Thursday, July 2, 2015

RINDU AKAN AL-QURAN

Judul       : RINDU AKAN AL-QURAN
Oleh         : Nok Yuli

        Sekejap saja aku bisa lupa, nafsu-nafsu setan membelenggu dalam imajinasiku, aku tak berdaya ketika nafsu itu berada dan menjadi komandan logikaku, ah sungguh aku terluka, aku berdosa “Ya Allah selamatkan aku dalam jerat nikmatnya cinta” dalam hati aku menyebut nama-Nya, aku yakin Allah bersamaku.

"Sesungguhnya Allah membuka tangan selebar-lebarnya pada waktu siang untuk menerima taubat mereka yang melakukan dosa pada waktu malam, dan membuka tangan selebar-lebarnya pada waktu malam untuk menerima taubat mereka yang melakukan dosa pada waktu siang. Hal ini berkekalan sehinggalah matahari terbit dari sebelah barat." (Hadis Riwayat Muslim)

        Namaku Alin, merupakan anak pertama dari pasangan muda-mudi orangtuaku memutuskan menikah di usia belasan tahun, dan lahirlah aku di kota Indramayu dengan kehidupan yang pas-pas, ekonomi bahan pokok melambung tinggi saat pasca kelahiranku.

        “Ayahku pekerja serabutan kadang bekerja dan kadang berdiam dirumah, padahal keadaan dapur harus tetap mengepul, tak heran jika ibu selalu uringan-uringan masalah pangan. Setelah ibu membersihkan aku, memberikan aku makan dan cukup rapi ibu menitipkan aku kepada nenek, beliaulah yang menjagaku kala ibu bekerja menyambung hidup” cerita nenek kepadaku mengingat sosok almarhumah ibu, semoga Allah memberi tempat di surga. “Aku berjanji aku akan menjadi pribadi yang rajin, cerdas dan pandai agar aku bisa menjadi kebanggaan nenek.” Janjiku dalam hati, aku pasti bisa.

***

        Menginjak usia remaja, aku bebas memilih teman dan mayoritas teman-temanku adalah perempuan, teman lelaki bisa di hitung dengan jari-jariku. Orang bilang aku berparas cantik, berbadan aduhai, dadaku montok, banyak lelaki yang mencoba mendekati, namun hatiku dingin tak beruap. Hampa, tidak tertarik.

        Aku berkenalan dengan kakak kelasku, dia itu cewek tomboy dan sikapnya sungguh aku suka, entah dari mana aku bisa menyukainya, (opst jangan dikira aku pecinta wanita) selain dia aktif di organisasi sekolah kami, dia anak yang baik. Namun dia salah mengartikan kesukaanku terhadapnya.

Pada suatu ketika acara vicing di pegunangan yang di adakan oleh sekolahan menjelang masa-masa pelantikan pengurus baru, dan aku terdaftar menjadi salah satu peserta yang akan di lantik.

“Alin” sapanya
“Iya kak ada apa iya?” jawabku seraya mengikat tali sepatu.
“Alin makan siang hari ini masak apa?” tanyanya.
“Kurang tau kak, kemungkinan dari timku tidak masak, kami memutuskan masak di malam harinya saja, pagi dan siang aku bawa roti dan kami rasa itu cukup mengganjal perut kami” penjelasanku.
“Alin makan sama kakak saja, kebetulan kaka yang masak loh,” tawarnya
“Heee, kakak yang ganteng memang bisa masak?” candaku, diapun tersipu malu dengan senyum penuh arti. Diapun berlalu dari hadapanku.

        Aku rasa itu hal yang wajar dan tidak menyingung hatinya, tapi ternyata aku salah menduga dia menanggapi dengan perasaan lain, aku menjadi salah tingkah ketika siswa-siswi yang lain melihatku penuh Tanya. “Ada apa denganku?” membatin.

