( https://www.facebook.com/IndosuarA?fref=ts )
Terbit di majalah Taiwan berbahasa Indonesia, Edisi Januari 2015, Th.IX.VOL.03/99
Judul; SAYAP-SAYAP PATAH
Oleh; Yuhalini
Terhitung
dari 2004, hampir 10 tahun lebih kita berpisah di mana saat itu kita masih
memakai seragam putih biru, kau memperhatikan dari sudut-sudut dinding sekolah
terpisah ruang kelas kau hanya mengatakan dalam hatimu, Alin aku mencintaimu.
Pantaskah aku menjadi kekasihmu,? “kau gadis unik di antara puluhan wanita,
kadang kau begitu baik namun sesaat kau berubah sangat jutek” dalam hatinya
berkata. Pengakuannya kini.
Tanpa sengaja setelah sekian lama ketika
di pertemukan jarak dan ruang teramat jauh untuk berjabat tangan, itupun
terjadi ketika di salah satu persamaan pertemanan facebook kaupun langsung Add
my account, pasnya aku lagi online jadi langsung persetujuan “Confirm.” Pada
umumnya aku engga terlalu memperhatikan siapakah orang yang mengajukan
pertemanan tanpa fikir panjang lansung aku confirm, jika nanti setelah berteman
memiliki ketidak cocokan langsung aku re-move, clear.
setelah
basa basi satu minggu lamanya, akhirnya ia beranikan mengungkap cintanya, “Jadi
kita jadian? Alhamdulillah terima kasih ya Allah terasa mimpi” ucap syukurnya,
ada senyum kemenangan di balik layar inbok facebookku yang menggambarkan
tentangnya di sana, ramalanku berkata “Dia sangat bahagia mendapatkanku apalagi
cinta yang dulu terpendam baru berani mengungkap cinta dengan segala keberanian
karena sekarang aku jauh lebih bersahabat tenimbang dulu hanya baru di sapa
langsung menunjukan sikap jutekku, alhasil mereka yang menyukaiku lebih baik
mengalah untuk mundur tenimbang berjuang untuk meluluhkan hatiku.”
***
Alin. Itulah aku sosok yang susah di
tebak, cantik tidak, pintar juga tidak, temanpun sedikit. aku wanita yang tegar
dan mampu berusaha untuk mandiri, yang
kini di bawah bimbingan kekasihnya, Aril. Harihariku penuh warna berkat
kehadirannya, terima kasih ya Allah.
Kini dalam benak naluri hatiku
mengajukan segala pertanyaan, pantas kah aku mencintaimu?, pantaskah aku menjadi
ibu untuk anakmu? Pantaskah aku, pantaskah.? Mengingat aku dan masalaluku yang
suram yang sudah tidak lagi sesantun dulu, yang telah menjadi binal. Bagiku
bagai terjatuhan bulan mendapat sosok sepertinya, namun aku sadar dia sosok
sempurna, jikaku bersanding dengannya akan memalukan popularitasnya di
pesantren, di mana selama ini ia menuntut ilmunya untuk bekal dunia akhirat,
lain halnya denganku aku hanya mencari kesenangan dunia saja. Serta menjalankan
kewajiban umat beragama secara sadar dengan keterbatasan waktu yang ada.
Ah, kehidupan cinta yang tak bisa aku
memiliki keduanya, ketika hatiku penuh dengan kecemasan, kehawatiran, setiap
kali mendapat inbok drinya saya abaikan walaupun satu balasan inbokku nafasnya
untuk bertahan dengan kesabaran menantiku untuk kembali dan mempersuntingku,
yah M.E.N.I.K.A.H ! “Will you marry me?” Ia bertanya untukku dan status
hubungan ini. “Ya Allah apa yang harus ku perbuat, aku tidak bisa menjawab Ya,
atau Menolak.” Lirihku membatin.
Satu inbok terkirim “jika kita berjodoh
pasrahkan kepada Allah”, akupun tertidur dalam mimpi indahku, berharap esok
engkau ketika membuka mata telah membaca isi pesan itu, mengerti tentang
jawabanku. Keaadaan hubungan inipun di sibukan oleh waktu ketika ia hanya berpamitan
lewat pesan facebook, “Dinda hari ini saya berangkat tujuan untuk bekerja,
Jakarta pilihanku” pesan darinya pagi itu, ada rasa hawatir dan cemas, sampai
tengah malam ia belum juga membuka facebooknya “Ya Allah Engkau serba tau
tentang isi hatiku, ku mohon jaga dia untukku agar ia di selamatkan perjalan
dan mendapat pekerjaan yang layak.” Doaku sebelum tidur.
Paginya, ada satu pesan, di minggu
berikutnya komunikasi yang mulai longgar, samasama sibuk, aku rasa ini hal yang
wajar, kupikir ia akan mengerti, sebab hal kaya begini pantasnya di rasakan
oleh; ABG (Red; Anak Baru Gede) namun tebakan yang meleset Sembilan puluh
derajat, dia lebih memperbandingan dulu:sekarang, dulu aku masih sering inbok
dan sekarang ia rasa ku lari darinya, padahal tanpa aku jelaskan, inbokku di
kirim pagi baru di baca malam harinya, dan ketika ia membalas inboknya aku baru
akan membacanya pagi nanti setelah matahari malumalu memancarkan kekuatan
sinarnya.
***
“Alhamdulillah
kelar kerjaku,” ucap syukurku. Saatnya ku bertatap layar hape untuk menyapa
semuanya, satu pesan darinya kekasihku. Terasa membuat hari ini secara spontan
membeku seperti dalam lemari es beku. Setelah membaca isi inboknya. Aku sungguh
tidak kuat untuk bertahan sebab setelah berahirnya satu bulan pertama memasuki
bulan ke dua, aku tidak pantas untuknya di tambah sekarang ia bersifat kaya
gitu, mending aku membulatkan tekadku, “Kita sendiri-sendiri sajalah punya
cowok malah tambah pusing.”
Ia
pun membalasan persetujuan “Ouh ya sudah terima kasih.”
Aku
tak pantas untukmu, biarkan sayap-sayap patah ini terbang menemukan tempat
persingghanya, sendiri.
Aku
memilih pisah agar engkau menemukan bidadari yang seimbang dengan amalan yang
telah engkau dapati di pesantren, ku berdoa semoga engkau menemukan bidadari
cinta selama dua puluh empat jam yang bisa menemanimu semenjak proses pacaran
sampai ke pelaminan.
Sedangkan
Aku entahlah. Biarkan aku terus berkelana meraih mimpi dan cita-citaku dan
entah sampai kapan aku berhenti pada sandaran hati yang akan membawaku dalam
biduk istana kecil kebahagian, aku pasrahkan kepada Allah semua pasti
berpasang-pasangannya entah itu sekarang ataupun nanti, entah datang pada waktu
pagi, siang, sore dan malam. Aku pasrahkan sayap-sayap patahku berkelana
menyusuri rerumput rindu.
The end
Linkou, Januari 2015 (24:00) ====>> Titimangsa
Linkou, Januari 2015 (24:00) ====>> Titimangsa



No comments:
Post a Comment