantian tahun menjemput usianya yang semakin renta, Doa seorang ibu tak pernah putus memendam rindu sesuai anaknya bernama R.i.n.d.u

"Cepat pulang Nduk, tidak berasakah hatimu mengingat kami orangtuamu" membatin rasa haru kepada anaknya yang entah di mana.

"Ibu kini hanya sendiri, berteman gubuk tua peninggalan bapak. Bapak sampai sakit kena hujan dan menerjang badai beserta halilintar demi mencarimu sampai ia mengehempuskan nafasnya, semua demi kamu." ia pun terlelap dalam tidur. Di atas tikar yang tak layak, bangun rumah yang sudah bocor sana-sini jika musim penghujan rumah sudah tidak pantas di anggap rumah, lebih pantas bagaikan kandang bebek penuh akan lumpur.

Tetapi enggan membuatnya beranjak, walau pak Kades dan pak Lurah menyuruh beliau untuk beranjak ke rumah yang telah di bangun khusus oleh pemerintah guna di tempatkan seperti Ibu, Dijah.

Rasa sayang beliau, kepada Rindu. Ia enggan pindah, sebab dalam benaknya Rindu akan kembali. Memenuhi janjinya. dalam surat itu.
Bapak, Ibu
Maafkan aku yang telah diam-diam
Meningalkan jejak melalui jendela kayu
Kutinggal kalian di tengah nyeyak malam

Aku pergi untuk kembali
Bukan untuk sehari dua hari
Tapi entah sampai kapan aku tak dapat memastikan diri
Tentunya, ketika aku berada di sini keadaan telah berganti

Sayang bapak kepadaku terlalu keras
Hingga aku tak bisa bergerak bebas
Mengikuti kreatifitas
Yang tersembunyi tetap membekas

Ibu bidadarimu 
Beranjak dewasa
Tanpa Engkau sadari kini aku berada di luar rumah
Tanpa permisi dan pamit; aku anak durhaka

***

"Mas, bolehkah adek meminta sesuatu?" Utaranya kepada suami tercinta
"Boleh sayang, silahkan katakan. !"
"Selama ini segala apa yang adek pinta mas selalu berusaha memenuhi" ujarnya
"Lalu, apa yang menyiksa batinmu sayang?" sambil mengelus lembut rambut indah milik istrinya selama Limabelas (15) Tahun terahir menemaninya.
"Adek ingin pergi berlibur tapi tidak mengikut sertakan seisi rumah, hanya adek sendirian bolehkah mas?" Dengan deru nafas bagai ambulan membawa pasien yang harus segera dirawat di ruang gawat darurat. Mendegup kencang sekali.
"Bolehkah Mas tau sayang hendak kemana?" tanya suami menyeledik.


Sang Istri, menahan rasa dalam benak jiwanya yang diiringi kesalahan teramat besar, sekian waktu sudah ia tingalkan tanpa kabar, surat atau pun telpon kepada sang bunda di kampung halaman. Di mana Desa itu yang telah mengajarinya arti moral simbolis kehidupan.

Bapak ...
Ibu ...
Aku akan kembali ...

"Sayang bangun ... sayang bangun ....!" menggugah sang istri dalam mimpi buruknya.
"Mas ..." cup ... cup ... cup sudah sudah jangan menangis, cubit manja dari sang suami.
"Sayang boleh kok pergi berlibur, tapi ingat jaga diri baik-baik, biarkan Putra dan Putri kita bibi Inem yang mengurus. Jangan lupa untuk terus mengirim messenger, BBM, Line, dan Kontak ke Mas iya" pesannya tanpa meninggalkan jejak penasaran.
"Iya mas terima kasih."
"Bobo sayang besok harus perjalanan kan?" tanyanya.

Laju roda Empat (4) menyusuri pelosok-pelosok yang dulu ia lewati saat bermain bersama teman-teman sebaya walau dirinya sudah mengubah kehidupan lusuh dan Miskin membuat dirinya malu mengakui siapa sejatinya, kehidupannya kini hanyalah sebuah Dongeng yang tidak hanya di layar kaca, sinetron. Tetapi kehidupan dongeng itu terjadi kepada Rindu. ya Rindu gadis ayu  semata wayang bernama Rindu. anak dari Bapak Darman dan Ibu Dijah. Dia anak yang baik, penurut, rajin ibadah dan taat pada orangtua semasa kecilnya. tetapi kehidupan Kota Metropolitan menyulap dirinya dan enggan mengakui dirinya sendiri di hadapan keluarga sang suami, yang kaya raya. pada masa itu entah apa yang ada di benak rindu, Sekarang nama Rindu telah mengubur dalam-dalam menjadikan nama baru yaitu Cinta. Sesuai Maknanya Cinta yang di kelilingi banyak pemuda-pemudi yang menjerumuskan dirinya ke kubangan kupu-kupu malam. 

