Thursday, June 15, 2017

DERETAN KATA

Judul : Deretan Kata
Oleh   : Yuhalini

Allah maha Sempurna dengan segala kesempurnaannya. Tak ada yang menandingi-Nya dengan kuasa apapun. Allah menciptakan Manusia, Tumbuhan, Hewan dan Keindahan Alam beserta Gunung-gunung tinggi di Dunia ini.

Ketika Allah menciptakan Aku melalui perantara Orangtuaku, Dengan keadaan yang suci tanpa Dosa. Setiap orang yang bertandang melihatku mengucapkan Do'a selamat kepada Beliau. Berharap kelak tumbuh dewasa aku bisa menjadi sosok yang lebih baik dari kedua orangtuaku. Menjadi Muslimah dalam keluarganya, berbakti kepada orangtua. Mampu menyelamatkan dengan Doanya jika kelak sudah dialam bakar.

"Anakku, kejarlah deretan kata yang engkau inginkan" pesan yang sering beliau katakan.

***
Setelah beranjak dewasa, kata-kata itu terngiang ditelingaku. Kata apakah yang beliau maksud. Satu dua kata telah aku lalui disertai perjuangan. Namun belum juga merasakan yang tepat, dengan tertatih aku mengutarakan niatku.

"Bu" sapaku.
"Iya" jawabnya.
"Dulu sering Ibu bilang deretan kata maksudnya apa iya?" tanyaku
"Anakku, Apakah kamu sudah memikirkan tentang mimpi?"
"Iya, sudah" jawabku tegas
"Apakah mimpimu terwujud?"
"Be ... e ... e ... lum" jawabku amat takut
"Kenapa?"
"Aku belum membahagiakan Ibu"
"Itu bukan mimpi, menikahlah anakku dengan pria yang mampu menjadikanmu Muslimah dan penghuni surga"

***
Aku terjebak dengan semua itu, ya terjebak untuk memperjuangkan mimpi untuk menikah... aku ingin menikah dengan sosok yang aku impikan... Mampu menjadi Imam untukku, anak-anakku kelak. Melahirkan dan  Mendidik buah hati yang amat banyak agar populasi muslim semakin bertingkat jumlahnya, lalu menghafiz-hafizah Alquran kepada mereka, agar kelak dunia yang amat tua ini tidak semakin edan. Aku ingin genarasi islam keluargaku tak berhenti pada garisku, Semoga Allah Subhanahu wata'ala meridhoi, memudahkan aku untuk bisa hamil.

Tidak ada sebuah impian tanpa perjuangan, tanpa perbaikan diri, tanpa bekerja keras ikhtiar di jalan yang Allah gambarkan lewat Alquran. Ketika bermimpi dalam-dalam Allah menurunkan suami yang mampu membawaku kearah lebih baik, kemudian Allah pun tak tanggung-tanggung menurunkan rasa cemburu, cemburu yang amat menyayat ketika pikiranku dipenuhi kata-kata menuju kehal lain, akupun sadar aku mulai jatuh cinta dengan suamiku lewat rasa berenang ke Muara lembah hatinya. Aku tak mampu tanpa sosok suamiku jika aku masih mau  untuk melanjutkan mimpi. Aku butuh Imam seperti Dia.

***

Dalam keseharian, jedah waktu yang amat singkat ini. Dibulan yang suci  penuh berkah semoga tidak hanya aku yang bermimpi sama untuk menggapainya.

Walau saat ini, Aku belum dipercayai untuk menjadi sandaran buah hati. Setidaknya kini aku sudah ikhlas menerima tempat saling berbagi untuk keluargaku.
Siap bersedia mengikuti, melangkah bersama Imamku ... Jika ikhlas menerima, pasti merasakan betapa besar arti Cinta. Namun jika selalu menuntut, percayalah. Sebesar apapun yang diberikan tak mampu membuat keinganan merasa cukup.
Halal menjadi bahagia,
Bersamanya menjemput asa,
Dibawah kuasa sang maha kuasa,
Allah Subhanahu wa'atala.

Taiwan, 15 Juni 2017.

Thursday, May 11, 2017

JIKA SELINGKUH INDAH

Allah menciptakan Dua insan berbeda, dari tulang rusuk Adam, menumbuhkan rasa cinta dan terdampar dalam-dalam muara jiwa hawa, bersatu untuk mahligai Asmara.


Tidak ada seorangpun yang mengerti, senyumku terbalut teduh, candaku membius kepura-puraanku, kata-kataku tertata rapi setiap kalimat yang kulontarkan mengandung nada yang bijaksana semua berazaz dasar agar engkau terlihat sempurna.


Kau gambarkan cerita lewat lagu, nyanyiannya terdengar syahdu ada apa dengan sesuatu yang sedang terjadi, kucium aroma lain dari ruang lingkup keseharianku. Ternyata ....



