Judul : Deretan Kata
Oleh : Yuhalini
Allah maha Sempurna dengan segala kesempurnaannya. Tak ada yang menandingi-Nya dengan kuasa apapun. Allah menciptakan Manusia, Tumbuhan, Hewan dan Keindahan Alam beserta Gunung-gunung tinggi di Dunia ini.
Ketika Allah menciptakan Aku melalui perantara Orangtuaku, Dengan keadaan yang suci tanpa Dosa. Setiap orang yang bertandang melihatku mengucapkan Do'a selamat kepada Beliau. Berharap kelak tumbuh dewasa aku bisa menjadi sosok yang lebih baik dari kedua orangtuaku. Menjadi Muslimah dalam keluarganya, berbakti kepada orangtua. Mampu menyelamatkan dengan Doanya jika kelak sudah dialam bakar.
"Anakku, kejarlah deretan kata yang engkau inginkan" pesan yang sering beliau katakan.
***
Setelah beranjak dewasa, kata-kata itu terngiang ditelingaku. Kata apakah yang beliau maksud. Satu dua kata telah aku lalui disertai perjuangan. Namun belum juga merasakan yang tepat, dengan tertatih aku mengutarakan niatku.
"Bu" sapaku.
"Iya" jawabnya.
"Dulu sering Ibu bilang deretan kata maksudnya apa iya?" tanyaku
"Anakku, Apakah kamu sudah memikirkan tentang mimpi?"
"Iya, sudah" jawabku tegas
"Apakah mimpimu terwujud?"
"Be ... e ... e ... lum" jawabku amat takut
"Kenapa?"
"Aku belum membahagiakan Ibu"
"Itu bukan mimpi, menikahlah anakku dengan pria yang mampu menjadikanmu Muslimah dan penghuni surga"
***
Aku terjebak dengan semua itu, ya terjebak untuk memperjuangkan mimpi untuk menikah... aku ingin menikah dengan sosok yang aku impikan... Mampu menjadi Imam untukku, anak-anakku kelak. Melahirkan dan Mendidik buah hati yang amat banyak agar populasi muslim semakin bertingkat jumlahnya, lalu menghafiz-hafizah Alquran kepada mereka, agar kelak dunia yang amat tua ini tidak semakin edan. Aku ingin genarasi islam keluargaku tak berhenti pada garisku, Semoga Allah Subhanahu wata'ala meridhoi, memudahkan aku untuk bisa hamil.
Tidak ada sebuah impian tanpa perjuangan, tanpa perbaikan diri, tanpa bekerja keras ikhtiar di jalan yang Allah gambarkan lewat Alquran. Ketika bermimpi dalam-dalam Allah menurunkan suami yang mampu membawaku kearah lebih baik, kemudian Allah pun tak tanggung-tanggung menurunkan rasa cemburu, cemburu yang amat menyayat ketika pikiranku dipenuhi kata-kata menuju kehal lain, akupun sadar aku mulai jatuh cinta dengan suamiku lewat rasa berenang ke Muara lembah hatinya. Aku tak mampu tanpa sosok suamiku jika aku masih mau untuk melanjutkan mimpi. Aku butuh Imam seperti Dia.
***
Dalam keseharian, jedah waktu yang amat singkat ini. Dibulan yang suci penuh berkah semoga tidak hanya aku yang bermimpi sama untuk menggapainya.
Walau saat ini, Aku belum dipercayai untuk menjadi sandaran buah hati. Setidaknya kini aku sudah ikhlas menerima tempat saling berbagi untuk keluargaku.
Siap bersedia mengikuti, melangkah bersama Imamku ... Jika ikhlas menerima, pasti merasakan betapa besar arti Cinta. Namun jika selalu menuntut, percayalah. Sebesar apapun yang diberikan tak mampu membuat keinganan merasa cukup.
Halal menjadi bahagia,
Bersamanya menjemput asa,
Dibawah kuasa sang maha kuasa,
Allah Subhanahu wa'atala.
Taiwan, 15 Juni 2017.
No comments:
Post a Comment