Monday, November 30, 2015

PENJUAL PINANG (Humor)

Penjual Pinang
Oleh : Nok Yuli


Cerita ngalor ngidul. Alin, Lini dan Aril. Ketiganya udah menjamur bekerja di Taiwan. Kepribadian mereka itu cuek tapi peduli akan sosial. Yang paling cuek adalah si Alin. Sedangkan keduanya lebih mendekati ke humasnya.
Pada suatu hari mereka bertiga liburan bersama.
"Eh Lini loe tau ga penjual pinang?" tanya Alin
serbu Aril dari belakang dengan membawa sejinjing buah markisa kesukaan Alin. "Ya jelas tau lah Lini kan jau lebih lama tinggal di Taiwan, ia ga Lini?"
Lini hanya menjawab "Hi ... hi ... hi ..."
Ceritain ke Gua dong Lini cirinya bagaimana? Aril penasaran.
Ciri-cirinya itu. Nona cantik nan Sexy berpakaian tansparan tembus p a n d a n g. Pokoknya menggoda iman dweh.
"Coba buktikan dan lihat ...! di sana ada sederet toko penjual pinang kalau loe memang cowok sejati loe jalan dan beli pinang dan ceritain ke kita apa reaksi loe hadapi nona sexy itu" Perintah dua gadis dara.
merasa di remehkan kejantanannya dengan semangat pejuang Aril melangkah dengan perasaan dag ... dig ... dug ... sebab selama ini ia belum pernah melihat penjual pinang yang orang bilang haduuuuuh hai bingit.
satu dua toko ia lewati melihat toko berikutnya terlihat luar dan dalam toko bersih pasti penjualnya jauh lebih bersih dari sekedar tokonya.
baru saja ia memasuki dan mengucap "Harga berapa?"
Ia telah di sambut oleh nona. Muncul dari arah belakangnya ia mengamati dengan tidak berkedep.
kabuuuuuuur meninggalkan jejak.
sedangkan Alin dan Lini tertawa terpingkal-pingkal dari tempat ia menunggu Aril.
"Hi brow bagaimana? Aril masih ngos ngos an.
"Gila, itu mah bukan sexy tapi Kingkong hutan brow" kesal Aril.
"Otak ngeres loe" timpal Alin dengan kulit buah markisa.

New Taipei City, 30 November 2015 (16:00)

Thursday, November 26, 2015

RINDU AKAN AL-QURAN

Judul    : RINDU AKAN AL-QURAN
Oleh     : Nok Yuli

            Sekejap saja aku bisa lupa, nafsu-nafsu setan membelenggu dalam imajinasiku, aku tak berdaya ketika nafsu itu berada dan menjadi komandan logikaku, ah sungguh aku terluka, aku berdosa “Ya Allah selamatkan aku dalam jerat nikmatnya cinta” dalam hati aku menyebut nama-Nya, aku yakin Allah bersamaku.

"Sesungguhnya Allah membuka tangan selebar-lebarnya pada waktu siang untuk menerima taubat mereka yang melakukan dosa pada waktu malam, dan membuka tangan selebar-lebarnya pada waktu malam untuk menerima taubat mereka yang melakukan dosa pada waktu siang. Hal ini berkekalan sehinggalah matahari terbit dari sebelah barat." (Hadis Riwayat Muslim)

            Namaku Alin, merupakan anak pertama dari pasangan muda-mudi orangtuaku memutuskan menikah di usia belasan tahun, dan lahirlah aku di kota Indramayu dengan kehidupan yang pas-pas, ekonomi bahan pokok melambung tinggi saat pasca kelahiranku.

            “Ayahku pekerja serabutan kadang bekerja dan kadang berdiam dirumah, padahal keadaan dapur harus tetap mengepul, tak heran jika ibu selalu uringan-uringan masalah pangan. Setelah ibu membersihkan aku, memberikan aku makan dan cukup rapi ibu menitipkan aku kepada nenek, beliaulah yang menjagaku kala ibu bekerja menyambung hidup” cerita nenek kepadaku mengingat sosok almarhumah ibu, semoga Allah memberi tempat di surga. “Aku berjanji aku akan menjadi pribadi yang rajin, cerdas dan pandai agar aku bisa menjadi kebanggaan nenek.” Janjiku dalam hati, aku pasti bisa.