Bersambung





Thursday, April 27, 2017

BUAH HATI

Buah Hati
Karya :Yuhalini

Siapa yang harus disalahkan Bi, ketika telapak tangan kau balik dan kau katakan "Aku Pria bujang" Sejatinya wanita mudah mencintai terlebih telah lama kemarau dalam kasih sayang. Setelah Abi kenalkan sandaran aku lelap dalam teduh cintamu yang rindang. Tapi maaf Bi, jangan kau beri kebahagian baru dengan tanaman lain. Hatiku tak ikhlas untuk berbagi.

"Adel ! kamu Adel kan?"
"Maaf Anda siapa?"
"Kenalkan aku teman smasa SMP dulu, Restu!"
"Restu? yang dulu selalu dihukum gara-gara telat masuk kelas?"
"Ya, itulah aku.Hmmm kok masih ingat sih?"
"Di kelas itu siapa lagi pemilik nama itu"
"Hee ... he ... he ..."
"Ngapain di Jakarta, tinggal di mana?"
"Ini kartu namaku"
"Ok, aku simpan"
"Kamu sendiri tinggal di mana?"
"Aku ngekos tak jauh dari sini, Setiap pulang kerja aku suka duduk di sini hanya saja ... sudahlah jangan bahas masalah itu tidak penting"

***

Terdiam satu sama lainnya, Hanya terdengar lagu indah.

Cinta tak pernah sesakit ini
Cinta tak pernah seperih ini
Yang aku minta tulus hatimu
Bukan kau curangi aku

Rasa yang ada di dalam hati
Tangis yang ada saat kusendiri
Inilah akhir kisah cintaku
Kisah bersamamu

Kau yang telah memilih aku
Kau juga yang sakiti aku
Kau putar cerita
Sehingga aku yang salah

Kau selalu permainkan wanita
Kau ciptakan lagu tentang cinta
Hingga semua tahu
Kau makhluk sempurna

Mungkinkah semua mereka tahu
Saat hatiku luluh kepadamu
Kau pergi dengan kisah yang baru
Dan kusimpan diketulusan hati

Kau yang telah memilih aku
Kau juga yang sakiti aku
Kau putar cerita
Sehingga aku yang salah

Kau selalu permainkan wanita
Kau ciptakan lagu tentang cinta
Hingga semua tahu
Kau makhluk sempurna

Kau yang memilih aku
Kau yang memilih aku
Kau yang memilih aku

Kau yang telah memilih aku
Kau juga yang sakiti aku
Kau putar cerita
Sehingga aku yang salah

Kau selalu permainkan wanita
Kau ciptakan lagu tentang cinta
Hingga semua tahu
Kau makhluk sempurna

Kau yang telah memilih aku
Kau juga yang sakiti aku
Kau putar cerita
Sehingga aku yang salah

Kau selalu permainkan wanita
Kau ciptakan lagu tentang cinta
Hingga semua tahu
Kau makhluk sempurna.

"Kamu suka lagu itu?"
"Yah Aku menyukainya"
"Alasannya?"
"Kamu tidak perlu tahu"
"Okey aku memang hadir di ruang yang salah tapi aku ingin kita menjadi teman?"

***

Kulirik jarum jam sudah semakin larut, rasa hawatir berkecamuk. Sudah dua bulan ini Mas Restu pulang kerja tiap kali aku tawarkan makan malam selalu memberi alasan yang sama sudah makan di kantor. Apa sudah tidak lagi rindu dengan olahan tanganku.

Kutatap lekat cermin itu yang menjadi teman setiaku

"Cermin apakah aku masih cantik?"
"Tidak"
"Cermin apakah aku sexy?"
"Juga tidak"
"Cermin apakah aku tua?"
"Iya, kau terlihat lebih tua, itu semua baktimu untuk melahirkan Anak dari suamimu, waktumukau habiskan bersama buah hatimu, ragamu kau taruhkan untuk mengurus seisi rumah agar wangi menjadi surga suamimu kala Dia pulang dari kerja, kini perlahan kau tinggalkan dirimu untuk bercermin. Kau lupa dengan semua itu"
"Cermin, Aku ikhlas asal Istana ini terjaga dalam kebahagian"
"Lalu apa yang mengusik muara jiwamu?"

Ting tong ... ting tong ...Assalamualaikum

"Abi, Walaikum salam."
"Anak-anak sudah tidur umi"
"Sudah, umi buatkan teh ya bi"
"Abi mandi dulu kalau begitu"

Setelah aramo teh menguatkan ruangan ini ruanganpun lebih segar aku merebahkan diriku dekat erat suamiku, dimana bayangan indah saat masih pacaran terlihat jelas didepan layar TV sengaja aku ingin memutar kenangan manis video berdurasi beberapa menit.

