Judul : RINDU AKAN AL-QURAN
Oleh :
Nok Yuli
Sekejap saja aku bisa lupa,
nafsu-nafsu setan membelenggu dalam imajinasiku, aku tak berdaya ketika nafsu
itu berada dan menjadi komandan logikaku, ah sungguh aku terluka, aku berdosa
“Ya Allah selamatkan aku dalam jerat nikmatnya cinta” dalam hati aku menyebut
nama-Nya, aku yakin Allah bersamaku.
"Sesungguhnya
Allah membuka tangan selebar-lebarnya pada waktu siang untuk menerima taubat
mereka yang melakukan dosa pada waktu malam, dan membuka tangan selebar-lebarnya
pada waktu malam untuk menerima taubat mereka yang melakukan dosa pada waktu
siang. Hal ini berkekalan sehinggalah matahari terbit dari sebelah barat."
(Hadis Riwayat Muslim)
Namaku Alin, merupakan
anak pertama dari pasangan muda-mudi orangtuaku memutuskan menikah di usia
belasan tahun, dan lahirlah aku di kota Indramayu dengan kehidupan yang
pas-pas, ekonomi bahan pokok melambung tinggi saat pasca kelahiranku.
“Ayahku pekerja
serabutan kadang bekerja dan kadang berdiam dirumah, padahal keadaan dapur
harus tetap mengepul, tak heran jika ibu selalu uringan-uringan masalah pangan.
Setelah ibu membersihkan aku, memberikan aku makan dan cukup rapi ibu
menitipkan aku kepada nenek, beliaulah yang menjagaku kala ibu bekerja
menyambung hidup” cerita nenek kepadaku mengingat sosok almarhumah ibu, semoga
Allah memberi tempat di surga. “Aku berjanji aku akan menjadi pribadi yang
rajin, cerdas dan pandai agar aku bisa menjadi kebanggaan nenek.” Janjiku dalam
hati, aku pasti bisa.
***
Menginjak usia remaja,
aku bebas memilih teman dan mayoritas teman-temanku adalah perempuan, teman
lelaki bisa di hitung dengan jari-jariku. Orang bilang aku berparas cantik,
berbadan aduhai, dadaku montok, banyak lelaki yang mencoba mendekati, namun
hatiku dingin tak beruap. Hampa, tidak tertarik.
Aku berkenalan dengan
kakak kelasku, dia itu cewek tomboy dan sikapnya sungguh aku suka, entah dari
mana aku bisa menyukainya, (opst jangan dikira aku pecinta wanita) selain dia
aktif di organisasi sekolah kami, dia anak yang baik. Namun dia salah
mengartikan kesukaanku terhadapnya.
Pada suatu ketika acara vicing di pegunangan yang di
adakan oleh sekolahan menjelang masa-masa pelantikan pengurus baru, dan aku
terdaftar menjadi salah satu peserta yang akan di lantik.
“Alin” sapanya
“Iya kak ada apa iya?” jawabku seraya mengikat tali sepatu.
“Alin makan siang hari ini masak apa?” tanyanya.
“Kurang tau kak, kemungkinan dari timku tidak masak, kami memutuskan
masak di malam harinya saja, pagi dan siang aku bawa roti dan kami rasa itu cukup
mengganjal perut kami” penjelasanku.
“Alin makan sama kakak saja, kebetulan kaka yang masak loh,” tawarnya
“Heee, kakak yang ganteng memang bisa masak?” candaku, diapun tersipu
malu dengan senyum penuh arti. Diapun berlalu dari hadapanku.
Aku rasa itu hal yang
wajar dan tidak menyingung hatinya, tapi ternyata aku salah menduga dia
menanggapi dengan perasaan lain, aku menjadi salah tingkah ketika siswa-siswi
yang lain melihatku penuh Tanya. “Ada apa denganku?” membatin.
“Kamu jadian iya sama kak Roy?” Tanya adel sahabatku
“Roy mana?” aku balik Tanya
“Itu loh yang lagi deketin kamu, masa kamu tidak sadar juga sih?” sikap
cueknya.
