Monday, November 30, 2015

PENJUAL PINANG (Humor)

Penjual Pinang
Oleh : Nok Yuli


Cerita ngalor ngidul. Alin, Lini dan Aril. Ketiganya udah menjamur bekerja di Taiwan. Kepribadian mereka itu cuek tapi peduli akan sosial. Yang paling cuek adalah si Alin. Sedangkan keduanya lebih mendekati ke humasnya.
Pada suatu hari mereka bertiga liburan bersama.
"Eh Lini loe tau ga penjual pinang?" tanya Alin
serbu Aril dari belakang dengan membawa sejinjing buah markisa kesukaan Alin. "Ya jelas tau lah Lini kan jau lebih lama tinggal di Taiwan, ia ga Lini?"
Lini hanya menjawab "Hi ... hi ... hi ..."
Ceritain ke Gua dong Lini cirinya bagaimana? Aril penasaran.
Ciri-cirinya itu. Nona cantik nan Sexy berpakaian tansparan tembus p a n d a n g. Pokoknya menggoda iman dweh.
"Coba buktikan dan lihat ...! di sana ada sederet toko penjual pinang kalau loe memang cowok sejati loe jalan dan beli pinang dan ceritain ke kita apa reaksi loe hadapi nona sexy itu" Perintah dua gadis dara.
merasa di remehkan kejantanannya dengan semangat pejuang Aril melangkah dengan perasaan dag ... dig ... dug ... sebab selama ini ia belum pernah melihat penjual pinang yang orang bilang haduuuuuh hai bingit.
satu dua toko ia lewati melihat toko berikutnya terlihat luar dan dalam toko bersih pasti penjualnya jauh lebih bersih dari sekedar tokonya.
baru saja ia memasuki dan mengucap "Harga berapa?"
Ia telah di sambut oleh nona. Muncul dari arah belakangnya ia mengamati dengan tidak berkedep.
kabuuuuuuur meninggalkan jejak.
sedangkan Alin dan Lini tertawa terpingkal-pingkal dari tempat ia menunggu Aril.
"Hi brow bagaimana? Aril masih ngos ngos an.
"Gila, itu mah bukan sexy tapi Kingkong hutan brow" kesal Aril.
"Otak ngeres loe" timpal Alin dengan kulit buah markisa.

New Taipei City, 30 November 2015 (16:00)

Thursday, November 26, 2015

RINDU AKAN AL-QURAN

Judul    : RINDU AKAN AL-QURAN
Oleh     : Nok Yuli

            Sekejap saja aku bisa lupa, nafsu-nafsu setan membelenggu dalam imajinasiku, aku tak berdaya ketika nafsu itu berada dan menjadi komandan logikaku, ah sungguh aku terluka, aku berdosa “Ya Allah selamatkan aku dalam jerat nikmatnya cinta” dalam hati aku menyebut nama-Nya, aku yakin Allah bersamaku.

"Sesungguhnya Allah membuka tangan selebar-lebarnya pada waktu siang untuk menerima taubat mereka yang melakukan dosa pada waktu malam, dan membuka tangan selebar-lebarnya pada waktu malam untuk menerima taubat mereka yang melakukan dosa pada waktu siang. Hal ini berkekalan sehinggalah matahari terbit dari sebelah barat." (Hadis Riwayat Muslim)

            Namaku Alin, merupakan anak pertama dari pasangan muda-mudi orangtuaku memutuskan menikah di usia belasan tahun, dan lahirlah aku di kota Indramayu dengan kehidupan yang pas-pas, ekonomi bahan pokok melambung tinggi saat pasca kelahiranku.

            “Ayahku pekerja serabutan kadang bekerja dan kadang berdiam dirumah, padahal keadaan dapur harus tetap mengepul, tak heran jika ibu selalu uringan-uringan masalah pangan. Setelah ibu membersihkan aku, memberikan aku makan dan cukup rapi ibu menitipkan aku kepada nenek, beliaulah yang menjagaku kala ibu bekerja menyambung hidup” cerita nenek kepadaku mengingat sosok almarhumah ibu, semoga Allah memberi tempat di surga. “Aku berjanji aku akan menjadi pribadi yang rajin, cerdas dan pandai agar aku bisa menjadi kebanggaan nenek.” Janjiku dalam hati, aku pasti bisa.

***

            Menginjak usia remaja, aku bebas memilih teman dan mayoritas teman-temanku adalah perempuan, teman lelaki bisa di hitung dengan jari-jariku. Orang bilang aku berparas cantik, berbadan aduhai, dadaku montok, banyak lelaki yang mencoba mendekati, namun hatiku dingin tak beruap. Hampa, tidak tertarik.

            Aku berkenalan dengan kakak kelasku, dia itu cewek tomboy dan sikapnya sungguh aku suka, entah dari mana aku bisa menyukainya, (opst jangan dikira aku pecinta wanita) selain dia aktif di organisasi sekolah kami, dia anak yang baik. Namun dia salah mengartikan kesukaanku terhadapnya.

Pada suatu ketika acara vicing di pegunangan yang di adakan oleh sekolahan menjelang masa-masa pelantikan pengurus baru, dan aku terdaftar menjadi salah satu peserta yang akan di lantik.

“Alin” sapanya
“Iya kak ada apa iya?” jawabku seraya mengikat tali sepatu.
“Alin makan siang hari ini masak apa?” tanyanya.
“Kurang tau kak, kemungkinan dari timku tidak masak, kami memutuskan masak di malam harinya saja, pagi dan siang aku bawa roti dan kami rasa itu cukup mengganjal perut kami” penjelasanku.
“Alin makan sama kakak saja, kebetulan kaka yang masak loh,” tawarnya
“Heee, kakak yang ganteng memang bisa masak?” candaku, diapun tersipu malu dengan senyum penuh arti. Diapun berlalu dari hadapanku.

            Aku rasa itu hal yang wajar dan tidak menyingung hatinya, tapi ternyata aku salah menduga dia menanggapi dengan perasaan lain, aku menjadi salah tingkah ketika siswa-siswi yang lain melihatku penuh Tanya. “Ada apa denganku?” membatin.