Hingga pada suatu hari, Duda kaya menariknya dengan memperistri hingga hari ini, pernikahan sah. Kantor Urusan Agama, di bawah wali hukum. Keduanya hidup bahagia dan melahirkan anak-anak yang cerdas, Pihak suami tidak pernah menanyakan kisah masalalunya dan siapakah Rindu alias Cinta sebenarnya. Yang ada hanya Rindu mampu menjadi Istri yang baik. Dan pandai mengurus anak-anak.

Pada akhirnya kegelisahan menerawang jelas, sejengkal memasuki Gang-gang kecil dengan sedan melaju lahan, ia menengok ke kanan dan ke kiri memperhatikan bangunan rumah yang sungguh terlihat berbeda pada masa kecilnya dulu, tepat di gang buntu, mobilnya berhenti. Terlihat tidak ada perubahan sama sekali tataan rapi pot-pot kecil dengan bunga mawar yang begitu indah terawat rapi.

"Alhamdulillah ibu masih merawat untukku" tak sengaja airmatanya menjatuhi baju modis berwarna hijau muda yang begitu anggun. Banyak tetangga berlalu lalang memperhatikan dirinya. Sedangkan Rindu tak menghiraukan mereka, ia masih asik dengan sentuhan lembut sesekali memutarkan tubuhnya meraih kuncupan mawar yang jauh dari jangkauan tangannya. 

"Rin ... d ... u ... !" suara tak asing milik bundanya mencoba memanggil dirinya

Menoleh ke arah suara, ingin sekali merangkul dan membelajai serta sujud di kakinya, namun kaki enggan bergerak.

"Itukah kamu Nduk? Rindu maafkan Ibu, pandangan ibu sudah tidak lagi setajam dulu tapi ibu yakin dengan caramu memainkan kelopak mawar itu adalah kamu."

"Ibu ... ibu ..." Rindu segera berlari menujunya ia memeluk erat dengan rasa kangen yang selama ini terpedam, membuncah pertemuan anak dan Ibu setelah belasan tahun.

Hanya mereka berdua, kini tersisah. Para tetangga sudah meninggalkan mereka menjelang gelapnya malam, rumah ini hanya bersinar lampu minyak tanah. Terjelas kisah hidup era 80-an. Namun ibu masih menikmatinya.

"Ibu kenapa tidak pasang listrik?" tanyanya
"Listrik telah di cabut oleh pemiliknya karena ibu sudah tidak mampu membayar tagihannya, setelah bapak meninggal"
"apa?"
"Iya, Bapak meningal hampir Lima (5) tahun.  Ia tak pernah putus asa mencarimu, kemana saja kamu Nduk?" isak tangis tercekat di radang tenggorokannya, ia tak mampu lagi mengeluarkan kata-kata.
"Maafkan Rindu ibu, aku kembali ingin menengok Ibu. lalu ...!"
"Bawa Ibu ikut bersamamu Nduk, ibu mohon jangan tinggalkan ibu, ibu butuh kamu. menemani sisah senja ibu. Boleh iya nduk." memelas.

Memegang erat jemari sang bunda, Ibu mengertilah ... perlahan melepaskan genggaman erat milik tangan yang menyuapinya dulu. Aku tidak bisa membawa tinggal bersama kami.

"Kami? apa maksudmu Nduk?"

"Ya kami, aku telah berkeluarga, selama ini aku tidak pernah menceritakan siapa asal-usulku. Termasuk ibu. Mengertilah."

Ibu hanya terdiam, bagaimanapun sang bunda tidak mampu marah, ia berusaha sabar menunggu jawaban sang anak, akan ia membawa ikut serta atau meninggalkan kembali hingga tanah menjemputnya di kediaman terahir.

***

"Mas, adek pulang, coba lihat adek bawa siapa?"
"Siapa sayang? kita ngambil pembantu baru lagi? ya sudah nanti suruh ikut sekamar sama Bi Inem"

Rindu hanya menatap sang bunda, dalam tatapan kosong antara tega dan iba. Ibunya menjadi Pembantu dalam kekayaan anak semata wayangnya. Dongeng telah melumpuhkan total naluri sesungguhnya.

"Tidak apa Ndoro Putri, tolong antarkan saya ke kamar yang tuju, permisi Tuan"
"Iya ati-ati ya Bu, siapa tadi namanya? Dijah Tuan nama saya."

***

Cinta hanya melamun setelah ibunya tinggal bersama mereka, sedangkan sang ibu begitu amat terlihat bahagia dengan cucunya, walau sebenarnya ingin ia katakan kepada sang suami siapa pembantu dirumah ini sesungguhnya.