"Abi"
"Ya sayang"
"Masih sayang umi?"
"Kok tanya seperti itu?"
"Coba abi lihat video itu disana terlihat Abi begitu amat mencintai umi"
"Emang kasih sayang udah berkurang gitu?"
"Tidak sih, cuma umi pingin tau siapa Wanita yang kerap memanggil abi, Dear. Andai Abi lupa dengan ikrar abi tentunya abi lebih harus berjuang... dulu abi berjuang untuk umi sampai akhirnya kita menikah, akan abi menghianati buah hati kita? dengan cara abi mendua?  Aku perempuan bi, andai belum ada buah hati aku rela mengalah. Tunjukan padanya bahwa sannya Abi yang ia banggakan sangat mencintai uminya."
"Dengan cara apa?"
"Abi pilih madu"
"Atau hidup di Istana yang sudah abi bangun"

***

"Abi mau kemana?"
"Ke kamar Princess buah hati kita"

***

Ya Allah jadikanlah pasanganku jodohku sehidup seakhirat nanti dengan buah hatiku yang kelak menjadi penolong orangtuanya di Akherat. Jika kedua tangan mengharapkan Doa tidak mampu mengembalikan suamiku. Maka tunjukan kuasa Mu Ya Rabbi.

***

Pagi buta, aku pura-pura masih tertidur, Abi mengecup keningku. Aku tahu aku kemesraan ini segera berakhir. Abi akan menghadirkan bidadari baru di istana ini. Menjadi pelitanya. Bagai mana buah hatiku apakah dia pantas mendapatkan kisah seperti ini dikehidupannya.

***

Tepat pukul jam 6:45 Sudah berada di depan rumah Adel.

"Adel maafkan aku, aku tidak tega melihat anakku menjadi korban kenafsuanku. Ku teramat mencintai keluargaku. Maafkan aku Adel. Kau boleh memukul ku mencakarku sepuasnya tapi aku tetap tidak bisa membagi ragaku kepelukanmu.

Kutinggalkan rumah Adel, dengan wajah lebam, tercakar, baju koyak dengan pikiran yang tenang. Untuk meminta maaf kepada Umi..

umi ... umi ...umi

"Astahgfirullah abi kenapa berdarah,bukannya abi pergi kekantor? biar ummi bersihkan."
"Umi abi tidak sakit, luka ini belum seberapa sakit yang umi rasakan saat abi hilaf. maafkan abi ummi. Marilah kita membangun Istana ini ke jalan yang Awal kita gambarkan. I love you.

Taipei, 27 April 2017 (17:02)

Tuesday, November 8, 2016

PACAR HALAL

PACAR HALAL
Oleh : Yuhalini

Ribuan detik telah berjalan memutari angka-angka yang silih berganti dari waktu ke waktu tanpa kusadari statusku telah berubah, aku gadis yang bersuami. Usia memakanku untuk terus belajar menjadi istri yang shalehah. Namaku Nila.

"Menikah itu indah ya Bang"

Ku usap rambut suamiku yang tertidur lelap di sampingku, aku terus menatap wajahnya. Sesekali aku kecup keningnya.

"Bang, aku sayang abang, tidak peduli bagaimana rasanya hidup seatap dengan saudara yang lain, selagi abang masih terus bersamaku, menjagaku, aku akan terus bertahan bang. Jangan pernah tinggalin aku bang"

Tanpa kusadari nadaku membangunkan lelapnya.
"Dek, kok belum tidur?"

"Ada apa sayang, sini cerita sama abang ...!"

"Adek terbangun karna rasa haus bang"

Kututupi kegelisahanku, ini bukan akhir dari segalanya. Lambat laun setiap pasangan akan mengalami satu masalah. Masalah itu entah datang dari ekonomi, Pasangan sendiri, Orang lain.

Di awal pernikahanmu, sulit bagiku untuk beradabtasi di lingkungan yang mayoritas adalah perokok.

Kumemang tidak mengengakang suamiku untuk merokok. Tapi kulihat Setiap hari bisa menikmati batangan rokok itu habis sebungkus dalam sehari, bukan dia habiskan sendiri. Melainkan ia menawarkan kepada teman-temanya.  Didalam rumah juga seperti warung kopi.  Bau khas Kopi dan Asap rokok merasuk ke dasar hidungku.

Andai, aku punya rumah sendiri, menikmati kehidupan baru ini dengan berdua. Tapi saat ini belum mungkin terjadi. Penghasilan kerjaku yang bertahun-tahun tidak aku bawa dalam pernikahanku. Sebab, itu hasil kerja kerasku sendiri bukan kerja bareng suamiku.


Walau begitu, aku tetap mencoba. Untuk bisa menjadi bagian keluarga suamiku. Disini bukan hanya ada aku. Menantu yang lebih dulu dia adik iparku. Mencerita omongan yang membuat aku terus memotivasi untuk terus ingin pisah dari keluarga ini.

