Tanggal 19 Februari 2016, menjadi saksi perpisahan antara aku dan keluarga majikan. Setelah kaki ini melangkah sengaja aku tidak menolehnya kebelakang. Aku yakin dengan Bissmillah inilah akhir perjuangan.
Pintu Lift mulai merambat dari lantai ke lantai hingga ke tempat aku berdiri menunggu, bersama majikan pria.
"Siao li. Siesie" biasa majikan wanita memanggilku
aku menolah kearahnya walau dengan berat hati.
"Wo khui Ta tien hua kei Ni" sambil menunjukan tanganku kearah telinga seolah menggenggam gagang telpon. Akupun memasuki lift yang sudah terbuka dan di tekan tombol 'open' oleh majikan priaku.
Hufffttttt...
Di dalam lift hanya ada aku dan Dia, kita diam..
hanya ada isakan tangis yang aku tahan.
"Wo ce tau Ni hen singku, Siesie Ni"
"Pu sielah, Wo hen Nankuo, Likai Nimen. Nimen tui wo neme Hao. Cintien wo yao hui cia Cao wo Mamah"
***
Satu, Dua, Tiga menit terlewati.. ketika detik terakhir melangkah untuk selamanya. Satpam memanggilku.
"Siao Li siao ce ma? , yio tien hua kei Ni."
aku dan majikan pria saling memandang.
"She sei?"
"Jhong Sheci (17) lo"
"Ghe neng she Thai~thai, ching cie pa! " majikan pria mempersilahkan.
"Wei, she Wo Siao Li"
"Sie~sie Ni, Wo pu she pu yao pao ni. Wo pa ni hui Nankuo. Wo ce tau ni cao ku siao beng yio hen lei, Yio she hou tamen tui ni fabici, ni icing ren nai. Sien cai ni yao hui Cia cao Ni fumu. Na.. ni khuai tien hui cia pa.. Sie~sie Ni" 😂
"Wo ye hen gan sie Nimen, nimen rang wo cuo le hen ciu.. wo ye tui pu ci yio she hou ma siao beng yio, Rukuo tao inni wo masang ta tien hua kei ni.. Cai cien" 😂
"Khuai tien na" teriak pak supir yang sudah lama menunggu
Sedangkan majikan pria mendorong koper satunya, karena aku membawa koper dua dan satu ransel.
"Ni i khe ren tai neme tuo sing li khui ma? "
"Khe i, Wo nan pengyio ken wo iji hui cia, women tao feiji jang khui hui he. Ta khui pang mang"
"Na hen hao, cai cien"
"Cai cien, Sienseng sie~sie Ni"
***
Pukul Dua siang waktu Indonesia bagian Barat, Pesawat mendarat, hati senang jiwa bergembira Ria, aku tiba lebih awal. setelah cek paspor di bagian imigrasi lalu aku bergegas mencari dua koper bawaan lalu menunggu Tunanganku yang hampir saja tiba. Harap~harap cemas pengantar do'a semoga Dia selamat.
***
Di luar tempat Parkir, kedua saudara laki~lakiku, Abang dan Adik beserta yang lainnya. sudah tiba entah pukul berapa. Sesekali mereka melihat jam, sesekali fokus dengan handpon nya takut mereka tak mendengar kabar dariku.
***
Sedangkan ibuku sudah sibuk dengan menu masakan untuk menyambut kedatangan Anak gadisnya bersama calon menantu, ia menyiapkan menu sederhana olahan tangan rentanya.
ah aku sudah tidak sabar ingin menikmati masakan ibu, terlihat sejenak dari jauh.. baju batik merah yang ia kenakan sudah terlihat begitu dekat. ia sedang berjalan kearah pengambilan koper, tanpa ragu aku berteriak.
"Ang Triiiiii........i"
Ia melihatku dan kami bersalaman. setelahnya Aku menunggu dengan barang bawaanku, di atas Troli.
***
bersambung