Suaminya memperlakukan begitu sangat ramah, tapi ia ingat akan almarhum perkataan mertuanya dulu. "Ia tak sudi memiliki besan orang Miskin, makanya pas acara Nikahan dulu. Ia menyewa seseorang sebagai jalan menuju kelancaraan hidupnya sekarang."

Biarkan kisah ini berjalan dan berahir seperti apa, walau Ia bekerja sebagai Pembantu di rumahku tetap kami memiliki rasa hormat kepada walau sejatinya tidak ada seorangpun yang tahu. Tentang Rindu, Cinta dan Bu Dijah.

The End ...

New Taipei City, 20 Januari 2016 (08:15)

Biodata penulis 

Nok Yuli, dara jutek dari Kota Indramayu. Penulis buku Harga Diri itu Mahal, Autobiografi dan Surga Cita di Linkou, Novel. Dan kumpulan karya antologi baik cerpen dan puisi yang sudah di terbitkan. Salam BMI (salam berkarya menulis inspirasi), sebagai motto hidupnya di dunia literasi. Membaca dan menulis sebuah kewajiban iya. Salam BMI (Salam Berkarya Menulis Inspirasi), Desa Babadan Tenajar, kertasemaya-Indramayu Jawa Barat-Indonesia.

Facebook : Nok Yuli Yuhalini
Fanpage : Nok Yuli Yuhalinii dan BMI Taiwan Menulis


Thursday, January 14, 2016

KOSONG-KOSONG DELAPAN

KOSONG-KOSONG DELAPAN
Oleh    : Nok Yuli

            Kecantikanmu lebih anggun dari sang Surya, akhlakmu lebih indah dari sekuntum bunga mawar, kelembutan tutur bahasamu lebih terhormat dari pada tetesan embun. Namun sayang semua engkau gadaikan untuk cinta semumu.

            Gadis dara, sebulan lalu ia baru saja mendapatkan libur pertamanya. Sekaligus pengalaman pertama di dunia yang serba edan menurut pikiranku. Sebab mereka adalah ladang-ladang pemuas nafsu untuk lelaki sepertiku yang bermodal ketampanan bin dompet kosong sekali kedip duua, tiga cewe jatuh dalam kamar hotel.

“Hi ...! sendirian mba?” sapaku
“Iya nih!” Jawabnya masih malu-malu
(wah ... ini dia menu tumbal di awal minggu pasti nih cewe abis gajian, yes!)
“Kenapa mas kok senyum-senyum?” tanya membuyarkan rencana jahatku
“Kenalkan namaku Aril baru satu tahun di Formosa dan ini liburan pertamaku!” modusku
“Sama dong mas aku juga pertama loh di Taiwan juga baru, oh iya hampir lupa namaku Jasmin” jelasnya mencairkan obrolan.
“Yes, sudah masuk perangkap”

***

            Lagu dugem morena membuat para penari kacangan menari dengan liar, sebaliknya cewe bernama Jasmin tak jauh dari cumbuan mautku. Seperti pengalaman yang sudah-sudah jika nafsu sudah menguasai segala sendi-sendi apapun di permudah dengan bisikan-bisikan setan  aku membawanya ke tempat penginapan dengan sewa kamar dia yang bayar, cewe kalau sudah nafsu tak menghiraukan lagi berapa lembar warna biru yang akan ia keluarkan. Aku tidak peduli. Aku sungguh bajingan. Ha ... ha ... ha ...

            Setibanya di kamar 008, dua pasang setan sedang bergelut nafsu, aku rada agak tega ketika airmata menetes dari bola pingpong mata besarnya dan berkata
“Mas kalau aku hamil bagaimana?”
“Aku akan bertanggung jawab sayang”
“Tapi ... aku takut mas.”
“Sayang dengarkan detak jantungku, aku sungguh-sungguh ingin menjagamu, jangan takut iya! kan ada mas yang menjagamu”

            Diapun dengan rela merentangkan tubuhnya dengan gratis, setan-setan dan malaikat jahat bersorak ria, bukan aku kalau tidak mampu melumpuhkan hati cewe bukan hanya uang, sewa kamar dia pun yang bayar, benihpun tak lupa aku tinggalkan di rahimnya, lalu aku membuka isi dompet dalam tas nya yang berwarna biru an beberapa lembar untuk membayar ke perjakan aku, aku segera meninggalkan Jasmine yang terkapar lemah karena kalah ronde akan permainanku.