***

            Menginjak usia remaja, aku bebas memilih teman dan mayoritas teman-temanku adalah perempuan, teman lelaki bisa di hitung dengan jari-jariku. Orang bilang aku berparas cantik, berbadan aduhai, dadaku montok, banyak lelaki yang mencoba mendekati, namun hatiku dingin tak beruap. Hampa, tidak tertarik.

            Aku berkenalan dengan kakak kelasku, dia itu cewek tomboy dan sikapnya sungguh aku suka, entah dari mana aku bisa menyukainya, (opst jangan dikira aku pecinta wanita) selain dia aktif di organisasi sekolah kami, dia anak yang baik. Namun dia salah mengartikan kesukaanku terhadapnya.

Pada suatu ketika acara vicing di pegunangan yang di adakan oleh sekolahan menjelang masa-masa pelantikan pengurus baru, dan aku terdaftar menjadi salah satu peserta yang akan di lantik.

“Alin” sapanya
“Iya kak ada apa iya?” jawabku seraya mengikat tali sepatu.
“Alin makan siang hari ini masak apa?” tanyanya.
“Kurang tau kak, kemungkinan dari timku tidak masak, kami memutuskan masak di malam harinya saja, pagi dan siang aku bawa roti dan kami rasa itu cukup mengganjal perut kami” penjelasanku.
“Alin makan sama kakak saja, kebetulan kaka yang masak loh,” tawarnya
“Heee, kakak yang ganteng memang bisa masak?” candaku, diapun tersipu malu dengan senyum penuh arti. Diapun berlalu dari hadapanku.

            Aku rasa itu hal yang wajar dan tidak menyingung hatinya, tapi ternyata aku salah menduga dia menanggapi dengan perasaan lain, aku menjadi salah tingkah ketika siswa-siswi yang lain melihatku penuh Tanya. “Ada apa denganku?” membatin.

“Kamu jadian iya sama kak Roy?” Tanya adel sahabatku
“Roy mana?” aku balik Tanya
“Itu loh yang lagi deketin kamu, masa kamu tidak sadar juga sih?” sikap cueknya.
“Maksud adel kak royati?” dengan mimic serius aku menarik tangannya.
“Iya Alin yang baik, yang jago jomblo, aku harap kamu segera punya cowok agar kamu tidak di duga pecinta sesame jenis, maaf alin jika kenyatan ini membuatmu luka, tapi keseluruhan siswa berpikir demikian,” tegasnya.
“Astagfirullah, sumpah demi Allah aku masih normal, selama ini aku jomblo dan tidak tertarik sama cowok karena aku ingin focus kesekolah, aku ingin melanjutkan mimpi almarhum ibuku.” Penjelasanku.
“Bagaimanapun alasanmu jika kamu masih bersahabat dengan roy mau tidak mau kamu pasti menjadi gossipan mereka, jauhi dia jika memang kamu masih normal.” Nasehat adel kepadaku, aku yakin adel tidak lagi bohong, aku tidak percaya jika selama ini aku dikira mencintai wanita itu.

            udara sejuknya pegunungan malam ini tidak membuatku berasa dingin yang ada suhu tubuhku terbakar kena omongan tidak sedap tadi, “Ya Allah maafkan aku ampuni dosaku, atas kehilafanku aku tidak mau menyalahkan kodratku sebagai wanita yang pasangannya adalah pria, aku akan mencari pasangan priaku, dan sikapku selama ini memang suka tapi hanya sekedar mengaguminya saja, karena bakat yang dia miliki, apa yang harus aku lakukan ya Allah” doaku disujud malamku ketika sahabat-sahabatku terlelap dalam dinginnya pegunungan ini.

            Setelah shalat aku berlanjut membaca al-quran dari hape ku yang sudah aku download ayat-ayatnya, ini caraku menjaga kehormatan dan harga diriku, aku harus menghindari dia seperti nasehat adel, apa kata almarhumah ibu kalau mengetahui anaknya mencintai sesama jenis, aku jomblo karena ingin mewujudkan cita-cita beliau, jika memang demikian aku akan membuktikan siapa pacarku, pacar pertama yang disucikan karena Allah, aku tak pernah takut atau gentar Allah yang memberikan keselamatan dan Allah pula sekarang lagi menguji keimananku setebal apa keimananku.