“Kamu jadian iya sama kak Roy?” Tanya adel sahabatku
“Roy mana?” aku balik Tanya
“Itu loh yang lagi deketin kamu, masa kamu tidak sadar juga sih?” sikap cueknya.
“Maksud adel kak royati?” dengan mimic serius aku menarik tangannya.
“Iya Alin yang baik, yang jago jomblo, aku harap kamu segera punya cowok agar kamu tidak di duga pecinta sesame jenis, maaf alin jika kenyatan ini membuatmu luka, tapi keseluruhan siswa berpikir demikian,” tegasnya.
“Astagfirullah, sumpah demi Allah aku masih normal, selama ini aku jomblo dan tidak tertarik sama cowok karena aku ingin focus kesekolah, aku ingin melanjutkan mimpi almarhum ibuku.” Penjelasanku.
“Bagaimanapun alasanmu jika kamu masih bersahabat dengan roy mau tidak mau kamu pasti menjadi gossipan mereka, jauhi dia jika memang kamu masih normal.” Nasehat adel kepadaku, aku yakin adel tidak lagi bohong, aku tidak percaya jika selama ini aku dikira mencintai wanita itu.

            udara sejuknya pegunungan malam ini tidak membuatku berasa dingin yang ada suhu tubuhku terbakar kena omongan tidak sedap tadi, “Ya Allah maafkan aku ampuni dosaku, atas kehilafanku aku tidak mau menyalahkan kodratku sebagai wanita yang pasangannya adalah pria, aku akan mencari pasangan priaku, dan sikapku selama ini memang suka tapi hanya sekedar mengaguminya saja, karena bakat yang dia miliki, apa yang harus aku lakukan ya Allah” doaku disujud malamku ketika sahabat-sahabatku terlelap dalam dinginnya pegunungan ini.

            Setelah shalat aku berlanjut membaca al-quran dari hape ku yang sudah aku download ayat-ayatnya, ini caraku menjaga kehormatan dan harga diriku, aku harus menghindari dia seperti nasehat adel, apa kata almarhumah ibu kalau mengetahui anaknya mencintai sesama jenis, aku jomblo karena ingin mewujudkan cita-cita beliau, jika memang demikian aku akan membuktikan siapa pacarku, pacar pertama yang disucikan karena Allah, aku tak pernah takut atau gentar Allah yang memberikan keselamatan dan Allah pula sekarang lagi menguji keimananku setebal apa keimananku.

***

Kayu bakar sudah tersusun rapi, itu pertanda mala mini akan di adakan event membaca puisi, membaca qiro, dan lain-lain. Aku harus tegar dan menjelaskan kedia jika dia mulai menghampiri. Ternyata benar, dia mulai mendekat aku pura-pura tidak tahu. Aku hanya berdoa kepada Allah, bantu aku untuk meluruskan kisah cerita ini. Jangan biarkan kami terjerumus ke lembah dosa.

“Halo!” salamnya
“Udah siap buat pelantikan nanti malam?” ia memulai obrolan.
“InsyaAllah aku siap, kakak aku ingin berbicara untuk meluruskan kisah simpang siur, yang membuatku menjadi beban, maaf sebelumnya?” aku berharap dengan iba agar kakak tomboy ini bisa mengerti.
“Yah silahkan” dia mempersilahkan untuk melontarkan pertanyaanku
“Kakak, kakak memang terlihat sangat tampan, tapi aku harap jangan di jadikan itu modal untuk merubah kodrat kakak sebagai wanita, silahkan renungi kata-kataku ini” perintahku!

            “Sesungguhnya kamu (wanita) mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.” (QS. Al-A’raf:81).


            Lalu dia berlalu dari hadapanku tanpa ada sepatah katapun, entah dia mendengarkan nasehatku atau ia marah kepadaku yang terpenting aku sudah menasehatinya kembali kekodratnya. Ya Allah ampunilah dosa-dosa kaum hawa yang lemah. Aku yakin bahwa Allah itu ada, dan akan menolongnya seperti Allah menolongku dalam hilafku. Amin.

The End,..


(Terbit di majalah TIM Edisi januari)

JEJAK NAFSU SIHAQ

Judul    : JEJAK NAFSU SIHAQ (Cerpen)
Oleh     : Nok Yuli

            Dan sesungguhnya azab akhirat adalah lebih keras.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 34).

Terlihat bunga cinta semakin memperluas, seluas samudera dengan nahkodanya berlayar. Kaum sihaq kini berada di sekitar kita. Entah itu siapa dan bagaimana bentuk jasmani dan rohani batinnya jika sihaq sudah menyentuh seolah enggan terlepas dari jiwa yang dilanda kemarau oleh iman, jejak nafsuh sihaq.

            Secara kebetulan bertemu dengan pemuda. Dari segi penampilannya cukup lumayan keren, rapi dan memikat hati. Bunga kuncup akan segera mekar beberapa hari dan siap di hisap oleh kumbang. Namun kumbang itu bukanlah kumbang yang halal seperti lebah yang membuahi sari menjadikan madu. Namun kumbang ini hanya menghisapnya dengan kepalsuan. Setelah menyadari dia adalah sosok yang sama, seperti aku.

            Aril pemuda yang kukenal dan kupuja-puja berusia lebih tua dua tahun dariku, 25 tahun. Dua kali bertemu membuatku menjadi nyaman di sisihnya. Selain berpenampilan dia juga sangat perhatian. Banyak di antara teman-temanku merasa iri bahwa aku terlalu cepat menemukan pengganti mantan suamiku. Rila.

            Sedangkan Rila, dia jauh di atas rata-rata. Dia menceraikanku karena telah menabur benih dengan gadis tetangga yang masih duduk di bangku SMA, sebagai pelajar tingkat atas, tentunya libido aura seks sedang menggebu-gebu kala aku seusianya. Entah siapa yang memulai akhirnya gadis itu hamil. Hal yang membuatku marah mereka bersenggama di kamar ini, rumah kita berdua. Kala aku dan Rila sama-sama pergi ke Kantor untuk bekerja dan tanpa sepengetahuanku dia kembali pulang setelah aku tidak di temukan di rumah, lalu Rila menjemput gadisnya dan melakukan kegiatan mesum di kamar itu, berulang kali, terlihat dari kamera tersembunyi di sudut langit-langit yang aku pasang untuk merekam kegiatan intim kemesraan pasangan suami istri. Tanpa seorangpun yang tahu terkecuali aku. Aku telah menyuruh petugas yang bisa memasang alat rekaman.