“Kamu jadian iya sama kak Roy?” Tanya adel sahabatku
“Roy mana?” aku balik Tanya
“Itu loh yang lagi deketin kamu, masa kamu tidak sadar juga sih?” sikap cueknya.
“Maksud adel kak royati?” dengan mimic serius aku menarik tangannya.
“Iya Alin yang baik, yang jago jomblo, aku harap kamu segera punya cowok agar kamu tidak di duga pecinta sesame jenis, maaf alin jika kenyatan ini membuatmu luka, tapi keseluruhan siswa berpikir demikian,” tegasnya.
“Astagfirullah, sumpah demi Allah aku masih normal, selama ini aku jomblo dan tidak tertarik sama cowok karena aku ingin focus kesekolah, aku ingin melanjutkan mimpi almarhum ibuku.” Penjelasanku.
“Bagaimanapun alasanmu jika kamu masih bersahabat dengan roy mau tidak mau kamu pasti menjadi gossipan mereka, jauhi dia jika memang kamu masih normal.” Nasehat adel kepadaku, aku yakin adel tidak lagi bohong, aku tidak percaya jika selama ini aku dikira mencintai wanita itu.

        udara sejuknya pegunungan malam ini tidak membuatku berasa dingin yang ada suhu tubuhku terbakar kena omongan tidak sedap tadi, “Ya Allah maafkan aku ampuni dosaku, atas kehilafanku aku tidak mau menyalahkan kodratku sebagai wanita yang pasangannya adalah pria, aku akan mencari pasangan priaku, dan sikapku selama ini memang suka tapi hanya sekedar mengaguminya saja, karena bakat yang dia miliki, apa yang harus aku lakukan ya Allah” doaku disujud malamku ketika sahabat-sahabatku terlelap dalam dinginnya pegunungan ini.

        Setelah shalat aku berlanjut membaca al-quran dari hape ku yang sudah aku download ayat-ayatnya, ini caraku menjaga kehormatan dan harga diriku, aku harus menghindari dia seperti nasehat adel, apa kata almarhumah ibu kalau mengetahui anaknya mencintai sesama jenis, aku jomblo karena ingin mewujudkan cita-cita beliau, jika memang demikian aku akan membuktikan siapa pacarku, pacar pertama yang disucikan karena Allah, aku tak pernah takut atau gentar Allah yang memberikan keselamatan dan Allah pula sekarang lagi menguji keimananku setebal apa keimananku.

***

Kayu bakar sudah tersusun rapi, itu pertanda mala mini akan di adakan event membaca puisi, membaca qiro, dan lain-lain. Aku harus tegar dan menjelaskan kedia jika dia mulai menghampiri. Ternyata benar, dia mulai mendekat aku pura-pura tidak tahu. Aku hanya berdoa kepada Allah, bantu aku untuk meluruskan kisah cerita ini. Jangan biarkan kami terjerumus ke lembah dosa.

“Halo!” salamnya
“Udah siap buat pelantikan nanti malam?” ia memulai obrolan.
“InsyaAllah aku siap, kakak aku ingin berbicara untuk meluruskan kisah simpang siur, yang membuatku menjadi beban, maaf sebelumnya?” aku berharap dengan iba agar kakak tomboy ini bisa mengerti.
“Yah silahkan” dia mempersilahkan untuk melontarkan pertanyaanku
“Kakak, kakak memang terlihat sangat tampan, tapi aku harap jangan di jadikan itu modal untuk merubah kodrat kakak sebagai wanita, silahkan renungi kata-kataku ini” perintahku!

        “Sesungguhnya kamu (wanita) mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.” (QS. Al-A’raf:81).


        Lalu dia berlalu dari hadapanku tanpa ada sepatah katapun, entah dia mendengarkan nasehatku atau ia marah kepadaku yang terpenting aku sudah menasehatinya kembali kekodratnya. Ya Allah ampunilah dosa-dosa kaum hawa yang lemah. Aku yakin bahwa Allah itu ada, dan akan menolongnya seperti Allah menolongku dalam hilafku. Amin.

No comments:

Post a Comment