"Sayang kenapa kok malas makan?" Tanya suamiku kala orang-orang terlelap tidur
"Adek makan kok Bang"
"Bohong"
"Kan tadi makan bareng Abang"
"Iya tapi sedikit"

Sesak nafas ini, inginku mengadu tapi lidah serasa keram. Ya Allah jadikan lah hamba sebagai istri yang memiliki kelapangan dada, keikhlasan yang penuh, kesabaran yang kuat, untuk menjalani semua bersama suamiku.


***

Akhirnya, kita putuskan untuk merantau ke Jakarta. Walau jauh dari kata mewah, setidaknya hidup kita jauh lebih baik, hati jauh lebih nyaman, pikiran jauh lebih tenang. Karena tak sorangpun yang melukai pikiran kita dengan sindiran halus mampu menelan daging pertumbuhan jasad kita menjadi pikiran hati.

Seperti biasa, Sebelum melakukan aktivitas, menyongsong hari di awali dari shalat subuh, setelah itu membuat sarapan dan menikmati bersama. Kehidupan sederhana seperti ini aku justru bahagia. Terlebih melihat suami yang begitu semangat mencari rizki, lepas sarapan. Suami berpamitan.

Aku baru memulai tugasku sebagai Ibu Rumah Tangga, memastikan. Baju kotor sudah di cuci bersih, di gantung tertiup angin, piring kotor sudah berjajar di atas rak kecil. Gelas dan Sendok kembali berdiri di atasnya. Alas tidur sudah di gulung disudut kamar. Selesai sudah tugasku. Jika suami tak ada dirumah rasa kesepian mulai menyelinap. Menunggu hingga matahari terbenam. Kontrak ini kembali penuh cinta.

Cinta halal, berasa masih pacaran yang tertunda, dengan ikatan kuat seperti ini tak takut lagi di hakimi oleh penista gosip. Ya, patut kita syukuri nikmat dan karunia yang Allah berikan jodoh terbaik buat kita. Semoga cinta kita abadi selamanya. Sampai di akhirat Nanti.


Taiwan, 9 November 2016 (11:10)
















Tuesday, July 12, 2016

HALALKAN AKU (Cerpen)

Roda empat,  pagi buta sudah memarkirkannya di depan Apartement milik Tuan.  Fu,  siap menjemput aku meninggalkan Negeri Formosa.  Linkou Distrik yang sudah aku habiskan rasa Asin,  Asem,  Manis,  Getir dan Hambar sekalipun.  Aku menelannya secara paksa.  Demi apa?  demi puluhan NT Dolar teruntuk Ibu tercinta. 

Tanggal 19 Februari 2016,  menjadi saksi perpisahan antara aku dan keluarga majikan.  Setelah kaki ini melangkah sengaja aku tidak menolehnya kebelakang.  Aku yakin dengan Bissmillah inilah akhir perjuangan. 

Pintu Lift mulai merambat dari lantai ke lantai hingga ke tempat aku berdiri menunggu,  bersama majikan pria. 

"Siao li.  Siesie" biasa majikan wanita memanggilku

aku menolah kearahnya walau dengan berat hati.  

"Wo khui Ta tien hua kei Ni" sambil menunjukan tanganku kearah telinga seolah menggenggam gagang telpon. Akupun memasuki lift yang sudah terbuka dan di tekan tombol 'open' oleh majikan priaku. 

Hufffttttt...

Di dalam lift hanya ada aku dan Dia,  kita diam.. 

hanya ada isakan tangis yang aku tahan. 

"Wo ce tau Ni hen singku,  Siesie Ni"

"Pu sielah,  Wo hen Nankuo,  Likai Nimen.  Nimen tui wo neme Hao.  Cintien wo yao hui cia Cao wo Mamah"

***

Satu,  Dua,  Tiga menit terlewati..  ketika detik terakhir melangkah untuk selamanya. Satpam memanggilku. 

"Siao Li siao ce ma? ,  yio tien hua kei Ni."

aku dan majikan pria saling memandang. 

"She sei?"
"Jhong Sheci (17) lo"

"Ghe neng she Thai~thai,  ching cie pa! " majikan pria mempersilahkan. 

"Wei,  she Wo Siao Li"
"Sie~sie Ni,  Wo pu she pu yao pao ni.  Wo pa ni hui Nankuo.  Wo ce tau ni cao ku siao beng yio hen lei,  Yio she hou tamen tui ni fabici,  ni icing ren nai.  Sien cai ni yao hui Cia cao Ni fumu.  Na..  ni khuai tien hui cia pa.. Sie~sie Ni" 😂
"Wo ye hen gan sie Nimen,  nimen rang wo cuo le hen ciu..  wo ye tui pu ci yio she hou ma siao beng yio,  Rukuo tao inni wo masang ta tien hua kei ni.. Cai cien" 😂

"Khuai tien na" teriak pak supir yang sudah lama menunggu


Sedangkan majikan pria mendorong koper satunya,  karena aku membawa koper dua dan satu ransel. 

