Thursday, July 2, 2015

TAIPEI WOMEN SUO CAI CIEN

Judul       : TAIPEI WOMEN SUO CAI CIEN
Oleh        : Nok Yuli

        Manusia menyukai setiap pertemuan yang berisi hal menarik untuk terus diceritakan yang tak habis-habisnya, jika pertemuan itu datang dibelakang namanya sebuah perpisahan berhubungan kata pertemuan itu berada di depan kalimat maka ia disebut dengan pertemuan, ada pertemuan dan ada perpisahan, bagaimana kita menyikapi perpisahan ketika akan terjadi, sakit, tidak mau itu terjadi namun keadaan memaksanya untuk berpisah, sepasang sahabat yang terjadi dibumi negeri orang, Taiwan. Taipei.

        Keyla, sosok yang harmonis, tawanya, senyumnya, tutur katanya yang sederhana dan paduan busana yang ia pakai sangat serasi dengan wajah manisnya, dia berasal dari lampung, Indonesia datang kesini seperti aku sebagai kaum Buruh Migran Indonesia, (BMI), pekerja rumah tangga.

18 januari 2015.

        Perkenalan pertama “In door” saat acara peresmian ketua baru organisasi IPIT, (Ikatan Pekerja Indonesia Taiwan) yang waktu itu kita hanya saling menukar dan lempar senyum sesama BMI rasanya senang bertemu dengan sesama marga. Dan kamipun berkenalan setelah acara itu berahir di ruang Aula Taipei main Station, dimana ruangan itu terpenuhi ratusan BMI setiap minggunya karena lokasi yang mudah di jangkau dan dijadikan tempat berbagai acara, awalnya pemerintah Taiwan dan petugas setempat melarang kami duduk di dalam aula station itu dengan memasang garis merah karena mengganggu pejalan kaki yang berlalu lalang, berkat hasil para organisasi terus demo dan menyurakan hak-hak BMI, bagi kami itu tempat publik. Dan tanpa melihat status, ras, marga, warga dan budaya, serta miskin kaya.

“Assalamu’alaikum!” salamku
“Walaikumsalam, eh mba tadi iya yang di indoor itu?” jawabnya sambil masih berpikir.
“Iya mba, perkenalkan namaku Alin, pekerja dari taoyuan. Nama mba siapa?” sambil mengulurkan tanganku.
“Aku Aril serbu sahabatnya mendahului” tersenyum seolah dia memiliki jiwa seorang kaka yang bijak.
“Ih gitu dweh lok ada cewek baru pasti buru-buru” Jawab keyla.
“Keyla namaku Mei (read; Adik perempuan, bahasa mandarin)” namanya cocok dengan muka ceicei (read: kakak perempuan) Batinku.

        Kamipun saling mengobrol satu sama lainya meskipun baru mengenal namun sepertinya mereka begitu asik dan bisa menjadi sahabat, saudara yang baik di formosa. Obrolan kami, canda kami menjadi pusat perhatian BMI yang lain karena kami bisa tertawa lepas, kami tidak hanya berbicara seputar diri sendiri atau membicarakan orang lain, kami lebih menyukai mencari solusi bagaimana bisa membantu BMI yang bermasalah di Taiwan, aku yang masih baru diantar mereka hanya menangkap sinyal bahwa mereka juga aktif di lain organisasi terlihat dari seragam birunya yang berlogo “Organisasi ATKI” beda dengan organisasi yang baru aku join seragamku merah, buktikan merahmu hihihi aku tersenyum dalam batin.

“Alin sudah lama di Taiwan?” tanya aril
“Baru setahun kak” jawabku
“Perjalanan masih panjang, harus bisa memilih mana teman baik dan mana yang tidak bisa dijadikan teman” nasehatnya.
“Iya alin apalagi kamu disini masih baru nanti kamu jangan tergoda sama kucing garong Taiwan.” Sambil melirik ke temannya yang sempat mengajakku ngobrol di indoor makanya aku bisa mengenal mereka karena temannya dia, Putra.
“Heee tenang ajah cei, kak, alin juga buaya darat kok, jadi buaya kok dikibulin ya engga bisa dong.” Wkwkwkwk tawa mereka membuat keadaan semakin renyah.

***
        Setiap bulan, kami selalu bertemu entah itu sebentar beberapa menit, sedangkan tiap harinya kami komunikasi dengan fasilitas jejaring internet, facebook. Sekedar menanyakan kabar dan membagikan info. Di tambah setelah aku resmi menjadi pengurus media dan Publikasi di organisasiku membuatku fokus ke arah sana. Bersama sahabat BMI yang aktif dalam organisasi itu membuatku menjadi selalu terjaga, dan berpikir hal yang positif dalam pergaulan.

“Eh ni si Alin ada disini” sapa kak Aril
“Heee iya kak, kak sendiri?” tanyaku
“Biasa kami ceribel” gokilnya.
“Yes, tak meleset pasti cei keyla dan lainnya ada di dalam ruangan” langsung ku serbu dan tanpa menyapanya aku memeluknya dari belakang. Membuatnya kaget terperanjat.
“Siapa sih? Hah Alin, Alhamdulillah kita bertemu disini tanggal 14 mei 2015 nanti ceicei dan kak aril pulang, TAIPEI WOMEN SUO CAICIEN (Read: Taipei kami berucap sampai jumpa)” pungkasnya
Inikah saatnya perpisahan di antara kita begitu berat saat aku sudah menemukan sahabat. Kalian harus pulang, semoga Allah melindungi langkah kalian dan bilamana ada waktu semoga kita masih di pertemukan. 

No comments:

Post a Comment