            Sayang sekali Jasmin ... Jasmin ... kamu telah gagal mencari cita-citamu dengan tujuan awalmu ke sini. Jangan salahkan aku yang telah menjadikan pemuas nafsuku. Semoga kamu rela dengan isi benih yang aku titipkan. Semoga di luar sana masih banyak Jasmin lain yang begitu mudah aku dapatkan.


The End

Monday, January 11, 2016

Pertemuan (Kisah Nyata-Bibi dan Ponakan)





Pertemuan
Oleh : Nok Yuli Yuhalini
Sejatinya, Dunia memang selebar daun kelor. Jarak antara Linkou Distrik menuju Wangxi Elementary Shcool. Memang terlihat dekat ketika jemari ini mencarinya dari Google Map.
Menyusuri jalan setapak di bawah rintik hujan, menanyakan kepada warga lokal sambil menunjukan alamat yang tertera di layar inbok facebookku. Ah ... 'sungguh bagaikan mandi air garam dengan tubuh yang penuh luka' bagaimana tidak.? saya ini orang baik-baik hanya sekedar bertanya, banyak di antara pejalan lokal memilih melambaikan tangan dari bahasa tubuhnya sudah terbaca "Manusia itu sangat takut dengan orang yang baru dikenal" membatinku.
Masih teringat jelas, bagaimana Komunitas ISIS telah membuat Warga Lokal ketakutan mereka bilang 'Muslim adalah Teroris" berita itu menyebar di medsos, acara TV, radio, bahkan media cetak berbentuk koran sekalipun. Tertindas.
TETAPI saya tegaskan "SAYA BUKAN TERORIS" Hijab adalah cara islam berpakaian, maka jangan pernah takut untuk berhijab. Apapun masalalu. Berhijab jalan terbaik menenangkan hati. Pakai Jilbab di tubuhmu dengan Hijab pelengkapmu, maka ahlak kepribadian hati akan mengikutinya dengan hijab kita.
Jadi STOP berbicara "Perbaiki dulu akhlaknya baru Hijabnya" Itu bukan sebuah jawaban, Karena Orang islam terhindar dari satu kata "Alasan"
Yuk perbaiki diri ...!!!
***
Di balik kaca mobil, saat aku menemukan Bus No.241 jarak tertulis ke tempat tujuan memakan satu jam perjalanan. Ku tanyakan kembali kepada Pak supir yang berbaik hati sambil menyodorkan Hape jadulku bergambar alamat tujuan.
"Cing wen, cing kuo Wangxi Guo xiao ma?" ( saya bertanya, apakah melewati sekolah Dasar Wangxi kah?)
Pak Supir pun menjawab dengan ramah beda sekali dengan warga di jalanan yang beberapa menit lalu aku bertanya. "Tui a, Ching sang cher" (Benar, silahkan masuk dan mencari tempat duduk), aku pun telah mendamaikan hatiku, kulihat si Hitam yang telah seharian menemani perjalananku, ada rasa jengkel, berdebat. Namun perselihan itu terganti dengan mengabaikankan, bahwa si Hitam jauh lebih memiliki kelebihan yang super hebat yang patut aku syukuri.
Merogoh tas kreditku, kulihat si Putih dan membuka bagian inbok.
"Saya di dalam Bus" mengirim pesan kepada tanteku. Setelah sampai di lokasi aku akan mengirimkan inbok lagi.
Lalu kulihat si Hitam sedang menggeser-geser mainan setianya, secara refleks aku merebahkan kepalaku di pundaknya dan berkata "Terima kasih sudah menemaniku" kucoba tertelap ingin bermimpi. Tetapi tidak bisa.
Belum genap satu jam, skisar tigapulu (30) menit. Aku berada lebih beberapa kilo dari Wangxi Guo Xiao. Aku turun menunggu lampu merah padam berganti lampu hijau dan seperti yang sudah saya lihat di Google ada Gambar toko Seven Eleven akupun menunggunya di sini.
Dari kejauhan walau hampir tiga (3) tahun belum pernah bertemu. Masih aku hafal bagian-bagian keluarga besarku. yang Semakin tahun semakin bertambah usianya.
"Hi ... Hi ...!! sapanya.
"Akupun melambaikan tangan suatu pertemuan.
Sambil menungu Trafik Lampu menjadi Warna Hijau.
***
Obrolan singkat, tak terasa waktu menyudahi obrolan kita. sedangkan si Hitam, kelelahan bobo manis di sampingku.
Akhirnya sebuah pamitan di akhir kisah pertemuan ini. Semoga akan bertemu di lain waktu. Assalamualaikum pamitku.
Ku injak air gerimis menggenang di hamparan tanah. Dengan pandangan ke depan. "Allah yang akan menemukan kita di lain kesempatan, keadaan dan sebuah sikon (Situasi dan Kondisi)


New Taipei City, 11 Januari 2016 (23:06)