"Ni i khe ren tai neme tuo sing li khui ma? "
"Khe i,  Wo nan pengyio ken wo iji hui cia,  women tao feiji jang khui hui he. Ta khui pang mang"
"Na hen hao,  cai cien"
"Cai cien,  Sienseng sie~sie Ni"

***

Pukul Dua siang waktu Indonesia bagian Barat,  Pesawat mendarat,  hati senang jiwa bergembira Ria,  aku tiba lebih awal.  setelah cek paspor di bagian imigrasi lalu aku bergegas mencari dua koper bawaan lalu menunggu Tunanganku yang hampir saja tiba.  Harap~harap cemas pengantar do'a semoga Dia selamat.  

***

Di luar tempat Parkir,  kedua saudara laki~lakiku,  Abang dan Adik beserta yang lainnya.  sudah tiba entah pukul berapa.  Sesekali mereka melihat jam,  sesekali fokus dengan handpon nya takut mereka tak mendengar kabar dariku. 

***

Sedangkan ibuku sudah sibuk dengan menu masakan untuk menyambut kedatangan Anak gadisnya bersama calon menantu,  ia menyiapkan menu sederhana olahan tangan rentanya.  

ah aku sudah tidak sabar ingin menikmati masakan ibu,  terlihat sejenak dari jauh..  baju batik merah yang ia kenakan sudah terlihat begitu dekat.  ia sedang berjalan kearah pengambilan koper,  tanpa ragu aku berteriak. 

"Ang Triiiiii........i"

Ia melihatku dan kami bersalaman. setelahnya Aku menunggu dengan barang bawaanku,  di atas Troli. 

***

bersambung







Wednesday, February 3, 2016

SABAR DAN SENYUM

Tenda hijau tua berpadu dengan warna biru muda, membuat suasana semakin terlihat damai menyertai mempelai Laki-Laki dan Perempuan. Muhammad Aril dan Adinda Ayu. Keduanya disatukan di mana keduanya menjadi aktivitas sebuah Organisasi Sosial di Taiwan. Merajutlah kisah asmara di tahun ke tiga (3) kontrak mereka, entah secara kebetulan atau sudah menjadi garis jodoh yang Allah atur untuk keduanya dalam menjalankan sunah Rasullah. Pelaminan.

"Bahagia sayang?" tanya suatu ketika sang suami kepada istri tercinta.
"Tentu bahagia Mas" terlihat menutup rona kesedihan di balik wajah teduhnya.

*** 

"Mas, apakah engkau sudah tidur?" 

Memutari tubuh sang suami yang tak seperti biasanya, memeluk hangat tubuh sang istri dalam dinginya malam. Sang suami tidak ingin membuat sang istri jatuh sakit. Ia jadikan selimut hangat semenjak awal telah di 'sah' kan menjadi Kepala Rumah Tangga.

Tetapi beda dengan malam ini. Sang suami tidak memeluknya. Suami bergeming. Sang istri bergitu resah. 

"Apakah aku punya salah terhadap suamiku? Ya Allah luruskan semuanya seperti sediakala" batinnya memohon doa. Bagaimanapun dia amat menghargai sang suami.


*** 


Laju kehidupan begitu amat menyayat hati. Hidup di Taiwan membuat Ayu serba kecukupan dengan hasil kerjanya. Ingin apapun bisa di beli setelah 'gaji' sudah ia dapatkan. Wajar. Tetapi semenjak menikah dan menetap dalam kontrakan tua. Ia memulai ceritanya menjadi Asisten sang suami. Teguran baginya agar hidup berhemat. Berbeda dengan sang suami yang memang sudah terbiasa dalam kesederhanaanya.

"Dek, yang sabar" 
"Sabar, sabar, sabar sampai kapan Mas?"
"Istighfar Dek, ini ujian kita. Kita harus mampu melewatinya."
"Pokoknya kita harus balik lagi ke Taiwan. Melanjutkan mimpi kita!" 

"Sabar, Mimpi?"  suami menegaskan
"Iya, bukankah selepas menikah kita akan kembali lagi?"

Memeluk erat tubuh sang Istri, Jangan sampai ia menjadikan dirinya sebagai Api. ia biarkan istrinya dalam tangis dan kata-kata tetapi pelukan ia tak akan melepasnya. Ia tahu bagaimana menenangkan sang tercinta. 

Setelah ia agak reda. Ia memulai wejangan. Membelai hijab istrinya dalam pangkuannya. 

"Sayang bolehkan mas bicara"

Dia hanya menganggukan kepala, sebab suaranya nyaris menjadi serak akibat kemarahan syetan. 