***

Kayu bakar sudah tersusun rapi, itu pertanda mala mini akan di adakan event membaca puisi, membaca qiro, dan lain-lain. Aku harus tegar dan menjelaskan kedia jika dia mulai menghampiri. Ternyata benar, dia mulai mendekat aku pura-pura tidak tahu. Aku hanya berdoa kepada Allah, bantu aku untuk meluruskan kisah cerita ini. Jangan biarkan kami terjerumus ke lembah dosa.

“Halo!” salamnya
“Udah siap buat pelantikan nanti malam?” ia memulai obrolan.
“InsyaAllah aku siap, kakak aku ingin berbicara untuk meluruskan kisah simpang siur, yang membuatku menjadi beban, maaf sebelumnya?” aku berharap dengan iba agar kakak tomboy ini bisa mengerti.
“Yah silahkan” dia mempersilahkan untuk melontarkan pertanyaanku
“Kakak, kakak memang terlihat sangat tampan, tapi aku harap jangan di jadikan itu modal untuk merubah kodrat kakak sebagai wanita, silahkan renungi kata-kataku ini” perintahku!

            “Sesungguhnya kamu (wanita) mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.” (QS. Al-A’raf:81).


            Lalu dia berlalu dari hadapanku tanpa ada sepatah katapun, entah dia mendengarkan nasehatku atau ia marah kepadaku yang terpenting aku sudah menasehatinya kembali kekodratnya. Ya Allah ampunilah dosa-dosa kaum hawa yang lemah. Aku yakin bahwa Allah itu ada, dan akan menolongnya seperti Allah menolongku dalam hilafku. Amin.

The End,..


(Terbit di majalah TIM Edisi januari)

JEJAK NAFSU SIHAQ

Judul    : JEJAK NAFSU SIHAQ (Cerpen)
Oleh     : Nok Yuli

            Dan sesungguhnya azab akhirat adalah lebih keras.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 34).

Terlihat bunga cinta semakin memperluas, seluas samudera dengan nahkodanya berlayar. Kaum sihaq kini berada di sekitar kita. Entah itu siapa dan bagaimana bentuk jasmani dan rohani batinnya jika sihaq sudah menyentuh seolah enggan terlepas dari jiwa yang dilanda kemarau oleh iman, jejak nafsuh sihaq.

            Secara kebetulan bertemu dengan pemuda. Dari segi penampilannya cukup lumayan keren, rapi dan memikat hati. Bunga kuncup akan segera mekar beberapa hari dan siap di hisap oleh kumbang. Namun kumbang itu bukanlah kumbang yang halal seperti lebah yang membuahi sari menjadikan madu. Namun kumbang ini hanya menghisapnya dengan kepalsuan. Setelah menyadari dia adalah sosok yang sama, seperti aku.

            Aril pemuda yang kukenal dan kupuja-puja berusia lebih tua dua tahun dariku, 25 tahun. Dua kali bertemu membuatku menjadi nyaman di sisihnya. Selain berpenampilan dia juga sangat perhatian. Banyak di antara teman-temanku merasa iri bahwa aku terlalu cepat menemukan pengganti mantan suamiku. Rila.

            Sedangkan Rila, dia jauh di atas rata-rata. Dia menceraikanku karena telah menabur benih dengan gadis tetangga yang masih duduk di bangku SMA, sebagai pelajar tingkat atas, tentunya libido aura seks sedang menggebu-gebu kala aku seusianya. Entah siapa yang memulai akhirnya gadis itu hamil. Hal yang membuatku marah mereka bersenggama di kamar ini, rumah kita berdua. Kala aku dan Rila sama-sama pergi ke Kantor untuk bekerja dan tanpa sepengetahuanku dia kembali pulang setelah aku tidak di temukan di rumah, lalu Rila menjemput gadisnya dan melakukan kegiatan mesum di kamar itu, berulang kali, terlihat dari kamera tersembunyi di sudut langit-langit yang aku pasang untuk merekam kegiatan intim kemesraan pasangan suami istri. Tanpa seorangpun yang tahu terkecuali aku. Aku telah menyuruh petugas yang bisa memasang alat rekaman.