“Maksud adel kak royati?” dengan mimic serius aku menarik tangannya.
“Iya Alin yang baik, yang jago jomblo, aku harap kamu segera punya cowok
agar kamu tidak di duga pecinta sesame jenis, maaf alin jika kenyatan ini
membuatmu luka, tapi keseluruhan siswa berpikir demikian,” tegasnya.
“Astagfirullah, sumpah demi Allah aku masih normal, selama ini aku
jomblo dan tidak tertarik sama cowok karena aku ingin focus kesekolah, aku
ingin melanjutkan mimpi almarhum ibuku.” Penjelasanku.
“Bagaimanapun alasanmu jika kamu masih bersahabat dengan roy mau tidak
mau kamu pasti menjadi gossipan mereka, jauhi dia jika memang kamu masih
normal.” Nasehat adel kepadaku, aku yakin adel tidak lagi bohong, aku tidak
percaya jika selama ini aku dikira mencintai wanita itu.
udara sejuknya pegunungan
malam ini tidak membuatku berasa dingin yang ada suhu tubuhku terbakar kena
omongan tidak sedap tadi, “Ya Allah maafkan aku ampuni dosaku, atas kehilafanku
aku tidak mau menyalahkan kodratku sebagai wanita yang pasangannya adalah pria,
aku akan mencari pasangan priaku, dan sikapku selama ini memang suka tapi hanya
sekedar mengaguminya saja, karena bakat yang dia miliki, apa yang harus aku
lakukan ya Allah” doaku disujud malamku ketika sahabat-sahabatku terlelap dalam
dinginnya pegunungan ini.
Setelah shalat aku
berlanjut membaca al-quran dari hape ku yang sudah aku download ayat-ayatnya,
ini caraku menjaga kehormatan dan harga diriku, aku harus menghindari dia
seperti nasehat adel, apa kata almarhumah ibu kalau mengetahui anaknya
mencintai sesama jenis, aku jomblo karena ingin mewujudkan cita-cita beliau,
jika memang demikian aku akan membuktikan siapa pacarku, pacar pertama yang
disucikan karena Allah, aku tak pernah takut atau gentar Allah yang memberikan
keselamatan dan Allah pula sekarang lagi menguji keimananku setebal apa
keimananku.
***
Kayu bakar sudah tersusun rapi, itu pertanda mala mini akan di adakan
event membaca puisi, membaca qiro, dan lain-lain. Aku harus tegar dan
menjelaskan kedia jika dia mulai menghampiri. Ternyata benar, dia mulai
mendekat aku pura-pura tidak tahu. Aku hanya berdoa kepada Allah, bantu aku
untuk meluruskan kisah cerita ini. Jangan biarkan kami terjerumus ke lembah
dosa.
“Halo!” salamnya
“Udah siap buat pelantikan nanti malam?” ia memulai obrolan.
“InsyaAllah aku siap, kakak aku ingin berbicara untuk meluruskan kisah simpang
siur, yang membuatku menjadi beban, maaf sebelumnya?” aku berharap dengan iba
agar kakak tomboy ini bisa mengerti.
“Yah silahkan” dia mempersilahkan untuk melontarkan pertanyaanku
“Kakak, kakak memang terlihat sangat tampan, tapi aku harap jangan di
jadikan itu modal untuk merubah kodrat kakak sebagai wanita, silahkan renungi
kata-kataku ini” perintahku!
“Sesungguhnya kamu (wanita)
mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada
wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.” (QS. Al-A’raf:81).
Lalu dia berlalu dari hadapanku
tanpa ada sepatah katapun, entah dia mendengarkan nasehatku atau ia marah
kepadaku yang terpenting aku sudah menasehatinya kembali kekodratnya. Ya Allah
ampunilah dosa-dosa kaum hawa yang lemah. Aku yakin bahwa Allah itu ada, dan
akan menolongnya seperti Allah menolongku dalam hilafku. Amin.
The End,..
(Terbit di majalah TIM Edisi januari)