"Sayang, Sabar itu tidak memiliki batas, karena hidup itu harus menjadi sabar, jika Allah masih memberikan kita nafas, berarti kita harus mau menjalani dengan rasa sabar. Dan Mimpi. Mimpi ada di hati kita, bagaimana kita membuka hati di manapun kita tinggal maka mimpi itu akan mengikutinya berusaha mewujudkan semua. Tinggal bagaimana adek memilih. Adek masih mau mendengar arahan mas?"

"Maafkan mas yang belum bisa memenuhi keinginan Adek Ayu. Mas berusaha untuk menafkahi walau saat ini kita hanya cukup buat makan."

"Maafkan Adek mas, adek hilaf."

"Mas faham, inilah bukti bahwa omongan oranglain jauh lebih 'pedas' biarkan mereka mau ngomong apa terpenting, dalam hati balas dengan doa, semakin adek mengikuti apa kata omongan mereka, adek sendiri yang akan mengahapus kebahagian membuat hidup dirundung masalah. Masalah hanya datang kepada seseorang yang semua perkataan di masukan kedalam otak tanpa di pilih dan pilah mana kata-kata positif dan mana perkataan negatif."

***

Hening ...



"Mas, adek sayang Mas, jangan tinggalin adek dalam keadaan apapun"
"Sebaliknya ya sayang. Bantu mas dengan Doa dan Senyum. Bagi mas semangat Mas ada bersama ketika yang tercinta tersenyum." 

I Love You.

New Taipei City, 4 Februari 2016 (09:13)


Tuesday, January 19, 2016

Anak Kaya Beliau menjadi Pembantu

Anak Kaya Beliau menjadi Pembantu
Oleh : Nok Yuli Yuhalini
Terdapat, sepasang Suami Istri, membangun biduk rumah tangga, getirnya kehidupan mereka lalui bersama. Gaji Rp10.000,- perhari bekerja sebagai tukang cuci baju milik tetangga yang membutuhkan jasanya atau iba melihat keadaan mereka.
Sedangkan sang suami pekerja buruh kuli pecabut rumput milik juragan kaya raya bergelimang harta yang tak pernah mau berbagi hanya Rp500,- recehan. Maklum berdarah cina.
Mereka memiliki anak semata wayang bernama Rindu. Dia anak yang baik, penurut, rajin ibadah dan taat pada orangtua semasa kecilnya. Apa yang ia minta orangtuanya berusaha keras untuk membiayai kebutuhannya. Tak elak ketika sang Bapak memarahinya.
"Sudahlah pak Rindu masih anak-anak" bela Sang Ibu ketika Rindu melakukan kesalahan
"Ibu selalu membelanya mau jadi apa dia nanti kalau sudah dewasa atau ibu pingin dia menjadi kuli seperti kita" Amarahnya membuncah deretan piring Alumunium telah menjadi alunan musik indahnya.
Keduanya, berpelukan antara Rindu dan sang Ibu "Sudah Nduk jangan membantah apa kata Bapak. Bapak sayang sama kita." nasehat sang ibu.
***
Hening, kumandang Subuh membangunkan mereka ... lalu ketika menggedor daun Pintu mengajak seisi rumah untuk berjamaah.
"Bapaaaaaaak" Teriak Ibu ketika melihat isi kamar anaknya.
"Rin .....!"

Sepucuk surat ia tinggalkan di atas meja tua di sudut ranjang bambunya.


*** 

Seperti biasa, seminggu berlalu, pergantian tahun menjemput usianya yang semakin renta, Doa seorang ibu tak pernah putus memendam rindu sesuai anaknya bernama R.i.n.d.u

"Cepat pulang Nduk, tidak berasakah hatimu mengingat kami orangtuamu" membatin rasa haru kepada anaknya yang entah di mana.

"Ibu kini hanya sendiri, berteman gubuk tua peninggalan bapak. Bapak sampai sakit kena hujan dan menerjang badai beserta halilintar demi mencarimu sampai ia mengehempuskan nafasnya, semua demi kamu." ia pun terlelap dalam tidur. Di atas tikar yang tak layak, bangun rumah yang sudah bocor sana-sini jika musim penghujan rumah sudah tidak pantas di anggap rumah, lebih pantas bagaikan kandang bebek penuh akan lumpur.

Tetapi enggan membuatnya beranjak, walau pak Kades dan pak Lurah menyuruh beliau untuk beranjak ke rumah yang telah di bangun khusus oleh pemerintah guna di tempatkan seperti Ibu, Dijah.