            Dalam kejenuhan di kantor. aku membuka laptop melihat rekaman video, hampir tiga (3) bulan aku tidak membukanya. Dan di dalam dua bulan terahir aku tidak mendapatkan sentuhan dari suamiku saat aku masih berstatus istri.

            Bagai tersengat sentuhan daya listrik, ketika putaran demi putaran video, dua manusia bergelut dengan nafsu. Tetapi bukan aku melainkan perempuan lain. Kini ia telah di persunting. Dan aku kini janda menejer Bank. B.R.I. Tanpa anak.

***

Awalnya kita hanya berbalas sms, menayakan “Sudah makan belum?”
“Lagi ngapain?” dan hal lainnya lalu merambat hingga pertemuan. Pesan terahir telah aku terima dalam kotak sms tertulis “Bertemu di tempat pertama bertemu”
Akupun membalas dengan penuh kebahagian dengan membalas pesannya, emo senyum.

“Aku sudah di sini, kamu di mana?” Tanyaku dalam pesan.
“Aku di belakangmu” balasnya.
           
            Setelah memalingkan tubuhku, dan pertemuanpun berlangsung menyusuri pantai utara, udara yang sejuk di tepi pantai membuatku tak menolak untuk di ajak berpegangan tangan, di peluk dan terakhir mendaratkan ciuman yang berbuah nafsu, tergulai dalam kenikmatan saling berpautan. Bisikan kemesraan yang selama ini aku rindukan. Kita menyemai dalam jiwa semu. Hati membakar nafsu ketika jam menunjukan pukul sepertiga malam. Aku lelap dalam selimut pelukan.

            ***
Hari penuh tawa saat hadirnya menyapa pagi, siang dan malam. Dan cinta itu ada di hatiku kini. Aku utarakan cintaku padanya ketika hubungan sudah terlalu jauh, kenikmatan sudah aku rasakan setiap malam-malamku yang menderu nafsu aku ingin di halalkan olehnya. Bukan hanya bisikan kata-kata cinta setiap malam-malam.

“Ayah kapan kita menikah?” tanyaku suatu ketika.
“Sayang boleh ayah jujur?”
“Silahkan sayang?” aku mempersilahkannya dengan gaya manjaku dalam dekapannya
“Sayang tahu tidak siapa ayah?”
“Tahu!”
“Benaran? Tahu apanya?”
“Ayah itu bernama Aril” sambil aku peluk tangan kekarnya

            Diapun melepaskanku dalam pelukannya dan menghadap ke arahku. Lihat mataku erat-erat tidakkah sayang temukan perbedaan didiri ini, perlahan dia mulai membukan kemejaan baju, dan menunjukan sesuatu yang terlihat sama. Hati ini terus berdegup kencang dengan ketidak percayaan. Benarkah dia? Dia terus menanggalkan pakaian dalam jasadnya dan menunjukan bentuk tubuhnya tanpa membiarkan aku tuk perpaling dari tatapannya. Setelah dia bugil lalu berkata “Aku sama sepertimu, wanita.”

“Aku mencumbu karena aku merasa kasihan akan ceritamu terhadapa lelaki yang amat kau cintai namun telah melukaimu dan aku hanya ingin membuat batinmu bahagia. Walau awalnya aku rasa kamu bisa di jadikan ladang ATM. Namun aku tahu kamu wanita baik-baik maka biarkan aku pergi dalam hidupmu jangan pernah kau tanyakan pernikahan di antara kita, biarkan jejak nafsu sihaq itu ada untukku dan tercipta untukku bukan kamu, berjanjilah padaku. Jadilah wanita sebaik-baiknya seperti apa yang telah Allah kodratkan untukmu dan biarkan aku menjadi wanita sihaq (lesbi), ini pilihanku dan cerita misteri hanya aku dan adanya Allah yang tahu. Tentang segala dosaku.” Pesan-pesannya terdengar dari USB yang aku gabungan di monitor laptop. Dan aku masih mendengar sisah isak tangisku.