            Dalam kejenuhan di kantor. aku membuka laptop melihat rekaman video, hampir tiga (3) bulan aku tidak membukanya. Dan di dalam dua bulan terahir aku tidak mendapatkan sentuhan dari suamiku saat aku masih berstatus istri.

            Bagai tersengat sentuhan daya listrik, ketika putaran demi putaran video, dua manusia bergelut dengan nafsu. Tetapi bukan aku melainkan perempuan lain. Kini ia telah di persunting. Dan aku kini janda menejer Bank. B.R.I. Tanpa anak.

***

Awalnya kita hanya berbalas sms, menayakan “Sudah makan belum?”
“Lagi ngapain?” dan hal lainnya lalu merambat hingga pertemuan. Pesan terahir telah aku terima dalam kotak sms tertulis “Bertemu di tempat pertama bertemu”
Akupun membalas dengan penuh kebahagian dengan membalas pesannya, emo senyum.

“Aku sudah di sini, kamu di mana?” Tanyaku dalam pesan.
“Aku di belakangmu” balasnya.
           
            Setelah memalingkan tubuhku, dan pertemuanpun berlangsung menyusuri pantai utara, udara yang sejuk di tepi pantai membuatku tak menolak untuk di ajak berpegangan tangan, di peluk dan terakhir mendaratkan ciuman yang berbuah nafsu, tergulai dalam kenikmatan saling berpautan. Bisikan kemesraan yang selama ini aku rindukan. Kita menyemai dalam jiwa semu. Hati membakar nafsu ketika jam menunjukan pukul sepertiga malam. Aku lelap dalam selimut pelukan.

            ***
Hari penuh tawa saat hadirnya menyapa pagi, siang dan malam. Dan cinta itu ada di hatiku kini. Aku utarakan cintaku padanya ketika hubungan sudah terlalu jauh, kenikmatan sudah aku rasakan setiap malam-malamku yang menderu nafsu aku ingin di halalkan olehnya. Bukan hanya bisikan kata-kata cinta setiap malam-malam.

“Ayah kapan kita menikah?” tanyaku suatu ketika.
“Sayang boleh ayah jujur?”
“Silahkan sayang?” aku mempersilahkannya dengan gaya manjaku dalam dekapannya
“Sayang tahu tidak siapa ayah?”
“Tahu!”
“Benaran? Tahu apanya?”
“Ayah itu bernama Aril” sambil aku peluk tangan kekarnya

            Diapun melepaskanku dalam pelukannya dan menghadap ke arahku. Lihat mataku erat-erat tidakkah sayang temukan perbedaan didiri ini, perlahan dia mulai membukan kemejaan baju, dan menunjukan sesuatu yang terlihat sama. Hati ini terus berdegup kencang dengan ketidak percayaan. Benarkah dia? Dia terus menanggalkan pakaian dalam jasadnya dan menunjukan bentuk tubuhnya tanpa membiarkan aku tuk perpaling dari tatapannya. Setelah dia bugil lalu berkata “Aku sama sepertimu, wanita.”

“Aku mencumbu karena aku merasa kasihan akan ceritamu terhadapa lelaki yang amat kau cintai namun telah melukaimu dan aku hanya ingin membuat batinmu bahagia. Walau awalnya aku rasa kamu bisa di jadikan ladang ATM. Namun aku tahu kamu wanita baik-baik maka biarkan aku pergi dalam hidupmu jangan pernah kau tanyakan pernikahan di antara kita, biarkan jejak nafsu sihaq itu ada untukku dan tercipta untukku bukan kamu, berjanjilah padaku. Jadilah wanita sebaik-baiknya seperti apa yang telah Allah kodratkan untukmu dan biarkan aku menjadi wanita sihaq (lesbi), ini pilihanku dan cerita misteri hanya aku dan adanya Allah yang tahu. Tentang segala dosaku.” Pesan-pesannya terdengar dari USB yang aku gabungan di monitor laptop. Dan aku masih mendengar sisah isak tangisku.

            Ya Allah maafkan aku yang telah merendahkan kadar keimananku selemah-lemahnya yang telah membutakan mataku terhadapan pandangan satu ke pandangan yang lainnya dan tidak bisa membedakan mana itu lelaki dan perempuan. Aku tidak ingin hidup dalam kisah ‘kaum luth’

“Sesungguhnya benarlah ucapan (Allah Subhaanahu wa Ta’ala) atas kaum Luth tatkala kaum wanita (dari mereka) merasa cukup dengan para wanita dan kaum lelaki merasa cukup dengan para lelaki.” (Para perawi hadits ini terpercaya, hadits ini dikeluarkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’b Al-Iimaan dan oleh As-Suyuthi dalam Ad-Daar Al-Mantsuur (3/100)

            Ya Allah ampuni taubatku, sucikan imanku biarkan aku hidup menjanda dengan ridho-Mu, sakit hati bukan di balas dengan sakit hati. Selingkuh bukan di balas dengan selingkuh. Jika harus ku sedekahkan harta hasil kerja kerasku selama ini maka akupun rela mensedekahkan hartaku asal Engkau memaafkan dosa-dosaku dan membiarkan aku menemukan kekasih atas izin-Mu dan biarkan kisah ini membekas bagai di tusuk sembilu.


The End.