Rasa sayang beliau, kepada Rindu. Ia enggan pindah, sebab dalam benaknya Rindu akan kembali. Memenuhi janjinya. dalam surat itu.
Bapak, Ibu
Maafkan aku yang telah diam-diam
Meningalkan jejak melalui jendela kayu
Kutinggal kalian di tengah nyeyak malam

Aku pergi untuk kembali
Bukan untuk sehari dua hari
Tapi entah sampai kapan aku tak dapat memastikan diri
Tentunya, ketika aku berada di sini keadaan telah berganti

Sayang bapak kepadaku terlalu keras
Hingga aku tak bisa bergerak bebas
Mengikuti kreatifitas
Yang tersembunyi tetap membekas

Ibu bidadarimu 
Beranjak dewasa
Tanpa Engkau sadari kini aku berada di luar rumah
Tanpa permisi dan pamit; aku anak durhaka

***

"Mas, bolehkah adek meminta sesuatu?" Utaranya kepada suami tercinta
"Boleh sayang, silahkan katakan. !"
"Selama ini segala apa yang adek pinta mas selalu berusaha memenuhi" ujarnya
"Lalu, apa yang menyiksa batinmu sayang?" sambil mengelus lembut rambut indah milik istrinya selama Limabelas (15) Tahun terahir menemaninya.
"Adek ingin pergi berlibur tapi tidak mengikut sertakan seisi rumah, hanya adek sendirian bolehkah mas?" Dengan deru nafas bagai ambulan membawa pasien yang harus segera dirawat di ruang gawat darurat. Mendegup kencang sekali.
"Bolehkah Mas tau sayang hendak kemana?" tanya suami menyeledik.


Sang Istri, menahan rasa dalam benak jiwanya yang diiringi kesalahan teramat besar, sekian waktu sudah ia tingalkan tanpa kabar, surat atau pun telpon kepada sang bunda di kampung halaman. Di mana Desa itu yang telah mengajarinya arti moral simbolis kehidupan.

Bapak ...
Ibu ...
Aku akan kembali ...

"Sayang bangun ... sayang bangun ....!" menggugah sang istri dalam mimpi buruknya.
"Mas ..." cup ... cup ... cup sudah sudah jangan menangis, cubit manja dari sang suami.
"Sayang boleh kok pergi berlibur, tapi ingat jaga diri baik-baik, biarkan Putra dan Putri kita bibi Inem yang mengurus. Jangan lupa untuk terus mengirim messenger, BBM, Line, dan Kontak ke Mas iya" pesannya tanpa meninggalkan jejak penasaran.
"Iya mas terima kasih."
"Bobo sayang besok harus perjalanan kan?" tanyanya.

Laju roda Empat (4) menyusuri pelosok-pelosok yang dulu ia lewati saat bermain bersama teman-teman sebaya walau dirinya sudah mengubah kehidupan lusuh dan Miskin membuat dirinya malu mengakui siapa sejatinya, kehidupannya kini hanyalah sebuah Dongeng yang tidak hanya di layar kaca, sinetron. Tetapi kehidupan dongeng itu terjadi kepada Rindu. ya Rindu gadis ayu  semata wayang bernama Rindu. anak dari Bapak Darman dan Ibu Dijah. Dia anak yang baik, penurut, rajin ibadah dan taat pada orangtua semasa kecilnya. tetapi kehidupan Kota Metropolitan menyulap dirinya dan enggan mengakui dirinya sendiri di hadapan keluarga sang suami, yang kaya raya. pada masa itu entah apa yang ada di benak rindu, Sekarang nama Rindu telah mengubur dalam-dalam menjadikan nama baru yaitu Cinta. Sesuai Maknanya Cinta yang di kelilingi banyak pemuda-pemudi yang menjerumuskan dirinya ke kubangan kupu-kupu malam. 

Hingga pada suatu hari, Duda kaya menariknya dengan memperistri hingga hari ini, pernikahan sah. Kantor Urusan Agama, di bawah wali hukum. Keduanya hidup bahagia dan melahirkan anak-anak yang cerdas, Pihak suami tidak pernah menanyakan kisah masalalunya dan siapakah Rindu alias Cinta sebenarnya. Yang ada hanya Rindu mampu menjadi Istri yang baik. Dan pandai mengurus anak-anak.

Pada akhirnya kegelisahan menerawang jelas, sejengkal memasuki Gang-gang kecil dengan sedan melaju lahan, ia menengok ke kanan dan ke kiri memperhatikan bangunan rumah yang sungguh terlihat berbeda pada masa kecilnya dulu, tepat di gang buntu, mobilnya berhenti. Terlihat tidak ada perubahan sama sekali tataan rapi pot-pot kecil dengan bunga mawar yang begitu indah terawat rapi.

"Alhamdulillah ibu masih merawat untukku" tak sengaja airmatanya menjatuhi baju modis berwarna hijau muda yang begitu anggun. Banyak tetangga berlalu lalang memperhatikan dirinya. Sedangkan Rindu tak menghiraukan mereka, ia masih asik dengan sentuhan lembut sesekali memutarkan tubuhnya meraih kuncupan mawar yang jauh dari jangkauan tangannya. 