            Ya Allah maafkan aku yang telah merendahkan kadar keimananku selemah-lemahnya yang telah membutakan mataku terhadapan pandangan satu ke pandangan yang lainnya dan tidak bisa membedakan mana itu lelaki dan perempuan. Aku tidak ingin hidup dalam kisah ‘kaum luth’

“Sesungguhnya benarlah ucapan (Allah Subhaanahu wa Ta’ala) atas kaum Luth tatkala kaum wanita (dari mereka) merasa cukup dengan para wanita dan kaum lelaki merasa cukup dengan para lelaki.” (Para perawi hadits ini terpercaya, hadits ini dikeluarkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’b Al-Iimaan dan oleh As-Suyuthi dalam Ad-Daar Al-Mantsuur (3/100)

            Ya Allah ampuni taubatku, sucikan imanku biarkan aku hidup menjanda dengan ridho-Mu, sakit hati bukan di balas dengan sakit hati. Selingkuh bukan di balas dengan selingkuh. Jika harus ku sedekahkan harta hasil kerja kerasku selama ini maka akupun rela mensedekahkan hartaku asal Engkau memaafkan dosa-dosaku dan membiarkan aku menemukan kekasih atas izin-Mu dan biarkan kisah ini membekas bagai di tusuk sembilu.


The End.

