Wednesday, January 7, 2015

Sayap-Sayap Patah

( https://www.facebook.com/IndosuarA?fref=ts )
Terbit di majalah Taiwan berbahasa Indonesia, Edisi Januari 2015, Th.IX.VOL.03/99


Judul; SAYAP-SAYAP PATAH
Oleh; Yuhalini






Terhitung dari 2004, hampir 10 tahun lebih kita berpisah di mana saat itu kita masih memakai seragam putih biru, kau memperhatikan dari sudut-sudut dinding sekolah terpisah ruang kelas kau hanya mengatakan dalam hatimu, Alin aku mencintaimu. Pantaskah aku menjadi kekasihmu,? “kau gadis unik di antara puluhan wanita, kadang kau begitu baik namun sesaat kau berubah sangat jutek” dalam hatinya berkata. Pengakuannya kini.

        Tanpa sengaja setelah sekian lama ketika di pertemukan jarak dan ruang teramat jauh untuk berjabat tangan, itupun terjadi ketika di salah satu persamaan pertemanan facebook kaupun langsung Add my account, pasnya aku lagi online jadi langsung persetujuan “Confirm.” Pada umumnya aku engga terlalu memperhatikan siapakah orang yang mengajukan pertemanan tanpa fikir panjang lansung aku confirm, jika nanti setelah berteman memiliki ketidak cocokan langsung aku re-move, clear.

setelah basa basi satu minggu lamanya, akhirnya ia beranikan mengungkap cintanya, “Jadi kita jadian? Alhamdulillah terima kasih ya Allah terasa mimpi” ucap syukurnya, ada senyum kemenangan di balik layar inbok facebookku yang menggambarkan tentangnya di sana, ramalanku berkata “Dia sangat bahagia mendapatkanku apalagi cinta yang dulu terpendam baru berani mengungkap cinta dengan segala keberanian karena sekarang aku jauh lebih bersahabat tenimbang dulu hanya baru di sapa langsung menunjukan sikap jutekku, alhasil mereka yang menyukaiku lebih baik mengalah untuk mundur tenimbang berjuang untuk meluluhkan hatiku.”
***
        Alin. Itulah aku sosok yang susah di tebak, cantik tidak, pintar juga tidak, temanpun sedikit. aku wanita yang tegar dan mampu berusaha untuk mandiri,  yang kini di bawah bimbingan kekasihnya, Aril. Harihariku penuh warna berkat kehadirannya, terima kasih ya Allah.

        Kini dalam benak naluri hatiku mengajukan segala pertanyaan, pantas kah aku mencintaimu?, pantaskah aku menjadi ibu untuk anakmu? Pantaskah aku, pantaskah.? Mengingat aku dan masalaluku yang suram yang sudah tidak lagi sesantun dulu, yang telah menjadi binal. Bagiku bagai terjatuhan bulan mendapat sosok sepertinya, namun aku sadar dia sosok sempurna, jikaku bersanding dengannya akan memalukan popularitasnya di pesantren, di mana selama ini ia menuntut ilmunya untuk bekal dunia akhirat, lain halnya denganku aku hanya mencari kesenangan dunia saja. Serta menjalankan kewajiban umat beragama secara sadar dengan keterbatasan waktu yang ada.

        Ah, kehidupan cinta yang tak bisa aku memiliki keduanya, ketika hatiku penuh dengan kecemasan, kehawatiran, setiap kali mendapat inbok drinya saya abaikan walaupun satu balasan inbokku nafasnya untuk bertahan dengan kesabaran menantiku untuk kembali dan mempersuntingku, yah M.E.N.I.K.A.H ! “Will you marry me?” Ia bertanya untukku dan status hubungan ini. “Ya Allah apa yang harus ku perbuat, aku tidak bisa menjawab Ya, atau Menolak.” Lirihku membatin.

        Satu inbok terkirim “jika kita berjodoh pasrahkan kepada Allah”, akupun tertidur dalam mimpi indahku, berharap esok engkau ketika membuka mata telah membaca isi pesan itu, mengerti tentang jawabanku. Keaadaan hubungan inipun di sibukan oleh waktu ketika ia hanya berpamitan lewat pesan facebook, “Dinda hari ini saya berangkat tujuan untuk bekerja, Jakarta pilihanku” pesan darinya pagi itu, ada rasa hawatir dan cemas, sampai tengah malam ia belum juga membuka facebooknya “Ya Allah Engkau serba tau tentang isi hatiku, ku mohon jaga dia untukku agar ia di selamatkan perjalan dan mendapat pekerjaan yang layak.” Doaku sebelum tidur.

       Paginya, ada satu pesan, di minggu berikutnya komunikasi yang mulai longgar, samasama sibuk, aku rasa ini hal yang wajar, kupikir ia akan mengerti, sebab hal kaya begini pantasnya di rasakan oleh; ABG (Red; Anak Baru Gede) namun tebakan yang meleset Sembilan puluh derajat, dia lebih memperbandingan dulu:sekarang, dulu aku masih sering inbok dan sekarang ia rasa ku lari darinya, padahal tanpa aku jelaskan, inbokku di kirim pagi baru di baca malam harinya, dan ketika ia membalas inboknya aku baru akan membacanya pagi nanti setelah matahari malumalu memancarkan kekuatan sinarnya.

***
“Alhamdulillah kelar kerjaku,” ucap syukurku. Saatnya ku bertatap layar hape untuk menyapa semuanya, satu pesan darinya kekasihku. Terasa membuat hari ini secara spontan membeku seperti dalam lemari es beku. Setelah membaca isi inboknya. Aku sungguh tidak kuat untuk bertahan sebab setelah berahirnya satu bulan pertama memasuki bulan ke dua, aku tidak pantas untuknya di tambah sekarang ia bersifat kaya gitu, mending aku membulatkan tekadku, “Kita sendiri-sendiri sajalah punya cowok malah tambah pusing.”

Ia pun membalasan persetujuan “Ouh ya sudah terima kasih.”
Aku tak pantas untukmu, biarkan sayap-sayap patah ini terbang menemukan tempat persingghanya, sendiri.

Aku memilih pisah agar engkau menemukan bidadari yang seimbang dengan amalan yang telah engkau dapati di pesantren, ku berdoa semoga engkau menemukan bidadari cinta selama dua puluh empat jam yang bisa menemanimu semenjak proses pacaran sampai ke pelaminan.


Sedangkan Aku entahlah. Biarkan aku terus berkelana meraih mimpi dan cita-citaku dan entah sampai kapan aku berhenti pada sandaran hati yang akan membawaku dalam biduk istana kecil kebahagian, aku pasrahkan kepada Allah semua pasti berpasang-pasangannya entah itu sekarang ataupun nanti, entah datang pada waktu pagi, siang, sore dan malam. Aku pasrahkan sayap-sayap patahku berkelana menyusuri rerumput rindu.

The end

Linkou, Januari 2015 (24:00) ====>> Titimangsa

No comments:

Post a Comment