Lamaran

Masih teringat jelas, Kronologi sebuah permintaan di Kota Yilan, Musium Traditional Art. 12 April 2015, silam. Sebuah kisah yang setiap kaum wanita menginginkan hal yang serupa diperlakukan oleh kekasihnya, bukan berada dalam bayanganku sebelumnya kalau kronologinya seperti ini (Lihat foto),
salah satu wanita yang beruntung bisa merasakan realita di hidupku. Alhamdulillah.
Seketika basa-basi di awal perkenalan singkat itu, di Minggu pertama, Maret 2015, silam. karena aku sudah lelah akan cinta--
maka aku hanya mampu memberikan sinyal "Jika mau serius, bilang ke orangtuaku (ibuku), lalu ... ayok kita jalani bersama dengan keyakinan satu tujuan sampai akhir finis kerja kita tahun depan, 2016. Namun jika sebaliknya jika --cinta-- hanya sebatas Kontrak kerja --Pasport-- mengisi hari untuk menyemangati hidup di tanah rantau, lebih baik cukup sebatas teman dunia maya"
Dari sana pula, aku membiarkannya mengatur kata-kataku denganku memberikan nomor hape ibuku, tidak berjalan cukup lama memakan hari, hati bergetar dan penuh do'a aku mencoba menghubungi nomor ibuku. "Apakah ada seseorang yang menelponmu?"
Belum saja, aku mengatur nafasku untuk menggali dan menyiapkan obrolan dari mana akan di mulai, ibuku jauh lebih dulu menceritakan bla ... bla ... bla ... Tentangnya (yang kini tunanganku), alhamdulillah sisi positif walau hanya lewat via udara ibuku sudah memberikan sinyal hijau. Senyum kecil itu merajut hari-hariku seperkian detik, aku merona bahagia.
Akupun tak kalah bercerita untuk melengkapi obrolan tanpa pemanis, karena aku ingin semua terlihat murni tanpa ada pemanis kata-kata, berbicara realita saja. Bahwa aku sudah mendapatkan teman hidup berdomisili dekat dengan kota kelahiranku. Wah ... semakin memberikan dukungan pintu lebar-lebar namun tak lepas dari amanah-amanah yang mengundang kebebasan dunia. Aku hanya manggut-manggut. Jatuh cinta.
Maret, April, Mei, Juni, Juli, Agustus, September, Kita melewati proses yang biasa di sebut 'pacaran' oleh kaum bernafas. Tentunya proses itu tidak lepas dari kata Cemburu, kurang adil, kurang ... kurang ... de el el tetapi karna kita mengingat tujuan awal kita, dan memang kita tidak pernah menuntut satu sama lainnya untuk hal-hal yang begitu sempele. Lalu di besar-besarkan. Menjadi hubungan ini semakin 'pohon itu menjulang tumbuh tentunya Anginpun semakin hebat menerpa' maka kita memerlukan pupuk Doa untuk menguatkan akar sebuah komitmen agar melahirkan buah keharmonisan untuk di petik dan berbagi kepada mereka yang tak sengaja melewati pohon itu.
Oktober telah memeluk jiwa dimana Duapuluh Enam (26) tahun lalu kita di berikan kesempatan melihat dunia ini yang tak berdosa. Melalu rahim Ibu dengan segenap, cinta, kasih, sayang sepanjang masa. 'Kasih ibu kepada beta' kita bisa merayakan hari ulang tahun di bulan yang sama, walau perayaan itu berulang berapa kali. 2x. Pertama di rayakan bersama sahabat kuliahnya sedangkan diriku dirayakan bersama sahabat literasi di suatu forum, kenapa tidak bareng? mungkin menjadi pertanyaan. Jawabannya, Sebab pada dasarnya waktu yang amat sedikit harus berbagi secara kebetulan bentrok dengan jadwal kuliahnya, mau tidak mau.
Setelahnya kami merayakan bersama teman-teman dekat kita berdua di gedung yang berisi sebuah keluarga kecil dari segi kehidupan yang jauh berbeda menyatukan kami menjadi saudara kecil. Alhamdulillah masih menemukan.
Moment khususnya? he ... he ... he ... setiap beberapa detik yang kita lewati adalah hal yang amat berharga dari penantian liburku yang hanya sebulan sekali. Allah itu maha adil, maha pemberi dan maha yang aku yakini dengan kuasanya. Sepanjang liburan majikanku ke Luar Negeri. Allah memberikan kesempatan itu untuk merajut kisah kasih oleh-Nya, 25 Oktober, 26 Oktober, 27 Oktober. Cukup membius rindu dan menyuntikan semangat di setiap tetesan infus Do'a saat kita mersakan jadwal minum obat, makan malam bersama di sudut Station serta memulihkannya dengan menghubungi orangtua memohon restu jauh lebih jauh lagi menjadi kado terindah saat kita kembali ke Indonesia. 'membawa anak menantu'
Dunia berjalan lamban sekali, padahal aku masih sadar betul satu hari masih Duapuluh Empat (24) jam per harinya. Tetapi kok lamaaaaaaaa bingit. xi ... xi ... xi .. menjelang akhir tahun ini. Kapan?
Kata-kata butuh perjuangan, airmata menjadi korban menagis beberapa jam, saat kesepakatan belum di temukan, saat jawaban masih dalam ketergantungan dan cita-cita sebuah asa masih tergantung di awang-awang. Aku bersedih, dia tak mampu melihat kesedihanku bebagai cara ia temukan, bebagai niat ia lontarkan kepada orangtuanya. Demi Niat seorang lelaki dewasa yang memiliki niat berumah tangga, bukan karena CInta kepada insani, Namun mencintai karena pemilik cinta sejatinya. lewat jasadku, aku tercipta untuk tulang rusuknya. Akhirnya ...?
Alhamdulillah sebuah Tetalen (lamaran, pengikat), pada hari Sabtu, 21 November 2015, siang hari. mengingat jiwaku, yang dulu olehnya, kekasihku. Sekarang melalui kedua orangtuanya dan orangtuaku. Mereka telah menyepakati hari yang baik untuk 'kisah kita' di satukan dengan halal.
Aku tidak tahu, aku masih sibuk dengan jadwal kerjaku apalagi waktu itu aku berada di Pingtung. Malam menjemput tidurku, seperti biasa kita melewati malam-malam bersama menikmati fasilitas internet yang ada. Tentu tidak Gratis. Per bulan harus membeli biaya Internet NT$500.
Entah aku mengartikan air mata ini dengan apa, bahagia atau bersedih, saat ia katakan "Nok sekarang sudah di ikat dan tanggalpun sudah di tentukan, Ang harap Nok bisa menjadi Istri, kodratnya menjadi wanita"
aku hanya bersyukur melalui airmata dalam jiwa ini yang bisa aku ku ucapkan lewat suara "Ang, terima kasih iya sudah memahami kegundahan hati Nok, selama ini yang mulai dingin, menghangatkan kembali dengan kabar gembira ini. Jangan pernah bosan mengajari Nok menjadi Pribadi dan tentunya menjadi Istri yang istiqomah pada bimbingan suami kelak di jalan yang Allah aturkan"
Semoga kita bisa melewati rentan-rentan dosa di sekitar kita, setan akan hadir di tengah-tengah jiwa saat raga jauh dari kata istigfar maka marilah kita sama-sama bertarung dengan ampunan Do'a.
Terima kasih buat sahabat, saudara dan ustad-ustad yang sudah menginjakan kaki di Bumi Formosa dan mendokan hubungan ini agar segera di halalkan, insyaAllah.
New Taipei City, 25 November 2015 (02:22)

