PACAR HALAL
Oleh : Yuhalini
Ribuan detik telah berjalan memutari angka-angka yang silih berganti dari waktu ke waktu tanpa kusadari statusku telah berubah, aku gadis yang bersuami. Usia memakanku untuk terus belajar menjadi istri yang shalehah. Namaku Nila.
"Menikah itu indah ya Bang"
Ku usap rambut suamiku yang tertidur lelap di sampingku, aku terus menatap wajahnya. Sesekali aku kecup keningnya.
"Bang, aku sayang abang, tidak peduli bagaimana rasanya hidup seatap dengan saudara yang lain, selagi abang masih terus bersamaku, menjagaku, aku akan terus bertahan bang. Jangan pernah tinggalin aku bang"
Tanpa kusadari nadaku membangunkan lelapnya.
"Dek, kok belum tidur?"
"Ada apa sayang, sini cerita sama abang ...!"
"Adek terbangun karna rasa haus bang"
Kututupi kegelisahanku, ini bukan akhir dari segalanya. Lambat laun setiap pasangan akan mengalami satu masalah. Masalah itu entah datang dari ekonomi, Pasangan sendiri, Orang lain.
Di awal pernikahanmu, sulit bagiku untuk beradabtasi di lingkungan yang mayoritas adalah perokok.
Kumemang tidak mengengakang suamiku untuk merokok. Tapi kulihat Setiap hari bisa menikmati batangan rokok itu habis sebungkus dalam sehari, bukan dia habiskan sendiri. Melainkan ia menawarkan kepada teman-temanya. Didalam rumah juga seperti warung kopi. Bau khas Kopi dan Asap rokok merasuk ke dasar hidungku.
Andai, aku punya rumah sendiri, menikmati kehidupan baru ini dengan berdua. Tapi saat ini belum mungkin terjadi. Penghasilan kerjaku yang bertahun-tahun tidak aku bawa dalam pernikahanku. Sebab, itu hasil kerja kerasku sendiri bukan kerja bareng suamiku.
Walau begitu, aku tetap mencoba. Untuk bisa menjadi bagian keluarga suamiku. Disini bukan hanya ada aku. Menantu yang lebih dulu dia adik iparku. Mencerita omongan yang membuat aku terus memotivasi untuk terus ingin pisah dari keluarga ini.
"Sayang kenapa kok malas makan?" Tanya suamiku kala orang-orang terlelap tidur
"Adek makan kok Bang"
"Bohong"
"Kan tadi makan bareng Abang"
"Iya tapi sedikit"
Sesak nafas ini, inginku mengadu tapi lidah serasa keram. Ya Allah jadikan lah hamba sebagai istri yang memiliki kelapangan dada, keikhlasan yang penuh, kesabaran yang kuat, untuk menjalani semua bersama suamiku.
***
Akhirnya, kita putuskan untuk merantau ke Jakarta. Walau jauh dari kata mewah, setidaknya hidup kita jauh lebih baik, hati jauh lebih nyaman, pikiran jauh lebih tenang. Karena tak sorangpun yang melukai pikiran kita dengan sindiran halus mampu menelan daging pertumbuhan jasad kita menjadi pikiran hati.
Seperti biasa, Sebelum melakukan aktivitas, menyongsong hari di awali dari shalat subuh, setelah itu membuat sarapan dan menikmati bersama. Kehidupan sederhana seperti ini aku justru bahagia. Terlebih melihat suami yang begitu semangat mencari rizki, lepas sarapan. Suami berpamitan.
Aku baru memulai tugasku sebagai Ibu Rumah Tangga, memastikan. Baju kotor sudah di cuci bersih, di gantung tertiup angin, piring kotor sudah berjajar di atas rak kecil. Gelas dan Sendok kembali berdiri di atasnya. Alas tidur sudah di gulung disudut kamar. Selesai sudah tugasku. Jika suami tak ada dirumah rasa kesepian mulai menyelinap. Menunggu hingga matahari terbenam. Kontrak ini kembali penuh cinta.
Cinta halal, berasa masih pacaran yang tertunda, dengan ikatan kuat seperti ini tak takut lagi di hakimi oleh penista gosip. Ya, patut kita syukuri nikmat dan karunia yang Allah berikan jodoh terbaik buat kita. Semoga cinta kita abadi selamanya. Sampai di akhirat Nanti.
Taiwan, 9 November 2016 (11:10)