Lamaran

Masih teringat jelas, Kronologi sebuah permintaan di Kota Yilan, Musium Traditional Art. 12 April 2015, silam. Sebuah kisah yang setiap kaum wanita menginginkan hal yang serupa diperlakukan oleh kekasihnya, bukan berada dalam bayanganku sebelumnya kalau kronologinya seperti ini (Lihat foto),
salah satu wanita yang beruntung bisa merasakan realita di hidupku. Alhamdulillah.
Seketika basa-basi di awal perkenalan singkat itu, di Minggu pertama, Maret 2015, silam. karena aku sudah lelah akan cinta--
maka aku hanya mampu memberikan sinyal "Jika mau serius, bilang ke orangtuaku (ibuku), lalu ... ayok kita jalani bersama dengan keyakinan satu tujuan sampai akhir finis kerja kita tahun depan, 2016. Namun jika sebaliknya jika --cinta-- hanya sebatas Kontrak kerja --Pasport-- mengisi hari untuk menyemangati hidup di tanah rantau, lebih baik cukup sebatas teman dunia maya"
Dari sana pula, aku membiarkannya mengatur kata-kataku denganku memberikan nomor hape ibuku, tidak berjalan cukup lama memakan hari, hati bergetar dan penuh do'a aku mencoba menghubungi nomor ibuku. "Apakah ada seseorang yang menelponmu?"
Belum saja, aku mengatur nafasku untuk menggali dan menyiapkan obrolan dari mana akan di mulai, ibuku jauh lebih dulu menceritakan bla ... bla ... bla ... Tentangnya (yang kini tunanganku), alhamdulillah sisi positif walau hanya lewat via udara ibuku sudah memberikan sinyal hijau. Senyum kecil itu merajut hari-hariku seperkian detik, aku merona bahagia.
Akupun tak kalah bercerita untuk melengkapi obrolan tanpa pemanis, karena aku ingin semua terlihat murni tanpa ada pemanis kata-kata, berbicara realita saja. Bahwa aku sudah mendapatkan teman hidup berdomisili dekat dengan kota kelahiranku. Wah ... semakin memberikan dukungan pintu lebar-lebar namun tak lepas dari amanah-amanah yang mengundang kebebasan dunia. Aku hanya manggut-manggut. Jatuh cinta.
Maret, April, Mei, Juni, Juli, Agustus, September, Kita melewati proses yang biasa di sebut 'pacaran' oleh kaum bernafas. Tentunya proses itu tidak lepas dari kata Cemburu, kurang adil, kurang ... kurang ... de el el tetapi karna kita mengingat tujuan awal kita, dan memang kita tidak pernah menuntut satu sama lainnya untuk hal-hal yang begitu sempele. Lalu di besar-besarkan. Menjadi hubungan ini semakin 'pohon itu menjulang tumbuh tentunya Anginpun semakin hebat menerpa' maka kita memerlukan pupuk Doa untuk menguatkan akar sebuah komitmen agar melahirkan buah keharmonisan untuk di petik dan berbagi kepada mereka yang tak sengaja melewati pohon itu.
Oktober telah memeluk jiwa dimana Duapuluh Enam (26) tahun lalu kita di berikan kesempatan melihat dunia ini yang tak berdosa. Melalu rahim Ibu dengan segenap, cinta, kasih, sayang sepanjang masa. 'Kasih ibu kepada beta' kita bisa merayakan hari ulang tahun di bulan yang sama, walau perayaan itu berulang berapa kali. 2x. Pertama di rayakan bersama sahabat kuliahnya sedangkan diriku dirayakan bersama sahabat literasi di suatu forum, kenapa tidak bareng? mungkin menjadi pertanyaan. Jawabannya, Sebab pada dasarnya waktu yang amat sedikit harus berbagi secara kebetulan bentrok dengan jadwal kuliahnya, mau tidak mau.
Setelahnya kami merayakan bersama teman-teman dekat kita berdua di gedung yang berisi sebuah keluarga kecil dari segi kehidupan yang jauh berbeda menyatukan kami menjadi saudara kecil. Alhamdulillah masih menemukan.
Moment khususnya? he ... he ... he ... setiap beberapa detik yang kita lewati adalah hal yang amat berharga dari penantian liburku yang hanya sebulan sekali. Allah itu maha adil, maha pemberi dan maha yang aku yakini dengan kuasanya. Sepanjang liburan majikanku ke Luar Negeri. Allah memberikan kesempatan itu untuk merajut kisah kasih oleh-Nya, 25 Oktober, 26 Oktober, 27 Oktober. Cukup membius rindu dan menyuntikan semangat di setiap tetesan infus Do'a saat kita mersakan jadwal minum obat, makan malam bersama di sudut Station serta memulihkannya dengan menghubungi orangtua memohon restu jauh lebih jauh lagi menjadi kado terindah saat kita kembali ke Indonesia. 'membawa anak menantu'
Dunia berjalan lamban sekali, padahal aku masih sadar betul satu hari masih Duapuluh Empat (24) jam per harinya. Tetapi kok lamaaaaaaaa bingit. xi ... xi ... xi .. menjelang akhir tahun ini. Kapan?
Kata-kata butuh perjuangan, airmata menjadi korban menagis beberapa jam, saat kesepakatan belum di temukan, saat jawaban masih dalam ketergantungan dan cita-cita sebuah asa masih tergantung di awang-awang. Aku bersedih, dia tak mampu melihat kesedihanku bebagai cara ia temukan, bebagai niat ia lontarkan kepada orangtuanya. Demi Niat seorang lelaki dewasa yang memiliki niat berumah tangga, bukan karena CInta kepada insani, Namun mencintai karena pemilik cinta sejatinya. lewat jasadku, aku tercipta untuk tulang rusuknya. Akhirnya ...?
Alhamdulillah sebuah Tetalen (lamaran, pengikat), pada hari Sabtu, 21 November 2015, siang hari. mengingat jiwaku, yang dulu olehnya, kekasihku. Sekarang melalui kedua orangtuanya dan orangtuaku. Mereka telah menyepakati hari yang baik untuk 'kisah kita' di satukan dengan halal.
Aku tidak tahu, aku masih sibuk dengan jadwal kerjaku apalagi waktu itu aku berada di Pingtung. Malam menjemput tidurku, seperti biasa kita melewati malam-malam bersama menikmati fasilitas internet yang ada. Tentu tidak Gratis. Per bulan harus membeli biaya Internet NT$500.
Entah aku mengartikan air mata ini dengan apa, bahagia atau bersedih, saat ia katakan "Nok sekarang sudah di ikat dan tanggalpun sudah di tentukan, Ang harap Nok bisa menjadi Istri, kodratnya menjadi wanita"
aku hanya bersyukur melalui airmata dalam jiwa ini yang bisa aku ku ucapkan lewat suara "Ang, terima kasih iya sudah memahami kegundahan hati Nok, selama ini yang mulai dingin, menghangatkan kembali dengan kabar gembira ini. Jangan pernah bosan mengajari Nok menjadi Pribadi dan tentunya menjadi Istri yang istiqomah pada bimbingan suami kelak di jalan yang Allah aturkan"
Semoga kita bisa melewati rentan-rentan dosa di sekitar kita, setan akan hadir di tengah-tengah jiwa saat raga jauh dari kata istigfar maka marilah kita sama-sama bertarung dengan ampunan Do'a.
Terima kasih buat sahabat, saudara dan ustad-ustad yang sudah menginjakan kaki di Bumi Formosa dan mendokan hubungan ini agar segera di halalkan, insyaAllah.
New Taipei City, 25 November 2015 (02:22)