Thursday, July 2, 2015

NIKMATNYA CINTA TAIPEI

Judul; NIKMATNYA CINTA TAIPEI
Oleh; Nok Yuli

“Mbamu kerjanya apa sih? jadi kamu enak banget bisa beli ini itu tinggal ngomong dan di belikan?” Tanya teman sebangkunya. “Mbaku itu kerja di luar negeri,” jawabnya datar. “Oh pantes, banyak duit. Orang pacarannya sama bos-bos yang berduit” sindirnya, “Eh kalau ngomong jangan asal dong, mbaku tidak sejelek yang kamu kira” emosinya terpancing. Merenung disudut bangku sekolah. Dimana ia sedang menuntut ilmu.

“Apakah salah jika aku bekerja di luarnegeri dan menghidupi adik-adikku dengan hasil jeri payah? Haramkah? Sampai seusia dini menilai buruk tentang sosok devisa Negara, siapakah yang mengajari mereka?”Membantinku. kadang kehidupan yang amat menyakitkan harus aku telan, karna omongan yang tak masuk akal, siapakah yang salah padahal mayaoritas warga Negara Indonesia itu bekerja di luar negeri baik kaum hawa dan adamnya. Lantas mengapa mereka berfikir negative dan memandang sebelah mata gambaran Tenaga Kerja Indonesia (TKI) jika bisa mengirimkan uang banyak ke kampung halamannya.

Adiku bernama, Lini duduk di bangku sekolah dasar (SD) kelas dua. Dia sangat peka terhadap hal yang berbau negative, ia anak keemat (4) dari lima (5) bersaudara, kakak kami sudah menikah, tersisah kami bertiga. Tak heran jika membuat teman sekelasnya merasa iri, karena ia memiliki kakak perempuan yang bekerja di luar negeri dengan penghasilan yang lumayan, aku sendiri usia kepala dua, duapuluh lima tahun, terpaut usia kurang lebih delapan belas tahun dengan adikku, sebab orang tua kami awalnya hanya cukup memiliki anak tiga saja, aku, adik dan kakakku, tapi entah alasan apa lahirlah Lini dan Aden di tengah keluarga kecil, jadi rumah ini berasa hidup saat hadirnya, kami memanjakanya.

Setelah aku tamat sekolah menengah, aku tertarik pergi keluar negeri dengan tujuan Taiwan, entah rasa penasaran akan sosok film meteor garden era tahun duaribuan (2000) atau aku hanya ingin berkunjung layaknya turis, lewat calo-calo sponsor desaku, Indramayu. Aku mendaftar diri sebagai Calon Tenaga Kerja (CTK) tujuan Taiwan setelah proses demi proses, aku dinyatakan fit medical terpaksa aku harus memangkas mahkotaku, dimana semua calon terlihat sama tanpa ada perbedaan baik dari kalangan orang kaya maupun kelas bawah sekalipun, di sini semua sama, termasuk makan yang mengantri, mandi yang berebut, tidurpun hanya beberapa jam karna harus pagi-pagi bangun untuk mandi dan shalat jika tidak akan menunggu waktu lama. Aku berkenalan dengan sosok teman dari ibukota Jakarta dia bernama Alin, sebaya dengan usiaku.

setelah burung besi membawa kami terbang ke angkasa kabut hitam pertanda akan turun hujan tak henti-hentinya aku berdoa kepada Allah untuk di berikan keselamatan sampai tujuan.

***
Sepuluh bulan sudah, aku kelihangan kontak dengan sahabatku, di sela-sela jam liburku. Aku bermain facebookan dan dari sana aku bisa bergabung dengan wawasan cukup luas, akhirnya aku mendapat ide untuk berjualan online, kalau hanya bergantung dengan gajiku satu bulan, sekisar lima belas ribu taipi (NT$.15.000) tidak cukup bagi keluargaku, aku hanya bermodal uang gaji satu bulanku untuk membeli pesananan mereka yang sedikit aku punya pelanggan.

“Aku pesan jilbab sepuluh, warna kombinasi, celana jins, jaket kulit, dan kaos, dikirim ke alamat ini, kapan barang nyampe?” pelanggan ketika memesan. Langsung aku total keseluruhan, begitu seterunya. “OK, besok aku kirim barangnya silahkan bayar di pakpos,” Alhamdulillah. Usahaku berjalan lancar meskipun baru beberapa bulan jualan namun aku sudah mendapat untung cukup dari gajiku perbulan. Sebab aku engga mau kalau adiku terus di gunjingkan kalau aku disini kerja engga bener, aku disini kerja sebagai buruh, yang halal.

“Kapan pulang mba?” Tanya Lini, “Sabar sayang mba pasti pulang kan mba kerja jauh untuk siapa?” tanyaku. “Ia untuk kami” jawabnya sedih, tapi aku engga mau kalau temen-temenku selalu berpandangan negative tentang pekerja luarnegri, “Kalau lini pingin tau, Mba disini kerja jualan baju dan produk indo juga karena laba dan usaha yang menguntungkan jadi mba punya penghasilan lebih, gaji tiap bulan cukup masuk tabungan rekening mba di Bank Rakyat Indonesia (BRI) untuk bekal nanti, Nah hasil jualan ini buat kamu kebutuhan sekolah dan ibu dirumah,” jawabku menjelaskan.

“Lini faham sekarang? Jadi lini ga usah malu atau minder sama temen kelasnya, karna mbamu ini bukan jual diri (Maaf Lonte) sama om-om dan orang Taiwan. Lini yang sabar, tugasnya lini hanya belajar, melihat lini berprestasi mba semakin termotivasi untuk berkerja disini dan mencari hasil tambahan agar adik mba perempuan satu-satunya bisa kuliah dan bekerja pada sesuai kemampuan jangan seperti mba sekarang, meskipun kerja halal namun tidak luput dari cibiran pandangan negative, lini semangat ya dek.” Harapanku.

