"Bahagia sayang?" tanya suatu ketika sang suami kepada istri tercinta.
"Tentu bahagia Mas" terlihat menutup rona kesedihan di balik wajah teduhnya.
***
"Mas, apakah engkau sudah tidur?"
Memutari tubuh sang suami yang tak seperti biasanya, memeluk hangat tubuh sang istri dalam dinginya malam. Sang suami tidak ingin membuat sang istri jatuh sakit. Ia jadikan selimut hangat semenjak awal telah di 'sah' kan menjadi Kepala Rumah Tangga.
Tetapi beda dengan malam ini. Sang suami tidak memeluknya. Suami bergeming. Sang istri bergitu resah.
"Apakah aku punya salah terhadap suamiku? Ya Allah luruskan semuanya seperti sediakala" batinnya memohon doa. Bagaimanapun dia amat menghargai sang suami.
***
Laju kehidupan begitu amat menyayat hati. Hidup di Taiwan membuat Ayu serba kecukupan dengan hasil kerjanya. Ingin apapun bisa di beli setelah 'gaji' sudah ia dapatkan. Wajar. Tetapi semenjak menikah dan menetap dalam kontrakan tua. Ia memulai ceritanya menjadi Asisten sang suami. Teguran baginya agar hidup berhemat. Berbeda dengan sang suami yang memang sudah terbiasa dalam kesederhanaanya.
"Dek, yang sabar"
"Sabar, sabar, sabar sampai kapan Mas?"
"Istighfar Dek, ini ujian kita. Kita harus mampu melewatinya."
"Pokoknya kita harus balik lagi ke Taiwan. Melanjutkan mimpi kita!"
"Sabar, Mimpi?" suami menegaskan
"Iya, bukankah selepas menikah kita akan kembali lagi?"
Memeluk erat tubuh sang Istri, Jangan sampai ia menjadikan dirinya sebagai Api. ia biarkan istrinya dalam tangis dan kata-kata tetapi pelukan ia tak akan melepasnya. Ia tahu bagaimana menenangkan sang tercinta.
Setelah ia agak reda. Ia memulai wejangan. Membelai hijab istrinya dalam pangkuannya.
"Sayang bolehkan mas bicara"
Dia hanya menganggukan kepala, sebab suaranya nyaris menjadi serak akibat kemarahan syetan.
"Sayang, Sabar itu tidak memiliki batas, karena hidup itu harus menjadi sabar, jika Allah masih memberikan kita nafas, berarti kita harus mau menjalani dengan rasa sabar. Dan Mimpi. Mimpi ada di hati kita, bagaimana kita membuka hati di manapun kita tinggal maka mimpi itu akan mengikutinya berusaha mewujudkan semua. Tinggal bagaimana adek memilih. Adek masih mau mendengar arahan mas?"
"Maafkan mas yang belum bisa memenuhi keinginan Adek Ayu. Mas berusaha untuk menafkahi walau saat ini kita hanya cukup buat makan."
"Maafkan Adek mas, adek hilaf."
"Mas faham, inilah bukti bahwa omongan oranglain jauh lebih 'pedas' biarkan mereka mau ngomong apa terpenting, dalam hati balas dengan doa, semakin adek mengikuti apa kata omongan mereka, adek sendiri yang akan mengahapus kebahagian membuat hidup dirundung masalah. Masalah hanya datang kepada seseorang yang semua perkataan di masukan kedalam otak tanpa di pilih dan pilah mana kata-kata positif dan mana perkataan negatif."
***
Hening ...
***
Hening ...
"Mas, adek sayang Mas, jangan tinggalin adek dalam keadaan apapun"
"Sebaliknya ya sayang. Bantu mas dengan Doa dan Senyum. Bagi mas semangat Mas ada bersama ketika yang tercinta tersenyum."
I Love You.
New Taipei City, 4 Februari 2016 (09:13)
New Taipei City, 4 Februari 2016 (09:13)