"Rin ... d ... u ... !" suara tak asing milik bundanya mencoba memanggil dirinya

Menoleh ke arah suara, ingin sekali merangkul dan membelajai serta sujud di kakinya, namun kaki enggan bergerak.

"Itukah kamu Nduk? Rindu maafkan Ibu, pandangan ibu sudah tidak lagi setajam dulu tapi ibu yakin dengan caramu memainkan kelopak mawar itu adalah kamu."

"Ibu ... ibu ..." Rindu segera berlari menujunya ia memeluk erat dengan rasa kangen yang selama ini terpedam, membuncah pertemuan anak dan Ibu setelah belasan tahun.

Hanya mereka berdua, kini tersisah. Para tetangga sudah meninggalkan mereka menjelang gelapnya malam, rumah ini hanya bersinar lampu minyak tanah. Terjelas kisah hidup era 80-an. Namun ibu masih menikmatinya.

"Ibu kenapa tidak pasang listrik?" tanyanya
"Listrik telah di cabut oleh pemiliknya karena ibu sudah tidak mampu membayar tagihannya, setelah bapak meninggal"
"apa?"
"Iya, Bapak meningal hampir Lima (5) tahun.  Ia tak pernah putus asa mencarimu, kemana saja kamu Nduk?" isak tangis tercekat di radang tenggorokannya, ia tak mampu lagi mengeluarkan kata-kata.
"Maafkan Rindu ibu, aku kembali ingin menengok Ibu. lalu ...!"
"Bawa Ibu ikut bersamamu Nduk, ibu mohon jangan tinggalkan ibu, ibu butuh kamu. menemani sisah senja ibu. Boleh iya nduk." memelas.

Memegang erat jemari sang bunda, Ibu mengertilah ... perlahan melepaskan genggaman erat milik tangan yang menyuapinya dulu. Aku tidak bisa membawa tinggal bersama kami.

"Kami? apa maksudmu Nduk?"

"Ya kami, aku telah berkeluarga, selama ini aku tidak pernah menceritakan siapa asal-usulku. Termasuk ibu. Mengertilah."

Ibu hanya terdiam, bagaimanapun sang bunda tidak mampu marah, ia berusaha sabar menunggu jawaban sang anak, akan ia membawa ikut serta atau meninggalkan kembali hingga tanah menjemputnya di kediaman terahir.

***

"Mas, adek pulang, coba lihat adek bawa siapa?"
"Siapa sayang? kita ngambil pembantu baru lagi? ya sudah nanti suruh ikut sekamar sama Bi Inem"

Rindu hanya menatap sang bunda, dalam tatapan kosong antara tega dan iba. Ibunya menjadi Pembantu dalam kekayaan anak semata wayangnya. Dongeng telah melumpuhkan total naluri sesungguhnya.

"Tidak apa Ndoro Putri, tolong antarkan saya ke kamar yang tuju, permisi Tuan"
"Iya ati-ati ya Bu, siapa tadi namanya? Dijah Tuan nama saya."

***

Cinta hanya melamun setelah ibunya tinggal bersama mereka, sedangkan sang ibu begitu amat terlihat bahagia dengan cucunya, walau sebenarnya ingin ia katakan kepada sang suami siapa pembantu dirumah ini sesungguhnya.

Suaminya memperlakukan begitu sangat ramah, tapi ia ingat akan almarhum perkataan mertuanya dulu. "Ia tak sudi memiliki besan orang Miskin, makanya pas acara Nikahan dulu. Ia menyewa seseorang sebagai jalan menuju kelancaraan hidupnya sekarang."

Biarkan kisah ini berjalan dan berahir seperti apa, walau Ia bekerja sebagai Pembantu di rumahku tetap kami memiliki rasa hormat kepada walau sejatinya tidak ada seorangpun yang tahu. Tentang Rindu, Cinta dan Bu Dijah.

The End ...

New Taipei City, 20 Januari 2016 (08:15)

Biodata penulis 

Nok Yuli, dara jutek dari Kota Indramayu. Penulis buku Harga Diri itu Mahal, Autobiografi dan Surga Cita di Linkou, Novel. Dan kumpulan karya antologi baik cerpen dan puisi yang sudah di terbitkan. Salam BMI (salam berkarya menulis inspirasi), sebagai motto hidupnya di dunia literasi. Membaca dan menulis sebuah kewajiban iya. Salam BMI (Salam Berkarya Menulis Inspirasi), Desa Babadan Tenajar, kertasemaya-Indramayu Jawa Barat-Indonesia.

Facebook : Nok Yuli Yuhalini
Fanpage : Nok Yuli Yuhalinii dan BMI Taiwan Menulis