***
Jika engkau tau susahnya jadi orang dewasa kamu akan mengerti, kamulah harapan mba dek tanpamu mba tidak pernah berani disini. Kamu jangan kecewain mba iya, rajin-rajinlah belajar dan menjadi anak yang berbakti pada keluarga, agama, nusa dan bangsa. Mba yakin dengan kemampuanmu. Semoga berhasil.

Kugoresan kata dengan tinta airmata, tak terfikir olehku masa muda telah meninggalkanku menjadi pribadi yang kuat, Tegar. Semua bentuk ujian yang harus kuterima walau rasa sakit hati kecewa karena cinta, tidak dengan hari ini hati yang tertutup rapi perlahan mulai membuka walau harapan itu masih lemah, setidaknya aku bisa merasakan seperti jatuh cinta.

Pertanyaan hatiku sengaja aku urutankan dalam bingkai langit langit kamarku, dari senyumnya, tatap matanya, tutur bahasanya, sikap diamnya namun masih bisa membuatku untuk bersuara dan memulai perbincangan. ah inikah rasa.

Rasa cinta yang dulu mati tertimbun luka nyaris membuatku trauma mendalam, diakah sosok malaikat yang akan menjadi pelangi dalam hidupku memberiku satu harapan bahwa cinta itu tidak selamanya membawa getir penghianatan. dan diakah yang menjadi pangeran membangunkanku dari mimpi buruk. Jabatan pertama menginstall icon kehidupanku membuka versi baru. walaupun kau tak pernah tau dan menyadarinya aku mulai jatuh hati saat melihatmu, entahlah. Sebab Engkau jauh dari kriteriaku. namun begitu menarik untuk aku galih sosokmu.

***
Namaku Adel, kelahiran Oktober 1989. Aku anak kedua dari lima bersaudara, abang dan adikku sudah memiliki keluarga yang harus mereka perhatikan. terkecuali kedua adikku, yang perempuan duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) serta yang paling akhir laki-laki masih dalam balutan manja ibu. dan aku kini masih terus berkelana sebagai sumber kehidupan mereka. di satu sisi secara diam-diam aku bersikap pasrah siapa kelak menjadi imamku, Jodoh. Sedangkan orangtuaku sebagai buruh tani.
Ketika bangku pendidikan harus berakhir tanpa keinginanku. seolah meruntuhkan impian impian mulukku sebagai Bidan. Pupus. dari segi ekonomi aku bukan anak orang kaya dan mimpiku setinggi langit. sinyal kemantapan bahwa aku bisa menjadi kebanggaan keluargaku.Optimis.

dewa dewa asmara sedang merakit dua sayap di dirinya memanahkan cinta untuk aku. Signal magnet mendekat membuatku yakin bahwa apa yang aku rasakan dirasakan dia juga. Cinta tak kemana, cinta tak perlu meminta cinta yang senantiasa aku agung agungkan atas nama Allah, dialah lelaki yang berasal dari ujung kota pulau jawa yang telah membius hatiku dengan dosis penawar cinta satu hubungan. berbadan tinggi sekisar seratus tujuh puluh centimeter pekerja migran sepertiku yang aktif dalam wadah organisasi yang berbeda. Perkenalan singkat berlanjut ke komunikasi via udara, Facebook.

***
Seiring komunikasi berjalan, katakata indah selalu menjadi topik utama dalam komunikasi. ""Pacaran itu identik dengan berduaan"" ujarnya ketika obrolan pada ruang publik, Statiun kota. ""Tergantung bagaimana si A dan B menyikapi sesi hubungan, kalau hanya ingin membuat status. Ya maunya berduan"" nyengirku dalam perbincangan singkatan itu. Yang terus menerawang dalama pelupuk mata.
entah siapa yang memulai panah asmara membujurkan panah asmaranya dan menyatukan sesuatu yang dulu ruang hatiku sepi kini kembali ceria dan memiliki tujuan. Cinta kita seumur jagung sama halnya masa perkenalan kita. dalam keyakinan kita masingmasing melangkah dengan bissmillah.

""Jam berapa pulang?"" tanyanya. ""Jam 6:30 aku harus beranjak dari sini karena aku harus menunggu bis cukup lama membawaku membelah jalan malam ini"" jawabku sambil tersenyum. ""Ok, masih ada waktu satu jam kedepan, nanti aku antar sampai terminal."" tawaranya dengan mimik wajah tersenyum dan membuatku tersipu malu. Tak heran jika temantemannya sudah menangkap gerak gerik kami berdua dan sedikit menyindir ""Ciyeee...ciyeeee"" ujar mba nila sahabatnya.

Obrolan dan perkenalan singkat ini membuatku begitu terkenang, dalam diamku aku berkata lirih ""Ya Allah terima kasih engkau telah memberiku dan mempertemukanku dengan orangorang baik seperti mereka.""

Senyum dan kegaduhan Malam senin ini, harus berahir ketika denting waktu berdentang kecil menunjukan pukul jam 6:25 yang artinya aku harus bangkit dan berpamitan kepada mereka. Mengapa waktu begitu cepat setelah aku nyaman berada disini terutama kepada sosok pria yang memiliki nama Aril, yang menghujani air asmara. ""Wassalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh."" pamitku dan dihantar olehnya Oh indahnya liburan kali ini. Lamunanku.

Tersadar, jalinan asmara kita hambir memasuki bulan kedua, dimana kisah-kasih kita berjalan secara normal, saling mengerti dan menerima, memberikan toleransi dan kebebasan dalam melakukan aktivitasku. Sebaliknya akupun membalas inbok dia dalam komunikasi tidak harus di jam istirahatnya selalu denganku, hanya terikat kepercayaan dan karunia pencipta langit dan bumi yang telah menyatukan dua insan berbeda dalam ketidak sengajaan untuk merajut menjadi sepasang kisah asmara karna-Nya,

“I Love you” tuturnya.
“I Love you too, jawabku dengan penuh rasa syukur, dan bahagia.

Ketika bunga-bunga kebahagian yang telah merajut hampir sempurna, perlahan kelopak-kelopak bunga cinta gugur aku tak mengerti namun ini nyata, aku terkena hama virus ke retekan bahtera asmara, “Allah ada apa dengan semua.” Tanyaku dalam hati. Berharap ada jalan menuju perbaikan.

***

Tahun baru cina, aku bersama keluarga majikan pulang ke kampung halaman, dari rumah ibunya tuan yang terletak di Peito, Taipei. Pagi sekisar jam 11:00 Lebih berapa sekiyan menit kami beranjak meninggalkan Taoyuan, Guiesan. Dengan koper yang berisi pakaian, selama disana nanti. Setauku selepas makan malam tidak menginap  tapi akan pulang menuju Pingtung, Orangtua Nyonya. Hanya kami berempat Nyonya, aku dan kedua balita asuhan. Sedangkan Tuan beranjak pulang ke Taoyuan, seorangan karena dia adalah seorang Dokter. Meskipun lebaran cina, dia harus kerja menjaga pasien-pasien yang berada di rumah sakit. Chang gung Linkou.

“Kongxi fa cai sin nien kuai le senti cien kang.” Ku ucapkan ketika memasuki pelataran rumah keluarganya Tuan, untuk menghormati agama mereka.
“Sie-sie ni” jawab mereka satu persatu.
“Ipoh, si yao pang mang ma?” aku mencoba menawarkan diri apakah mereka memerlukan bantuanku, saat mereka sedang menyiapkan masakan untuk makan siang.
“Pu yong lah, mang nit e ciu haole, ci kan meimei han titi” Tidak perlu, kerjakan tugasmu lebih baik kamu jaga mereka, akupun mengiyakan saja tanpa harus berkomentar banyak.

Tepat pukul jam 12:00 Siang hari, ku piker aka nada acara makan besar-besaran seperti layaknya acara imlekan, namun disini aku tidak menemukannya, mereka hanya memasak beberapa menu saja. Ada cien pai luopo, sui jiao , dan bakwan pai luopo thang. Dan untuk aku sendiri karena aku tidak memakan daging babi mereka membuatkanku goring ikan salmon dan tumis lobak putih, bersama nasi putih. Aku masih bersyukur dengan menu seperti ini.

***
Acara makan-makan berlalu dengan cepat, sepakat membawa kedua balitaku di ujung taman untuk bermain, ayunan, selorokan dan berjalan kaki menyusuri kota Peitow, Taipe. Sambil menunggu sore tiba dan pulang menyiapkan makan malam yang memenuhi meja makan, untuk merayakan imlekan, sungguh meriah. Seperti aku bersama keluargaku di Indonesia merayakan hari raya Idul fitri.

“Siao li (Nama panggilanku), junpei sou tongxi o women yao hui jia” perintah majikanku.
“She Thai-thai tongxi wo junpei haole, sengsia tamen siao pengyio te wanci” baik Nyonya, semua sudah saya siapkan tinggal beberpa mainan mereka saja.

Aku kembali membantu mereka mencuci piring, dan lain sebagainya di dapur, ketika mereka mengajak pergi akupun dipaksa berhenti oleh ibunya tuan.

“Siao li, fang ce. Tamen yao co.” letakan, mereka akan pergi.
“She nainai, sie-sie ni sin nien kuaile, cai cien” aku pamit dan buru-buru keluar dari dapur, mengangkat beberapa barang yang akan di bawa.

Pukul 8:30 Malam hari di dalam mobil mereka mengatakan bahwa akan langsung menuju Taipei main station setibanya di station, harus bergerak cepat jika tidak akan ketinggalan kereta cepat yang akan berangkat pukul 9:30 Jurusan Kaousiung. Hanya membutuhkan perjalanan beberapa menit dari peitow ke Taipei Main Station. Jam sudah menunjukan pukul 9:20 sudah sangat mepet, waktu itu keadaan aula lantai satu sudah sangat sepi mungkin karena tahun baru cina, took-toko yang berjejer sudah menutup tokonya.

“Siao li kuai tien, women laipuji” perintah Nyonya agar berjalan cepat, dia bersama anaknya yang cowok untuk membeli tiket kereta.
“Aku bersama meimei dan membawa koper, menggendong ransel, serta menuntun meimei di tambah meimei sangat rewel, sekuat tenaga aku mencoba meraih tubuhnya, meimei ting wo suo, lai ayi pao pao. Paitho tinghua. Women hui laipuji.” Entah waktu itu aku tidak bisa membayangkan bagaimana keadaanku yang sangat repot. Ini adalah latihanku bila kelak aku menjadi ibu.

Aku bergegas dengan cepat menuruni tangga jalan, menyusul nyonya yang sedang membeli tiket kereta ekspress, tersisah tinggal lima menit lagi, cepat cepat kami berempat berlari tentunya aku masih dengan keadaan yang sama mengendong meimei dan membawa koper. Sungguh sangat lelah seharian itu. Ketika baru saja duduk selang beberapa menit aku dan nyonya saling memandang, capek kami mengucapkan bersamaan. Kami berempat tersenyum, aku yakin bagi bocah kecil ini tak mengerti akan arti senyum lelah orang dewasa.

Didalam kereta sesekali aku tertidur dan terbangun lagi, sengaja aku tidak mau tidur, sebab aku takan bisa tidur lagi nantinya jika jam sekarang sudah tidur. Perjalan memakan satu jam setengah, tepat pukul 22:30 Kereta tiba di kaosiung dan di jemput oleh ayahnya nyonya, lagi-lagi kami tidak langsung pulang, namun menuju kerumah neneknya nyonya, disanalah tempat acara imlekan berlangsung, ada acara goring nien kao, makan suijiao yang di dalamnya terdapat satu koin jika salah satu di antara mereka menemukan logam tersebut akan di beri amplop merah oleh nenek, “Konon sepanjang tahun 2015 tahun Kambing akan membawa keberuntungan.” Pungkas mereka.

***

Kekasihku, sebelum tidur kukirim pesan singkat untuknya lewat situs line, dan facebook, aku mengirimkan pesan bahwa aku tiba dengan selamat penuh rasa lelah. Aku yakin dia sudah tidur.

Selama di Pingtung aku sangat sibuk, menjelang hari raya ulang tahun kekasih, aku mendapat inbok darinya bahwa dia meminta mengahiri hubungan, dengan rasa sikap dewasa tanpa aku harus menyakan alasannya mengapa kita harus putus, karena bagiku itu tidak penting lagi di pertanyakan walau rasa itu sangat sakit untuk aku terima, hubunganku bukan pisah karena aku selingkuh atau dia mendua, atau dia punya wanita lain yang lebih baik.

Aku sengaja tidak membalas kata-kata dengan banyak, aku katakana “Ya sudah, tidak apa-apa” aku langsung mematikan hapeku dan mencoba memejamkan mata. Namun karena aku memang yang memiliki susah tidur setiap malam jadi ketika Mp3 lagi aku putar tiba-tiba terhenti ada panggilan masuk di messenger kulihat namanya, Aril.

“Adel lagi ngapain?” Tanya.
“MP3” jawabku
“Lagi menangis iya?” tanyanya.
“Untuk apa menangis, apa yang harus aku tangisi?” bohongku menutupi rasa kecewaku.
“Maaf mas, Adel tidak membenci mas kan?” pintanya.
“Mas, Adel bukan anak kecil selepas putusan adel membenci mantan, asalkan mas tidak membuat adel marah dengan menjelakan alin kepada yang lain, adel engga akan gimana-gimana, kita tetep bersahabat.” Penjelasanku.

Malam itu hampir pukul 04:00 Dini hari, aku dan mas aril berbincang lewat via messenger saling mengungkap kegelisahan dan entah siapa yang mematikan telpon itu karena aku sudah tidak sadar, aku lelap dalam tidur. Tanpa ada kata penutup salam.

Ya Allah inikah cinta yang aku rasakan, kenapa begitu cepat jika dari awal engkau tidak mencintaiku kenapa harus ada gombalan yang membuat aku terpanah akan buaian kata-kata itu, kenapa aku terlalu menanggapi keseriusannya. Jika akhirnya aku sendiri yang akan menanggung sakit ini. Walau kerap aku ungkapkan aku tak mengapa, aku bisa tegar. Aku bisa. Yah aku bisa.
Aku hanya mengada-ngada dalam fikiranku, mungkin karena hari minggu nanti dia juga akan menemui cewe lain yang sempat inbok aku di facebook dan mengaku sebagai pacarnya masku. Jika aku Tanya ke masku bilangnya bukan dan bukan, ah inikah Nikmatnya cinta Taipei, yang bisa mengatakan cinta, sayang, cantik kepada kami kaum buruh rumah tangga, aku malu dengan diriku terlalu lemah dan percaya, aku tidak menyalahkan mas aku tidak menguhujat wanita itu. Dan aku tidak pernah marah kepada keduanya. Aku hanya marah kepada diriku sendiri. Aku terlalu memakai perasaan. Alhamdulillah semua berahir ketika rasa sayang itu masih belum jauh. Dan aku rasa ini dia bukan terbaikku untukku.

Lagi-lagi, aku teringat kata-katanya, ketika mas memberikan nomor telpon mbanya yang ada di Indonesia, dan nama facebook adik cowoknya. Dia mengatakan;

“Adel, mas serius sama adel tidak main-main, silahkan hubungi mbaku dan komunikasi sama adekku juga, jika pingin mengetahui mas itu bagaimana.” Perintahnya.
“Iya mas, lain kali adel telpone iya jika sudah ada pulsa” jawabku penuh tanda Tanya.
“Aku tuh deket sama Mbaku itu” Tanya saja ke dia tentang mas.
“Kalau mba Tanya aku siapa? Adel harus jawab apa?” kutanyakan kepada mas.
“Iya adel jawab ajah, pacar dan calon istriku” Jawabnya meyakinkanku.

Aku tidak bisa melukiskan bagaimana ketika mas memberiku sinyal kepada keluarganya tentang aku. Aku bersyukur jika memang aku bisa di terima, aku mencoba menghubungi nomor itu ada rasa deg-deg an ketika di angkat dan terdengar ucapan salam dari suara di balik hape jadulku. Obrolan yang hangat membuatku merasa nyaman bahwa mbanya termasuk orang yang mudah bergaul.
Sebaliknya dengan adik cowoknya di facebookpun sering inbokan bercerita tentang kekasihnya atau sekedar basa basi bercerita dan memberi nasehat satu sama lain. Aku sudah menemukan kedamaian bersama keluarga mas, tapi aku sadar kini mereka hanya semu untukku, mereka takan pernah menjadi bagian keluargaku karena sekarang aku dan mas sudah berpisah.

***

Minggu, 01 Maret 2015

Liburanku tiba, memang sudah di rencanakan jauh hari ketika aku masih berstatus pacaran sama mas, bahwa di hari minggu ini aku dan dia akan berwisata di kota shincu Siao ren kuo, berhubung kita sudah tidak ada lagi komitment aku memilih membatalkan tanpa sepengetahuan mas, kepada mba nila sahabatnya. Dengan alasan karena di organisasiku akan di adakan rapat mengenai liburan bulan depan di kota yilan, aku sebagai pengurus organisasi Ipit dan panita pelaksana.

Pertemuanku dengan maspun memang sudah di rencanakan, dan sebagian dari organisasi aku dan dia, mengira kami jalan berdua di acara sendiri, aku hanya tersenyum ketika mereka berfikir demikian, setelah rombongan wisata tujuan siao ren kuo di kota shincu berangkat, kami berdua memutuskan untuk ke aula dan berbincang sambil menunggu sahabatku datang untuk jalan, sebaliknya dia pun menunggu seseorang.

***
Kenikmatan cinta yang berdiri di kota Taipei begitu amat sempurna, setiap insan sangat mudah menukar dan berpaling hati ke hati lain, inikah kebebasan dimana letak perasaan, aku tak berhak marah dan mencegah ketika wanita cantik jelita berada di hadapan kita, “Yah aku kenal dia” jawab hatiku.

Mereka pergi meninggalkan aula jejak jejak langkah seiring waktu menunjukan angka jam 10:20 Am, perih ketika melihat seseorang yang pernah di hati harus beranjak dengan wanita lain. Tegarkan hatiku, butakan pandanganku. Meski kau kini bukan kekasihku. Nikmatnya cinta Taipei.

The End.

Taoyuan, 03 Maret 2015 (22:22)